Sabtu, 02 Oktober 2010

Mari Merenung dengan Artikel 'Murtad Karena Pacar'

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebuah judul dalam rubrik Konsultasi Keluarga dari Majalah Qiblati...


MURTAD KARENA PACAR

Assalamu’alaikum ww. Berita duka, telah mati (iman dan hati) adik kami Fulanah yang akhirnya murtad masuk suatu agama demi cintanya pada lelaki non-muslim. Banyak nasihat semampu ilmu kami telah kami sampaikan, tapi dia tetap pilih jalannya sendiri. Apa ada jalan keluar sebelum terjadi pernikahan non-Islam? Wassalam.


Ikhwati –semoga Allah merahmati kita semua- kejadian di atas telah terjadi dan benar-benar terjadi atas salah seorang saudara kita. Sedang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Ali Imran (3): 85)
“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" Mereka menjawab: "Benar (telah datang)." Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.” (Q.S. Az-Zumar (39): 71)
Dan... Allah memerintahkan kepada kita

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim (66): 6)

Maka ini adalah jawaban yang diberikan oleh Asy-Syaikh hafidzhahullah yang dapat ana salin hanya sampai analisa beliau. Kemudian ana tulis beberapa pelajaran di bawahnya. Semoga kita bisa mengambil manfaat.

Jawab: Wa’alaikumussalam warahmatullah. Hayyakallah, selamat datang di majalah Qiblati.
Sungguh Engkau telah membuat saya sedih dengan kesedihan besar karena berita menyakitkan ini. Sungguh saya letakkan banyak celaan kepada Anda dan keluarga Anda. Anda semua turut andil dalam menelantarkan putri Anda sekalian, dengan penelantaran yang dengannya nanti dia akan kekal selamanya di dalam neraka Jahannam. Anda sekalian membatasi permasalahan hanya pada kemurtadannya masuk agama lain. Sementara permasalahan pokok bukanlah itu. Mustahil dia masuk agama lain sebelum dia melalui beberapa fase ketelantaran yang Anda biarkan. Kemudian saat kapak sudah mengenai kepala, dan dia masuk Agama lain, kalian terjaga. Sangat disayangkan, Anda sekalian terlambat menjaga.

Tidak mungkin bagi orang yang berakal bisa membenarkan bahwa setelah dia selesai mendirikan shalat shubuh, kemudian dia umumkan keluarnya dia dari Islam dan masuknya dia dalam agama lain.
Tidak mungkin bagi orang yang berakal membenarkan, bahwa setelah dia selesai dari puasa Ramadhan dan qiyamullail di dalamnya lalu mengumumkan keluarnya dia dari Islam dan masuknya dia dalam agama lain.
Tidak mungkin kita bisa percaya, bahwa setelah dia menghadiri majelis taklim, serta berteman dengan teman-teman yang baik lalu mengumumkan keluarnya dia dari Islam dan masuknya dia dalam agama lain.
Jadi, haruslah dia telah melewati fase meninggalkan kajian Islam, meninggalkan shalat, dan ibadah-ibadah lain secara umum hingga dia jauh sama sekali dari Allah. Kemudian, setelah itu, di bawah pengaruh perasaan dan kecintaannya kepada pacar beragama lain, dia memutuskan untuk masuk agama tersebut karena dari asalnya dia memang tidak konsisten dengan ajaran-ajaran Islam.
Maka Anda sekalian, sungguh disayangkan, telah meremehkan jauhnya dia dari agama. Anda juga telah meremehkan jauhnya dia dari akhlaq mulia dengan memberikannya kebebasan untuk berkenalan dan berteman bahkan berpacaran dengan orang yang seperti itu. Maka inilah hasil memilukan yang kita berikan ucapan selamat kepada orang-orang pemeluk agama tersebut akan masuk Islamnya gadis yang tidak tahu sama sekali agamanya ini, dan sebaliknya kami harap mereka memberikan selamat kepada kita, karena masuk Islamnya ulama-ulama mereka ke dalam Islam. Inilah perbedaan antara Islam dan agama tersebut.
Sesungguhnya saya, wahai saudaraku, dengan ucapanku ini, berkata sedikit keras kepada Anda dan juga kepada keluarga Anda. Karena di sana juga terdapat banyak keluarga yang melewati cobaan seperti cobaan Anda sekalian dalam keteledoran. Maka saya ingin agar semuanya terbangun. Cukuplah sekali tidur, cukup sekali keteledoran, dan cukup sekali penelantaran.
Sesungguhnya saya akan menjawab Anda, dan saya mengkhawatirkan para da’i yang saya adalah bagian dari mereka, kami akan dihisab di hadapan Allah atas keteledoran kami sehingga saudari Anda terlantar seperti itu. Maka di manakah peran kami dalam memberikan pengaruh kepada masyarakat? Jika ini adalah apa yang kami rasakan, maka bagaimana pula dengan Anda dan keluarga Anda pada hari Anda sekalian berdiri di hadapan Allah?!
Saudaraku yang mulia.
Sekarang mari kita tinggalkan masa lalu yang wajib bagi kita untuk bisa mengambil pelajaran darinya. Hendaknya sekarang kita berfikir bagaimana mengembalikan saudari kita ini kepada himpunan Islam. Sesungguhnya ini, sebagaimana ini adalah tanggung jawab saya, dan tanggung jawab ulama di daerah Anda, maka hal ini juga tanggung jawab Anda, hendaknya kita semua menanggung tanggung jawab ini bersama-sama.
Betapa saya berangan-angan, seandainya Anda meminta bantuan kepada para da’i di daerah Anda sejak awal. Agar mereka turut andil bersama Anda dalam menyelesaikan permasalahan yang sulit ini. Terutama mereka yang memiliki ilmu luas dari sisi syar’i, juga memiliki pemahaman dalam hal bagaimana bermuamalah dengan kondisi seperti ini, serta mengetahui pokok-pokok ajaran agama tersebut. Hal ini biasanya di atas kemampuan Anda.
Sekarang, musibah telah terjadi, wajib bagi kita semua untuk memahami beberapa perkara penting dalam mendiagnosa permasalah ini agar kita bisa menentukan obatnya, yaitu:
Sesungguhnya kepindahan seorang manusia dari agama bukanlah perkara yang mudah. Itu bukanlah satu keputusan ringan yang mungkin seorang untuk mengambilnya begitu saja tanpa sebab-sebab yang dia lihat dari sisi pandangnya yang dia menjadi puas. Lalu jadilah perkara itu sebagai pendorong kuat menuju keputusan untuk berpindah dari agamanya. Berdasarkan hal ini, tidak benar sama sekali kita bermuamalah dengan seorang manusia yang telah melewati kondisi ini tanpa berusaha merenungan sebab-sebabnya dengan bentuk jelas dan konkrit, agar memungkinkan bagi kita untuk berfikir di jalannya demi mengobatinya, serta menentukan paling baik dalam bermuamalah dan mendakwahinya.
Saudari Anda, tidak akan masuk agama tersebut hanya sekedar karena ingin menikah dari seorang penganut agama tersebut saja. Bahkan harus ada beberapa faktor kuat yang mendorongnya untuk pindah agama. Kadang laki-laki dari golongan pemeluk agama tersebut itu memberikan beberapa syubhat kepadanya akan agama Islam yang kemudian menggoncangkan kepercayaannya kepada agamanya. Kemudian dia menjelaskan kepadanya akan ajaran-ajaran agama tersebut yang di dalamnya dia bisa bebas dari ikatan agama yang mengikatnya dengan berbagai macam ibadah. Dikarenakan bebas dari keistiqamahan ibadah sesuai dengan kondisi yang dia alami di masa Islamnya yang tidak konsisten dengan shalat dan ibadah-ibadah lain. Oleh karena itulah dia menemukan kebebasan dari ikatan ibadah harian yang sesuai dengan kehidupannya. Maka jadilah hal itu termasuk sebab-sebab yang turut andil dalam rangka dia meninggalkan agamanya lalu masuk agama tersebut.
Kadang, bukan hanya pacar berbeda agamanya yang mempengaruhi, kadang juga terhadap pengaruh-pengaruh lain yang kita tidak mengetahuinya, apakah dari orang lain, atau teman-teman wanita yang jelek, atau juga buku-buku yang mendiskreditkan Islam. Barangkali salah satu faktor inilah yang mempengaruhi dan membantu keluarnya dia dari agamanya.
Sesungguhnya, seorang manusia yang lemah pondasinya, serta sedikit pengetahuan terhadap agamanya, dengan tabiat seperti itu, dia tidak akan bisa berpegang dengan kuat di hadapan perdebatan apa pun dari agama lain yang bagus permainannya dengan menggunakan akal, logika dan filsafat. Yang hal itu menjadikannya meragukan agamanya. Jika tidak ada seseorang yang membantunya, maka dia akan meninggalkan aqidahnya, bisa kepada atheis, atau juga kepada agama orang yang turut andil dalam membuatnya ragu, lalu dia pun meninggalkan fitrahnya yang lurus, kepada aqidah lain yang rusak, batil,lagi sesat.
Lalu, tambahan itu semua, saudari Anda mendapatkan pendorong untuk mengubah agamanya demi memenuhi keinginannya untuk menikah dengan seorang pemeluk agama tersebut yang Islam telah melarang dan mengharamkan pernikahan ini.
Termasuk perkara yang dikukuhkan adalah bahwa terdapat keterputusan hubungan antara saudari Anda dengan masyarakat. Telah hilang perasaan hubungan, dan kasih sayang antara dia dengan anggota masyarakat muslim yang dia hidup di dalamnya. Sebaliknya, barangkali dia mendapatkan masyarakat baru, yang membuat-buat ajaran bagus, kokoh dengan berbagai jalan yang tersusun rapi. Di mana masyarakat baru itu turut andil mengeluarkannya dari Islam, agama Allah yang haq kepada agama batil.
Inilah analisa kejiwaan yang wajib bagi kita untuk memahaminya, sementara kita mengambil permasalahan yang wajib bagi kita untuk bersungguh-sungguh dalam menyelesaikannya semampu kita, dan taufik hanyalah dari Allah. Kita ambil sebab-sebab hidayah dan perbaikan, kita curahkan segenap upaya dalam melakukan perubahan dan memberikan petunjuk. Kemudian kita tinggalkan buahnya untuk Allah.
“Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.” (Q.S. Yasin (36): 17)
Maka saya memohon taufik kepada Allah bagi kami, Anda, baginya, serta bagi seluruh kaum muslimin.
Ada pun beberapa hal yang bisa ana ambil pelajarannya:

1. Seringkali kita baru sadar akan bahaya yang menimpa ketika bahaya tersebut tepat di hadapan kita. Ini adalah bahaya dari kelalaian kita, menelantarkan orang dekat atau diri kita sendiri jauh dari beragama. 

2. Jangan meremehkan apalagi tidak berusaha melakukan ibadah-ibadah sunnah, berusahalah mencari sebab-sebab terjaganya agama kita seperti mengikuti kajian dan mencari teman-teman yang baik. Yang walau kita kadang merasa tidak pas dengan mereka, jangan putuskan silaturrahmi dan meminta nasehat.

3. Jagalah akhlaq. Akhlaq mulia harus diperhatikan. Termasuk dalam pertemanan yang kita sering bersenda gurau, akhlaq tetap harus dijunjung.

4. Dekatlah dengan para ustadz dan alim ulama, serta minta dari mereka nasehat dan bantuan.

5. Walau pun dengan orang yang berbeda agama, kita tetap harus bermuamalah dengan baik tapi dengan tetap memperhatikan batasan-batasan.
Begitu pula dengan orang yang sudah masuk agama lain dan masih kita harapkan dia kembali, kita harus bermuamalah dengan mereka dengan cara yang hikmah.

6. Waspadai syubhat-syubhat yang dapat menggoncangkan iman yang lemah, oleh karena itu menuntut ilmu syar’i pun harus menjadi agenda kita. Dengan ilmulah kita tahu mana-mana yang syubhat dan betapa lemahnya syubhat-syubhat tersebut.

(Isi artikel dari majalah Qiblati 12 bulan Syawal 1431 H dengan agak banyak perubahan dan tambahan)

Sabtu, 25 September 2010

Sisi Lain Seorang -Pemuka Ahli Hadits Abad Ini- Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy

بسم الله الرحمن الرحيم

Syaikh al-Albâni rahimahullah (wafat tahun 1420 H), pemuka ulama hadits abad ini, juga memberikan perhatian besar terhadap para pemuda. Dikatakan oleh Syaikh DR. ‘Abdul ‘Aziz as-Sadhan bahwa banyak momen penting yang beliau lalui bersama para remaja. Di sini, akan ditampilkan bagaimana kesabaran beliau dalam meladeni kaum muda yang telah terkena virus takfir (mudah mengkafirkan orang), mematahkan syubhat-syubhat (kerancuan landasan pemikiran) mereka. Berikut ini kisahnya:



Syaikh Dr. Basim Faishal al-Jawabirah hafizhahullah mulai berkisah: “…Saat itu aku masih belajar di jenjang SMA. Bersama beberapa pemuda, kami mengkafirkan kaum muslimin dan enggan mendirikan sholat di masjid-masjid umum. Alasan kami, karena mereka adalah masyakarat jahiliyah. Orang-orang yang menentang kami, selalu saja menyebut-nyebut nama Syaikh al-Albâni rahimahullah, satu-satunya orang yang mereka anggap sanggup berdialog dengan kami dan mampu melegakan kami dengan argumen-argumen tajamnya serta mengembalikan kami ke jalan yang lurus.



Ketika Syaikh datang ke Yordania dari Damaskus, beliau diberitahu adanya sekelompok pemuda yang seringkali mengkafirkan kaum muslimin. Lantas mengutus saudara iparnya, Nizhâm Sakkajha – kepada kami untuk menyampaikan keinginan beliau untuk berjumpa dengan kami.



Dengan tegas kami jawab: “Siapa yang ingin berjumpa dengan kami, ya harus datang, bukan kami yang datang kepadanya”.



Akan tetapi, Syaikh panutan kami dalam takfir memberitahukan bahwa al-Albâni rahimahullah termasuk ulama besar Islam, ilmunya dalam dan sudah berusia tua. Ia pun mengarahkan supaya kami lah yang mendatangi beliau.



Lantas kami pun mendatangi beliau di rumah iparnya, Nizhâm , menjelang sholat Isya. Tak berapa lama, salah seorang dari kami mengumandangkan adzan. Setelah iqamah, Syaikh al-Albâni rahimahullah berkata:



“Kami yang menjadi imam atau imam sholat dari kalian?”.



Syaikh kami dalam takfir berujar:



“Kami meyakini Anda seorang kafir”



Syaih al-Albâni rahimahullah menjawab: “Kami masih yakin kalian orang-orang beriman (kaum Muslimin)”.



Syaikh kami akhirnya memimpin sholat. Usai sholat, Syaikh al-Albâni rahimahullah duduk bersila melayani diskusi dengan kami sampai larut malam. Syaikh kami lah yang berdialog dengan Syaikh al-Albâni rahimahullah. Sedangkan kami dalam rentang waktu yang lama itu, sesekali berdiri, duduk lagi, merentangkan kaki dan berbaring. Anehnya, kami lihat Syaikh al-Albâni rahimahullah tetap dalam posisi awalnya, tidak berubah sedikit pun, meladeni argumen beberapa orang. Saat itu, aku benar-benar takjub dengan kesabaran dan ketahanan beliau!!



Kemudian, kami masih mengikat janji untuk berjumpa lagi dengan beliau keesokan hari. Sepulangnya kami ke rumah, kami mengumpulkan dalil-dalil yang menurut kami mendukung takfir yang selama ini kami lakukan. Syaikh al-Albâni rahimahullah hadir di salah satu rumah teman kami. Persiapan buku dan bantahan terhadap Syaikh al-Albâni rahimahullah telah kami sediakan. Pada kesempatan kedua ini, dialog berlangsung setelah sholat Isya` sampai menjelang fajar menyingsing.



Perjumpaan ketiga berlangsung di rumah Syaikh al-Albâni rahimahullah. Kami berangkat ke rumah beliau setelah Isya. Dialog pada hari ketiga ini berlangsung sampai adzan Subuh berkumandang. Kami mengemukakan banyak ayat yang memuat penetapan takfir secara eksplisit. Begitu pula, hadits-hadits yang mengandung muatan sama yang menetapkan kekufuran orang yang berbuat dosa besar. Setiap kali menghadapi argumen-argumen itu, Syaikh al-Albâni rahimahullah dapat mematahkannya dan justru ‘menyerang’ balik dengan membawakan dalil yang lain. Setelah itu, beliau mengakomodasikan dalil-dalil yang tampaknya saling bertolak belakang itu, menguatkannya dengan keterangan para ulama Salaf dan tokoh-tokoh umat Islam terkemuka di kalangan Ahlus Sunnah wal jawamah.



Begitu adzan Subuh terdengar, sebagian besar dari kami bergegas bersama Syaikh al-Albâni rahimahullah menuju masjid untuk menunaikan sholat Subuh. Kami telah merasa puas dengan jawaban Syaikh al-Albâni rahimahullah tentang kesalahan dan kepincangan pemikiran yang sebelumnya kami pegangi. Dan saat itu juga kami melepaskan pemikiran-pemikiran takfir tersebut, alhamdulillah. Hanya saja, ada beberapa gelintir dari kawan kami yang tetap menolaknya. Beberapa tahun kemudian, kami mendapati mereka murtad dari Islam. Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kepada keselamatan”



Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kemudahan bagi kita sekalian untuk mengambil pelajaran dari sejarah ulama Islam.



Diadaptasi dari al-Imâm al-Albâni, Durûs Wa Mawâqif Wa ‘Ibar hal Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Muhammad bin ‘Abdullah as-Sadhân Dârut Tauhîd Riyadh Cet I, Th 1429H-2008M, hal155-158



[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XII/1430H/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]



http://www.almanhaj.or.id/content/2760/slash/0

Selasa, 10 Agustus 2010

Pertanyaan Iseng untuk Mbah

بسم الله الرحمن الرحيم

Dari Jepretan
Assalamu'alaikum :D

Di Kebumen ana banyak refreshing karena masih banyak hijau-hijauan menghampar. Apalagi suatu haru ana pernah minta jalan agak ke atas berama Mbah. Di atas, ana melihat bukit lain di kejauhan yang terselimuti kabut. Malam harinya juga indah. Bintang-gemintang di langit terlihat lebih banyak dan lebih indah dari pada di Bekasi (iyalah!). Ana berniat mengambil gambar langit di waktu shubuh tapi sayang tidak ada kamera yang pas.

Hmm, selain itu dan berkumpul bersama Mbah dan kerabat ndak ada yang istimewa untuk diceritakan, kecuali...

Sebuah ide iseng terlintas di benak ana yang dahulu pernah muncul. Dahulu ide ini ditujukan untuk orang tua ana, tapi jadi penasaran gimana kalo ditujukan ke Mbah.

So, ide isengnya adalah: minta diceritakan bagaimana Mbah Putri bertemu Mbah Kakung dahulu, haha!

Dan seperti sudah ana duga sebagaimana permintaan ini ana tujukan ke orang tua ana dahulu, pembukaan dari yang ditanya adalah sebuah tawa renyah. Entah apakah tawa tersipu malu, tawa gembira karena bisa menyampaikan kisah indah mereka yang layak dibagi, atau tertawa karena keluguan sang penanya (gak mungkin).

Lalu Mbah Putri bercerita bagaimana waktu dahulu sebagai anak perempuan, banyak juga laki-laki yang tertarik dengan beliau. Setelah mencapai usia siap untuk menikah, Orang tua beliau (Mbah Buyut ana) ndak ingin Mbah Putri diboyong suaminya kelak ke kota lain. Harus di Krakal. Oleh karena itu ada beberapa lamaran yang ditolak.

Kemudian Mbah Kakung bercerita bahwa pertama kali beliau melihat Mbah Putri itu ketika sedang berada di sebuah kantin yang Mbah Putri sebagai pelayannya.

Selanjutnya sampai bagaimana Mbah Kakung datang melamar Mbah Putri ndak mereka ceritakan. Yah, sebagaimana orang tua lainnya yang sayang kepada cucu, mereka menambahkan nasehat tentang cinta kepada cucunya ini :)

Bahwa dahulu sebelum menikah Mbah Putri ndak pernah senggolan sekali pun dengan laki-laki yang bukan mahram. Ndak seperti sekarang yang serba bebas...

Ana pikir memang demikian. Terlalu mudah menyikapi cinta. Sehingga dengan mudahnya mereka menyatakan kemudian memulai sebuah 'hubungan'. Karena gak matang menyikapinya pula sekarang lebih banyak dan sering terjadi masalah yang kemudian masalah itu dianggap enteng dalam pernikahan. Wallahu A'lam...

Tentang cinta ini, ana suka kasihan oleh status-status atau tweet-tweet yang merasakannya. Curhatan tentang keadaan mereka yang dibikin gelisah oleh cinta...

Kadang ana suka seneng melihat status mereka yang mengindikasikan 'bangkit'nya mereka dari rasa gelisah. Tapi kadang suka tiba-tiba menulis bahwa mereka kembali diterpa gelisah.

Hmm, padahal menurut ana cinta sejati adalah salah satu sumber kebahagiaan dan kekuatan motivasi dalam hidup.

Entahlah, tapi klo mau nasehat tentang cinta, ana ada beberapa saran. Coba klik link ini:

Bila cinta menyapa

Cinta Sejati

Senin, 02 Agustus 2010

Jogja!!!

بسم الله الرحمن الرحيم

Dari Jepretan


Assalamu'alaikum. Alhamdulillah sekarang ana udah di Jogja. Belum pindah, sih. Ana ke sini hanya untuk tes AAI atau Asistensi Agama Islam. Tapi bukan berarti ana balik lagi sehabis tes. Ana bakal ke Kebumen, rumah Mbah sembari nunggu Ayah dan Ibu datang.

Manja?

Ya, ana rasa. Tapi bagaimana lagi karena mereka juga yang meminta seperti demikian.

Alhamdulillah ana mendapat suasana yang enak.

Pagi sebelum berangkat ana menengok sekolah sekalian mengantar buku untuk seseorang yang ana kenal di IEC lalu dia ternyata masuk sekolah SMA tempat ana juga. Udah lumayan lama gak ketemu. Pas nyampe gerbang tiba-tiba ana dengar dia manggil nama ana. Hmm, sesaat ana kira mungkin dia siswa kelas dua atau tiga yang sudah kenal ana. Tapi anak kelas dua atau tiga yang kenal ana laki-laki semua. Ana juga rada pangling ngeliat dia pake kerudung. Di IEC dia gak pernah make kerudung dan penampilannya rada tomboy soalnya. Karena itu setelah sadar dan mengenali pun ana jadi agak susah ngomong.

Tapi pas dia manggil ana serasa udah kenal lama dan ngerasa (entah bener atau karena GR) dalam panggilannya itu untuk orang yang kenal lama juga. Entahlah.

Setelah menyerahkan bukunya ana langsung pergi ke stasiun. Rame juga. Mungkin karena hari kerja. Gak ada yang istimewa sepanjang perjalanan kecuali ana ketemu Kakak Alumni SMA yang mau mendaftar UGM. Namanya Kak Utomo. Subhanallah, ana kaget! Walau sebenarnya sehari sebelumnya udah ngobrol tentang akan kepergian beliau ke Jogja, tapi ana gak nyangka sekereta dengan beliau apalagi hanya beda satu gerbong. Setelah itu kami ngobrol beberapa saat. Orangnya semangat, hehe.

Ohya, dalam perjalanan ini ana menjama' sholat dzuhur dan ashar di waktu dzuhur. Dahulu ana penah bepikir bahwa lebih utama sholat di waktunya termasuk ketika berada di atas kendaraan. Ternyata Rasulullah memang pernah sholat di atas kendaraan tapi tidak untuk sholat wajib. Jadi untuk sholat wajib lebih baik jika kita mendapatkan waktu luang sebelum naik atau setelah turun kendaraan untuk menjama' antara dua sholat di waktu yang kita bisa.

Sekian dulu. Ana mau nyari makan dulu! Hehe. Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh!!!