Tampilkan postingan dengan label Mencoba memperkuat iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mencoba memperkuat iman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Agustus 2011

"Tadi jatoh kayaknya pertanda sial..."

بسم الله الرحمن الرحيم

Woi. Ane mengalami beberapa kesedihan. Banyak sih, tapi yang dibahas di sini ada tiga. Pertama, temen yang ane anggep temen terbaik pas SD baru saja mengalami kecelakaan. Tangan dan kakinya patah dan bahkan infonya ginjalnya sobek. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Selain itu, senior ane di organisasi juga sakit. Padahal Beliau kemaren-kemaren cerita ke ane tentang rasa sakitnya yang bikin dia selalu memuntahkan kembali hidangan yang di makan. Padahal dia juga puasa. Trus akhirnya hari kemaren gak ke sekre dan malem tadi dirawat di RS PKU Muhammadiyah Jogja.

Tolong doanya untuk mereka, juga saudara-saudara kita lainnya yang tengah tertimpa musibah di belahan dunia mana pun.

Udah gitu, kemaren sore ane juga sempet ketabrak pas ngendarain motor. Mana lagi bonceng temen. Kesalahan ane sih.

Nah, entah kenapa karena tiga hal ini tiba-tiba perasaan ane jadi gak enak. Langsung ada was-was, jangan-jangan pas ane jatoh, ada kerabat atau temen yang kenapa-napa. Allahumma nas alukal ‘afwa wal ‘afiyah.

Rasa was-was ane ini yang mau ane obrolin. Rasa yang kayaknya timbul karena pas kecil sering ngikut Ibu nonton sinetron. Di sinetron suka ada kan, ketika pemeran utama ngalamin kecelakaan, pada saat yang sama entah kenapa di scriptnya pasangan si pemeran utama juga ngalamin kecelakaan kecil kayak tangannya kena piso mas motong-motong lah, atau yang semisal. Itu bikin kita jadi suka ngehubung-hubungin antarkejadian yang padahal gak saling berhubungan. Atau mungkin bisa dibilang, suka nganggep kejadian itu sebagai pertanda sial.

Trus kenapa? Karena ternyata dalam Islam ini ada pembahasan sendiri. Inilah yang disebut dengan tathayyur atau thiyarah.

Bagi yang telah terjatuh dalam tathayyur atau thiyarah ini, ternyata dianjurkan membaca sebuah doa.

Apa itu tathayyur? Dan bagaimana doanya? Ternyata sudah banyak yang membahasnya, jadi ane copas plus ane sertakan sumbernya. Monggo...

Spoiler:

Berapa nomor rumah Anda? Hah, 13???

Eh, kamu kan masih perawan, nggak boleh duduk di depan pintu, nanti susah dapat jodoh

Sebentar lagi akad nikah, kamu nggak boleh keramas dulu, nanti bisa turun hujan, kacau kan acaranya nanti..

Jangan duduk di bantal, sayang, nanti bisa bisulan

Jangan melangkahi padi, nanti bisa celaka kamu!

Jangan makan yang asam-asam setelah magrib, nanti ditinggal mati ibu lho..




Dulu, ketika saya tinggal di desa, saya mengira bahwa yang namanya tathayyur (yang lebih dikenal di Indonesia dengan nama pamali dan semisalnya) itu hanya dipercayai orang-orang pedesaan atau mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan yang rendah. Namun, anggapan itu ternyata 1000 % salah. Sebab, banyak pula orang yang tinggal di perkotaan dan orang yang memiliki latar belakang akademis yang tinggi, percaya juga dengan yang seperti itu.

Di antaranya seorang artis terkenal di ibu kota (tak perlu saya sebutkan namanya).

“Kata orang tua, kalau cari cowok jangan yang beda 6 tahun..” tutur artis itu, “Sebenarnya nggak mau percaya. Tapi karena sudah dengar dari orang tua, jadi mau nggak mau terpengaruh juga. “

Lantas apa konsekuensi dari kepercayaannya itu? ia berkata, “Jadi mau seganteng apapun cowok itu, begitu tahu beda umurnya 6 tahun, aku langsung ilfil”

Ironis. Dengan statusnya sebagai publik figur yang pernah mengecap dunia akademis di suatu sekolah tinggi bertaraf internasional, bisa-bisanya ia percaya dengan yang seperti itu. Kemajuan teknologi di era internet dengan segenap inovasi yang begitu cepat dan memukau, ternyata tak cukup untuk menghapus keyakinan yang sama sekali tak bisa dicerna oleh akal sehat. Tathayyur memang masih menjadi konsumsi (sebagian) masyarakat.

Apa Itu Tathayyur?

Thiyarah/Tathayyur secara bahasa berasal dari kata طير (burung). Karena, orang Arab jahiliyyah dulu bisa pesimis dan optimis disebabkan burung. Ketika akan bepergian, mereka melepaskan burung dahulu. Kalau burung itu terbang arah kanan, mereka pun optimis dan jadi berangkat. Tapi kalau burung itu terbang ke arah kiri, mereka pun pesimis dan membatalkan kepergian, karena mereka yakin akan datang kesialan.

Adapun secara istilah, Tathayyur adalah sikap pesimis terhadap sesuatu yang didengar atau dilihat atau diketahui. Seperti keyakinan orang Arab dulu terhadap burung hantu. Jika mereka mendengar suara burung hantu, mereka yakin kalau itu pertanda akan ada orang yang akan mati. Dan juga keyakinan mereka bahwa bulan Shaffar adalah bulan sial. Begitu pula Syawwal. Tersebar di kalangan Arab dahulu bahwa wanita yang menikah di bulan syawal tidak akan bahagia dan tidak pula dicintai suaminya. Padahal ibunda kita, Aisyah رضي الله عنها Menikah dengan Nabi صلى الله عليه وسلم di bulan syawal dan dicampuri pula pada bulan itu pula, lantas bagaimana keadaannya setelah menikah? Ia berkata, “Siapakah di antara kalian yang lebih beruntung dariku?” (HR. Muslim: 1423)

Dan masih banyak lagi contoh thiyarah yang beredar di antara mereka.

Adapun di zaman sekarang? Tak terhingga sepanjang masa. Tinggal anda kumpulkan data-datanya lalu serahkan ke KPK (Komisi Pemberantasan Kesyirikan), biar mereka yang mengusut semua itu lalu menangkap para tersangkanya.

Apa Hukum Thiyaroh?

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik
Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata, “Dan tiada seorangpun dari kita kecuali (merasakannya). hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya”. (HR Abu Daud: 3910)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda; “
Siapa yang mengurungkan hajatnya karena thiyarah, berarti ia telah berbuat syirik
” (HR Ahmad: 7045)

Dari dua hadits di atas Rasulullah صلى الله عليه وسلم menegaskan bahwa thiyaroh adalah syirik. Lantas syirik apakah itu? Syirik besar atau kecil?

Perlu dirinci:

1. Jika seseorang meyakini bahwa sesuatu yang ia anggap sial itu memang membawa kesialan dengan sendirinya, tanpa ada andil dari Allah عز وجل sedikitpun, otomatis terjerumuslah ia ke dalam syirik akbar. Lantas apa konsekuensinya jika ia terjatuh ke syirik akbar? Bisa lihat di sini.

2. Jika seseorang meyakini bahwa sesuatu yang ia anggap sial itu hanya sekedar sebab kesialan saja, sedangkan yang menentukan adalah Allah عز وجل, otomatis terjerumuslah ia ke dalam syirik ashghar (kecil)

Dan meskipun syirik ini dikategorikan kecil, bukan berarti konsekuensinya kecil. Sebab, dampak kerusakannya besar pula. Mau tahu apa itu dampak kerusakannya? Lihat ini.

Obat Dari Tathayyur

Siapa sih di antara kita yang tidak lepas dari tathayyur? Kita tentu pernah dalam suatu waktu, sedikit-banyak, merasa pesimis ketika menghadapi suatu masalah yang menerpa kita. Kalau sekedar sampai sini sih, ‘mending’. Tapi masalahnya, kadang setelah itu muncul di hati kita ‘tuduhan’ terhadap benda atau orang tertentu (yang sebenarnya tak ada kaitannya dengan masalah kita menurut akal sehat) sebagai penyebabnya.

Kok hari ini sial sekali ya… Jangan-jangan gara-gara tadi nabrak kucing

Setelah dia deket ke aku, kok aku jadi sial terus ya..


Ibnu Mas’ud رضي الله عنه, seorang shahabat mulia yang ketakwaannya yang tidak diragukan saja pernah mendapati pada dirinya tathayyur, apalagi kita tentunya?

Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata, “Dan tidaklah seorangpun dari kita kecuali (merasakan tathayyur). “

Akan tetapi, bukan berarti ia menganjurkan kita untuk pasrah saja membiarkan tathayyur menguasai jiwa dan hati kita, melainkan, “Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya. ” Demikianlah Ibnu Mas’ud رضي الله عنه memberikan obat bagi penyakit itu, yaitu dengan tawakkal kepada Allah.

Selain itu, ada lagi obat yang telah disebutkan Nabi kita صلى الله عليه وسلم untuk mengobati tathayyur itu, yaitu apa yang beliau sabdakan, “Siapa yang mengurungkan hajatnya karena thiyarah, berarti ia telah berbuat syirik”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa penebusnya?” Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Hendaklah berkata:

“اللهم لاخير إلا خيرك ولاطير إلا طيرك ولا إله غيرك ”

(Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, tidak ada kesialan, kecuali dari-Mu, tiada yang berhak diibadahi selain-Mu) (HR Ahmad: 7045)
Ya, doalah dengan yang beliau sebutkan.

Kalau begitu, ketika Anda hendak bepergian di pagi hari dan baru saja keluar rumah, tiba-tiba Anda melihat orang cacat berlalu di depan Anda, jika timbul rasa waswas di hati, berdoalah dengan doa di atas. Lalu ketika Anda telah mengendarai kendaraan tiba-tiba kendaraan Anda menabrak kucing, jika terlintas di pikiran Anda akan terjadi apa-apa, acuhkanlah dan berdoalah dengan doa di atas. Lalu setelah Anda tiba di tujuan. Ternyata rumah yang anda tuju itu bernomor 13, lalu timbul kekhawatiran di hati, acuhkanlah dan berdoalah dengan doa di atas. Begitu pula dalam perkara lainnya

ولله الحمد….

Jakarta, 14 Sya’ban 1432/15 Juli 2011

anungumar.wordpress.com

(Sumber: "Kesialan" Ada di mana-mana)

Ohya. Tapi dulu Nabi kita صلى الله عليه وسلم pernah lo ketika berpergian lalu di depannya ada dua jalan, lalu disebutkan nama masing-masing jalan, Beliau صلى الله عليه وسلم memilih nama jalan yang artinya baik, bukan jalan lainnya yang namanya buruk. Apakah ini thiyarah juga?

Jawabanya? Monggo lagi...

Spoiler:

(...)Dari Anas -radhiallahu ‘anhu- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ

“Tidak ada ‘adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah. Dan yang menakjubkanku adalah al-fa’lu yang baik yaitu kalimat yang baik.” (HR. Al-Bukhari no. 5756 dan Muslim no. 2224)(...)

(...)Adapun contoh al-fa`lu misalnya seseorang mendapatkan sebuah masalah, lalu ketika dia berpikir akan jalan keluarnya, tiba-tiba temannya yang bernama Sahl datang, dan Sahl maknanya adalah kemudahan. Ketika Sahl datang, diapun berharap kepada Allah semoga masalahnya menjadi mudah, tapi harapannya ini muncul karena datangnya Sahl, temannya. Maka dari penggambaran di atas kita bisa melihat bahwa al-fa`lu yang disenangi oleh Rasulullah -alaihishshalatu wassalam-, tidak ada di dalamnya ketergantungan hati kepada selain Allah Ta’ala. Bahkan yang ada adalah hati bertambah semangat dan menguat untuk mewujudkan apa yang dia inginkan, tatkala dia mendengar atau melihat sesuatu yang menyenangkan. Jadi, thiyarah merupakan kesyirikan kepada Allah, sementara al-fa`lu adalah ibadah raja` (harapan) dan husnuzhzhan (berprasangka baik) kepada Allah Ta’ala.(...)

(Sumber: Tathayyur (Pamali) Adalah Syirik)

Masih bingung? Hm, silahkan cari sendiri aja deh.




Semoga bermanfaat!

Sabtu, 02 Oktober 2010

Mari Merenung dengan Artikel 'Murtad Karena Pacar'

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebuah judul dalam rubrik Konsultasi Keluarga dari Majalah Qiblati...


MURTAD KARENA PACAR

Assalamu’alaikum ww. Berita duka, telah mati (iman dan hati) adik kami Fulanah yang akhirnya murtad masuk suatu agama demi cintanya pada lelaki non-muslim. Banyak nasihat semampu ilmu kami telah kami sampaikan, tapi dia tetap pilih jalannya sendiri. Apa ada jalan keluar sebelum terjadi pernikahan non-Islam? Wassalam.


Ikhwati –semoga Allah merahmati kita semua- kejadian di atas telah terjadi dan benar-benar terjadi atas salah seorang saudara kita. Sedang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Ali Imran (3): 85)
“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" Mereka menjawab: "Benar (telah datang)." Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.” (Q.S. Az-Zumar (39): 71)
Dan... Allah memerintahkan kepada kita

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim (66): 6)

Maka ini adalah jawaban yang diberikan oleh Asy-Syaikh hafidzhahullah yang dapat ana salin hanya sampai analisa beliau. Kemudian ana tulis beberapa pelajaran di bawahnya. Semoga kita bisa mengambil manfaat.

Jawab: Wa’alaikumussalam warahmatullah. Hayyakallah, selamat datang di majalah Qiblati.
Sungguh Engkau telah membuat saya sedih dengan kesedihan besar karena berita menyakitkan ini. Sungguh saya letakkan banyak celaan kepada Anda dan keluarga Anda. Anda semua turut andil dalam menelantarkan putri Anda sekalian, dengan penelantaran yang dengannya nanti dia akan kekal selamanya di dalam neraka Jahannam. Anda sekalian membatasi permasalahan hanya pada kemurtadannya masuk agama lain. Sementara permasalahan pokok bukanlah itu. Mustahil dia masuk agama lain sebelum dia melalui beberapa fase ketelantaran yang Anda biarkan. Kemudian saat kapak sudah mengenai kepala, dan dia masuk Agama lain, kalian terjaga. Sangat disayangkan, Anda sekalian terlambat menjaga.

Tidak mungkin bagi orang yang berakal bisa membenarkan bahwa setelah dia selesai mendirikan shalat shubuh, kemudian dia umumkan keluarnya dia dari Islam dan masuknya dia dalam agama lain.
Tidak mungkin bagi orang yang berakal membenarkan, bahwa setelah dia selesai dari puasa Ramadhan dan qiyamullail di dalamnya lalu mengumumkan keluarnya dia dari Islam dan masuknya dia dalam agama lain.
Tidak mungkin kita bisa percaya, bahwa setelah dia menghadiri majelis taklim, serta berteman dengan teman-teman yang baik lalu mengumumkan keluarnya dia dari Islam dan masuknya dia dalam agama lain.
Jadi, haruslah dia telah melewati fase meninggalkan kajian Islam, meninggalkan shalat, dan ibadah-ibadah lain secara umum hingga dia jauh sama sekali dari Allah. Kemudian, setelah itu, di bawah pengaruh perasaan dan kecintaannya kepada pacar beragama lain, dia memutuskan untuk masuk agama tersebut karena dari asalnya dia memang tidak konsisten dengan ajaran-ajaran Islam.
Maka Anda sekalian, sungguh disayangkan, telah meremehkan jauhnya dia dari agama. Anda juga telah meremehkan jauhnya dia dari akhlaq mulia dengan memberikannya kebebasan untuk berkenalan dan berteman bahkan berpacaran dengan orang yang seperti itu. Maka inilah hasil memilukan yang kita berikan ucapan selamat kepada orang-orang pemeluk agama tersebut akan masuk Islamnya gadis yang tidak tahu sama sekali agamanya ini, dan sebaliknya kami harap mereka memberikan selamat kepada kita, karena masuk Islamnya ulama-ulama mereka ke dalam Islam. Inilah perbedaan antara Islam dan agama tersebut.
Sesungguhnya saya, wahai saudaraku, dengan ucapanku ini, berkata sedikit keras kepada Anda dan juga kepada keluarga Anda. Karena di sana juga terdapat banyak keluarga yang melewati cobaan seperti cobaan Anda sekalian dalam keteledoran. Maka saya ingin agar semuanya terbangun. Cukuplah sekali tidur, cukup sekali keteledoran, dan cukup sekali penelantaran.
Sesungguhnya saya akan menjawab Anda, dan saya mengkhawatirkan para da’i yang saya adalah bagian dari mereka, kami akan dihisab di hadapan Allah atas keteledoran kami sehingga saudari Anda terlantar seperti itu. Maka di manakah peran kami dalam memberikan pengaruh kepada masyarakat? Jika ini adalah apa yang kami rasakan, maka bagaimana pula dengan Anda dan keluarga Anda pada hari Anda sekalian berdiri di hadapan Allah?!
Saudaraku yang mulia.
Sekarang mari kita tinggalkan masa lalu yang wajib bagi kita untuk bisa mengambil pelajaran darinya. Hendaknya sekarang kita berfikir bagaimana mengembalikan saudari kita ini kepada himpunan Islam. Sesungguhnya ini, sebagaimana ini adalah tanggung jawab saya, dan tanggung jawab ulama di daerah Anda, maka hal ini juga tanggung jawab Anda, hendaknya kita semua menanggung tanggung jawab ini bersama-sama.
Betapa saya berangan-angan, seandainya Anda meminta bantuan kepada para da’i di daerah Anda sejak awal. Agar mereka turut andil bersama Anda dalam menyelesaikan permasalahan yang sulit ini. Terutama mereka yang memiliki ilmu luas dari sisi syar’i, juga memiliki pemahaman dalam hal bagaimana bermuamalah dengan kondisi seperti ini, serta mengetahui pokok-pokok ajaran agama tersebut. Hal ini biasanya di atas kemampuan Anda.
Sekarang, musibah telah terjadi, wajib bagi kita semua untuk memahami beberapa perkara penting dalam mendiagnosa permasalah ini agar kita bisa menentukan obatnya, yaitu:
Sesungguhnya kepindahan seorang manusia dari agama bukanlah perkara yang mudah. Itu bukanlah satu keputusan ringan yang mungkin seorang untuk mengambilnya begitu saja tanpa sebab-sebab yang dia lihat dari sisi pandangnya yang dia menjadi puas. Lalu jadilah perkara itu sebagai pendorong kuat menuju keputusan untuk berpindah dari agamanya. Berdasarkan hal ini, tidak benar sama sekali kita bermuamalah dengan seorang manusia yang telah melewati kondisi ini tanpa berusaha merenungan sebab-sebabnya dengan bentuk jelas dan konkrit, agar memungkinkan bagi kita untuk berfikir di jalannya demi mengobatinya, serta menentukan paling baik dalam bermuamalah dan mendakwahinya.
Saudari Anda, tidak akan masuk agama tersebut hanya sekedar karena ingin menikah dari seorang penganut agama tersebut saja. Bahkan harus ada beberapa faktor kuat yang mendorongnya untuk pindah agama. Kadang laki-laki dari golongan pemeluk agama tersebut itu memberikan beberapa syubhat kepadanya akan agama Islam yang kemudian menggoncangkan kepercayaannya kepada agamanya. Kemudian dia menjelaskan kepadanya akan ajaran-ajaran agama tersebut yang di dalamnya dia bisa bebas dari ikatan agama yang mengikatnya dengan berbagai macam ibadah. Dikarenakan bebas dari keistiqamahan ibadah sesuai dengan kondisi yang dia alami di masa Islamnya yang tidak konsisten dengan shalat dan ibadah-ibadah lain. Oleh karena itulah dia menemukan kebebasan dari ikatan ibadah harian yang sesuai dengan kehidupannya. Maka jadilah hal itu termasuk sebab-sebab yang turut andil dalam rangka dia meninggalkan agamanya lalu masuk agama tersebut.
Kadang, bukan hanya pacar berbeda agamanya yang mempengaruhi, kadang juga terhadap pengaruh-pengaruh lain yang kita tidak mengetahuinya, apakah dari orang lain, atau teman-teman wanita yang jelek, atau juga buku-buku yang mendiskreditkan Islam. Barangkali salah satu faktor inilah yang mempengaruhi dan membantu keluarnya dia dari agamanya.
Sesungguhnya, seorang manusia yang lemah pondasinya, serta sedikit pengetahuan terhadap agamanya, dengan tabiat seperti itu, dia tidak akan bisa berpegang dengan kuat di hadapan perdebatan apa pun dari agama lain yang bagus permainannya dengan menggunakan akal, logika dan filsafat. Yang hal itu menjadikannya meragukan agamanya. Jika tidak ada seseorang yang membantunya, maka dia akan meninggalkan aqidahnya, bisa kepada atheis, atau juga kepada agama orang yang turut andil dalam membuatnya ragu, lalu dia pun meninggalkan fitrahnya yang lurus, kepada aqidah lain yang rusak, batil,lagi sesat.
Lalu, tambahan itu semua, saudari Anda mendapatkan pendorong untuk mengubah agamanya demi memenuhi keinginannya untuk menikah dengan seorang pemeluk agama tersebut yang Islam telah melarang dan mengharamkan pernikahan ini.
Termasuk perkara yang dikukuhkan adalah bahwa terdapat keterputusan hubungan antara saudari Anda dengan masyarakat. Telah hilang perasaan hubungan, dan kasih sayang antara dia dengan anggota masyarakat muslim yang dia hidup di dalamnya. Sebaliknya, barangkali dia mendapatkan masyarakat baru, yang membuat-buat ajaran bagus, kokoh dengan berbagai jalan yang tersusun rapi. Di mana masyarakat baru itu turut andil mengeluarkannya dari Islam, agama Allah yang haq kepada agama batil.
Inilah analisa kejiwaan yang wajib bagi kita untuk memahaminya, sementara kita mengambil permasalahan yang wajib bagi kita untuk bersungguh-sungguh dalam menyelesaikannya semampu kita, dan taufik hanyalah dari Allah. Kita ambil sebab-sebab hidayah dan perbaikan, kita curahkan segenap upaya dalam melakukan perubahan dan memberikan petunjuk. Kemudian kita tinggalkan buahnya untuk Allah.
Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.” (Q.S. Yasin (36): 17)
Maka saya memohon taufik kepada Allah bagi kami, Anda, baginya, serta bagi seluruh kaum muslimin.
Ada pun beberapa hal yang bisa ana ambil pelajarannya:

1. Seringkali kita baru sadar akan bahaya yang menimpa ketika bahaya tersebut tepat di hadapan kita. Ini adalah bahaya dari kelalaian kita, menelantarkan orang dekat atau diri kita sendiri jauh dari beragama. 

2. Jangan meremehkan apalagi tidak berusaha melakukan ibadah-ibadah sunnah, berusahalah mencari sebab-sebab terjaganya agama kita seperti mengikuti kajian dan mencari teman-teman yang baik. Yang walau kita kadang merasa tidak pas dengan mereka, jangan putuskan silaturrahmi dan meminta nasehat.

3. Jagalah akhlaq. Akhlaq mulia harus diperhatikan. Termasuk dalam pertemanan yang kita sering bersenda gurau, akhlaq tetap harus dijunjung.

4. Dekatlah dengan para ustadz dan alim ulama, serta minta dari mereka nasehat dan bantuan.

5. Walau pun dengan orang yang berbeda agama, kita tetap harus bermuamalah dengan baik tapi dengan tetap memperhatikan batasan-batasan.
Begitu pula dengan orang yang sudah masuk agama lain dan masih kita harapkan dia kembali, kita harus bermuamalah dengan mereka dengan cara yang hikmah.

6. Waspadai syubhat-syubhat yang dapat menggoncangkan iman yang lemah, oleh karena itu menuntut ilmu syar’i pun harus menjadi agenda kita. Dengan ilmulah kita tahu mana-mana yang syubhat dan betapa lemahnya syubhat-syubhat tersebut.

(Isi artikel dari majalah Qiblati 12 bulan Syawal 1431 H dengan agak banyak perubahan dan tambahan)

Kamis, 29 Juli 2010

Percaya Diri

بسم الله الرحمن الرحيم

Anda cukup percaya diri? Bagus. Mari kita baca artikel ini.

--------------------------------------------

Hukum PD (Percaya Diri), Fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim.

87- س:- قول من قال: تجب الثقة بالنفس؟

Pertanyaan ke-87 adalah tentang hukum perkataan yang mengatakan bahwa percaya diri itu adalah sebuah keharusan.

ج: لا تجب ولا تجوز الثقة بالنفس.

Jawaban Syaikh Muhammad bin Ibrahim,
“Percaya diri itu tidaklah wajib, bahkan tidak boleh (baca:haram).

في الحديث: ((وَلاَ تَكِلْني إلى نَفْسِيْ طرْفَةَ عَيْن)) (1)

Dalam sebuah doa yang terdapat dalam hadits disebutkan, “Ya Allah, janganlah Kau serahkan diriku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata” (HR Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban dan dinilai hasan oleh al Albani dalam Sahih al Jami no 3382).

من يقوله؟! أَخشى أَن هذه غلطة منك؟! لا أَظن أَن انسانًا له عقل يقول ذلك، فضلاً عن العلم.…(تقرير الحموية).

Siapa yang mengatakan wajibnya percaya diri? Saya khawatir Anda salah dengar dalam hal ini. Aku tidak menyangka ada seorang yang berakal yang mengucapkan hal tersebut, terlebih lagi orang yang berilmu” [Tanya Jawab dalam kajian kitab al Hamawiyyah].

(1) وجاء في حديث رواه أحمد: ((واشهد أنك ان تكلني إلى نفسي تكلني إلى ضيعة وعورة وذنب وخطيئة واني ان أثق إلا برحمتك)).

Catatan Kaki:
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan, “Dan aku bersaksi sesungguhnya jika Kau serahkan diriku kepada diriku sendiri berarti Kau serahkan diriku kepada ketersia-siaan, memalukan, dosa dan kesalahan. Sesungguhnya aku hanya percaya kepada rahmat-Mu”

Sumber: Fatawa wa Rasai Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh 1/50, Maktabah Syamilah.

Catatan:

Tentang hukum PeDe perlu kita rinci:
a. Jika yang dimaksud dengan PD adalah tidak minder, berani tampil di depan banyak orang dan hal-hal yang semisal maka tentu tidak mengapa.
b. Jika yang dimaksud dengan PD adalah mengandalkan kemampuan diri sendiri dan tidak bergantung kepada Allah maka jelas hukumnya haram.

artikel: www.ustadzaris.com

Jumat, 15 Januari 2010

Aku Masih Diberi Nikmat, Padahal Banyak Berbuat Maksiat

بسم الله الرحمن الرحيم


Masih bernapas. Dan setelah pikiran itu terlintas, rasanya dada ini naik-turun beberapa kali lebih cepat karena bernapas dibanding ketika tidak sadar bahwa kita bernapas.

Sekali aku kuatkan hembusan napasku, mengenai telapak tangan yang kuhadapkan pada wajahku. Hangat.

Aku benar-benar bernapas, aku benar-benar masih hidup. Tapi, untuk apa? Melakukan dosa lagi? Dan berulang kali aku melakukan kesalahan, dosa, lebih banyak dari pada aku bertaubat.

Aku tahu ini salah, aku tahu harus kembali, tapi entah mengapa aku mengulanginya...

Sungguh iri melihat teman-teman yang menundukkan kepala saat berdoa awal pelajaran. Juga mereka yang menengadahkan tangan di masjid. Yang dosanya tak separah diriku.

Aku, rindu pada Dzat ke mana mereka meminta. Tapi dosaku membuatku enggan dan segan, akankah Ia menerimaku?

Kuhembuskan napas sekali lagi.

Allah masih memberiku indera sempurna untuk merasakan. Ia masih memberiku banyak nikmat, apakah ini istidraj??

Sebuah suara menjawab, anggaplah ini istidraj, sebenarnya kamu sudah melangkah mundur dari kebaikan lebih jauh.

Sungguhkah?

Ya, saat kamu melupakan bahwa kamu masih takut. Kamu masih memikirkan kemungkinan itu. Saat suatu ketika kamu lelah memikirkannya dan berpaling.

Saat ini Allah masih memberi nikmat sebenar-benarnya nikmat bahwa kamu masih memikirkan itu semua. Bahwa mungkin secara tidak sengaja kamu mendengar bacaan tilawah, membaca artikel, tidakkah kau merasa itu sebuah panggilan dari-Nya.

Jika kau tidak sadar, makin lama kamu makin berburuk sangka pada Rabbmu...


Astaghfirullah... Na'udzubillah!

Syukurlah kamu masih berdzikir. Kalau kamu tahu bahwa dahulunya Sahabat Umar Radhiyallah 'Anhu adalah salah satu yang mengubur anak perempuan hidup-hidup, penyembah berhala, dan dalam kejahiliyahan memakan sesembahannya sendiri. Tapi setelah masuk Islam, menyerahkan diri pada Allah, ia termasuk di antara sahabat yang paling utama, bahkan Khalifah Rasulullah, Amirul Mukminin kedua.

Anggaplah kamu lebih buruk dari itu, tidakkah kamu berbuat dzhalim padahal Allah masih memberi kesempatan jika kamu pesimis untuk kembali?

Saat enggan berdoa dan berharap, kamu telah sombong karena telah menyandarkan diri hanya pada diri atau sesuatu selain-Nya.

Betapa berdosanya kamu, kembalilah dan jangan malu. Rahmat-Nya sungguh luas!


Sabtu, 26 Desember 2009

Menyucikan Allah

بسم الله الرحمن الرحيم


Suatu hari termenung di pojokan masjid. Menatap keluar, memandangi pepohonan dan bunga-bungaan yang tertanam. Sebelah sana lagi banyak anak bermain sepak bola. Sedangkan diri ini sedang ingin sendiri, merenungi sesuatu.



Apa arti menyucikan Allah?

Apakah Allah memiliki kekurangan atau hal yang perlu disucikan dari-Nya?

Astaghfirullah... Setan membisikan hal yang buruk. Teringat hadits yang menyebutkan tentang hal ini. Was-was. Ketika tiba-tiba terbetik oleh kita, "Siapa yang menciptakan alam semesta ini beserta isinya?" Maka terjawab, "Allah," namun kemudian bisikan selanjutnya datang, "Lalu siapa yang menciptakan Allah?"

"Syetan akan datang pada salah seorang kamu, lalu berkata : “Siapakah yang menciptakan demikian ? Siapakah yang menciptakan demikian? Siapakah yang menciptakan demikian?” Sehingga dia bertanya : “Siapakah yang menciptakan Tuhanmu?” Apabila ia sampai demikian, maka hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dan menghentikannya”


Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari (2/321), Imam Muslim dan Ibnu Sunni. Diambil dari sini.

Tapi untuk 'menyucikan Allah' hati ini seperti menjawabanya. Menghubungkannya dengan suatu hadits tentang prasangka hamba tentang Rabbnya. (Sayang belum menemukan hadits atau terjemahan).

Ternyata menyucikan Allah bukan berarti menyucikan Dzat-Nya. Menyucikan Allah ternyata menyucikan prasangka kita terhadap-Nya. Karena sering kali kita tanpa sadar, walau hanya sedikit, tergelincir memiliki prasangka yang tidak baik terhadap Allah. Dan ternyata ini juga yang menyebabkan kelalaian dalam beramal.

Ketika menyepelekan suatu amalan yang saat itu utama dilakukan, bukankah saat itu juga menganggap ada hal lain yang lebih baik dari pada yang Allah janjikan bagi hamba-Nya yang melaksanakan?

Ketika melakukan suatu dosa dan menganggap hal itu kecil, saat itu pula kita menyepelekan peraturan Allah. Hanya melihat 'kadar' dosa, melupakan hikmah larangan yang Allah tetapkan.

Allah tidak pernah salah, sempurna dari segala kekurangan. Tapi kita yang sering kali lupa, lalai bahkan di sana ada orang-orang yang mengingkari keberadaan Rabb semesta alam.

Wallahu A'lam.
Ya Allah, maafkan atas segala kesalahan. Tunjuki jalan untuk perbaikan. Beri taufik untuk segera melaksanakan.

Syukran untuk Harun 'Eyyarz' yang nyindir ane gara-gara lama gak posting.

Jumat, 27 November 2009

Hari Raya Nahr

Bismillah

Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... Laa Ilaaha Illallah Allahu Akbar...

Allahu Akbar... Wa Lillahil-hamd...


Bersyukur atas segala nikmat-Nya, termasuk nikmat-Nya mengetahui kerasnya hatiku yang tak berasa lagi rasa nyaman pada hari raya... Astaghfirullah...

Berdzikir, mengisi hati dan membasahi lidah sembari mengharap pahala dan ketenangan hati.

"Alaa bidzikrillahi tathma-innul quluub"


Menatap kuku-kuku jari yang agak panjang-belum dipotong karena kambing kurbannya belum disembelih...

*Lebih lanjut mari baca penjelasannya*

Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... Laa Ilaaha Illallah Allahu Akbar...

Allahu Akbar... Wa Lillahil-hamd...


Mari teruskan takbir. Tidak harus berjama'ah. Sampai nanti, maghrib hari ketiga tasyriq...

Paham tentunya hari-hari ini memiliki keutamaan. Bagaimana beramal di hari-hari ini? Hey! Ada panduannya! *di sini!*

Sangat perlu untuk kubaca...

Minggu, 25 Oktober 2009

Daging dan Tenaga Ini, Baik atau Burukkah?



Assalamu'alaikum!

Apa kabar? Baik atau burukkah? Mudah-mudahan baik dan tentu saja tidak ada yang mengharapkan buruk. Sudah makan? Saat menulis ini, Alhamdulillah tadi aku sudah makan-maaf bukan menulis hal yang tidak penting atau pamer tentang makanan yang baru kumakan karena aku pun berasal dari keluarga biasa dan tentu makanan kami biasa.

Yang ingin kubagi bersama hanya apa yang mungkin terlintas dalam benak para orang-orang shalih ketika mereka makan. Bismillah, dan mereka mulai memasukkan makanan sesuap
demi sesuap, dan kurasa jarang di antara mereka yang memilih makanan istimewa. Dalam hal porsi, tidak dapat dibilang sedikit tapi benar-benar secukupnya untuk menegakkan tulang punggung mereka. Sekedar, karena tujuan mereka makan adalah ibadah dan mereka memohon keberkahan dari apa yang nanti tumbuh menjadi daging mereka, berharap tenaga yang dihasilkan disalurkan untuk kebaikan.

Dan, renungan ringan kumulai saat aku menyendok suapanku. Cemas, akan menjadi apa makanan yang kukunyah ini? Aku berdosa dan entah mengapa walau terus menyesal tetap kuulangi lagi dosa itu. Takut dari apa yang kumakan sekarang hanya menghasilkan dosa. Setan membisikkan agar aku jatuh, bahwa percuma memohon dengan keadaan berdosa, baru saja melanggar ketentuan-Nya, karena aku ingin berharap Dia menganugerahiku taufik dan tenaga dari makanan ini untuk bertaubat atau mengamalkan kebaikan. Baru sekedar ingin berharap, dan setan serta rasa pesimis menggodaku terpuruk lebih dalam.

Tak tahu apakah saat ini aku akan bernasib sama dengan yang saat itu juga tengah makan lalu meninggal beberapa saat kemudian dalam bencana alam-bencana alam yang kini terus bertubi dan datang tanpa prediksi. Zaman fitnah, zaman penuh fitnah tapi ini bukan salah zaman. Salah manusia yang hidup di dalamnya.

Rasa nikmat yang sering membuat diriku merasakan ada yang hilang pada bagian dadaku. Rasa yang akan dipertanggungjawabkan, sedang di sekitar, perut lapar yang tak mampu mendapatkan makanan-bagaimana pun rasanya-untuk melindungi lambungnya dari asam yang keluar seakan percuma karena tidak ada bahan yang masuk untuk dicerna.

Dia tidak pernah dzhalim, ketentuan memang telah ditetapkan tapi keadaan tunduk dan sesuai dengan takdir melalui proses sebab-akibat juga. Dan penyebab dari semua ini-tidak usah ditanyakan lagi.

Waktu itu sempat heran dengan pernyataan seorang salaf terdahulu yang menyatakan sungguh beruntung dia yang masuk surga terakhir. Dia yang terakhir kali dikeluarkan dari neraka. Meminta dipalingkan dari neraka, didekatkan ke surga kemudian berharap masuk ke dalamnya. Padahal setiap sebelum dikabulkan permintaan, selalu ditanyakan kepadanya akankah ia meminta permintaan lagi? Selalu dijawab tidak, tidak akan lagi. Dan Rabb tersenyum saat mengabulkan permintaannya. Juga saat Rabb menawarkannya untuk mendapatkan sepuluh kali lipat dunia beserta seluruh isinya saat ia meminta dimasukkan ke dalam surga. Ya, Rabb tertawa saat orang itu merasa diperolok dengan ditawarkan hal remeh itu dibandingkan surga.

Baiklah, memang semua yang beriman, walau sebesar dzarrah, akan masuk surga. Tapi tidak beriman hanya untuk saat ini. Yakinkah kita tidak tergelincir, bukan nanti, bahkan saat ini? Sebesar apa rasa percaya diri bahwa iman ini bertahan sampai meninggal nanti?

P.S. : Oh, ya. Saat ini aku sedang butuh tarhib (ancaman, peringatan) lebih banyak akibat lalai. Tapi aku tidak ingin kehilangan sayap-sebagaimana para ulama mengibaratkan khauf (rasa takut) dan raja` (rasa harap) sebagai dua sayap bagi seorang mu`min. Aku mengharap ampunan atas segala kesalahan.

Selasa, 13 Oktober 2009

Argh! Ulangan!



Lagi ulangan, rasanya pesimis dan pasrah ajaa!! Pelajarannya susah! Semalem gak belajar... Baca buku cuman dikit! Itu juga kagak masuk otak semua! Percuma belajar!

Mikir gitu pas ulangan? Mudah-mudahan kagak dan jangan!

Sebenarnya itu sih yang sempet kepikiran sama ane tadi pas mau ulangan kimia. Tapi ada yang harus disadari secepatnya dari pemikiran itu, minimal ini salah satunya.

Mikir kayak gitu biasanya karena kita telah melupakan Allah, walau sesaat, juga melupakan arti ikhtiar dan tawakkal.

Pada keadaan tersebut kita tengah menyandarkan diri pada diri sendiri. Akibatnya, karena kita bersandar pada diri yang notabene saat itu lagi buruk kondisinya (pelajarn susah, belajar dikit, dll) maka yang datang adalah rasa pesimis!

Gak cuman untuk pelajar dan saat ujian aja! Tapi itu muhasabah ana hari ini...

Dzikir pagi-petang yang harusnya kita lafal sembari menghayati maknanya:

Ya Hayyu Ya Qayyuum Birahmatika Astaghitsu Ashlihli Sya`ni Kullah, Wa Laa Takilni Ilaa Nafsi Thorfata 'Ain


Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Mengurus hamba-Nya… perbaikilah semua urusanku dan janganlah Engkau serahkan urusanku pada diri ini meski hanya sekejap mata


Ada yang tahu haditsnya? Lagi males nyari :P Tapi share aja!

Rabu, 16 September 2009

أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

Bismillah

أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

Artinya adalah

"Aku menitipkan agama, amanah dan penutup amalmu"

Itu doa Musafir kepada yang Mukim

Sedangkan doa Mukim untuk Musafir:

زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُ مَا كُنْتَ

yang artinya
"Semoga Allah memberi bekal taqwa kepadamu, mengampuni dosamu dan memudahkan kebaikan kepadamu di mana saja engkau berada"

Kenapa ane posting doa itu? Karena mudah-mudahan saat postingan ini terbit, ane sudah memulai perjalanan mudik ke kampung.

yah... mungkin ini postingan terakhir sebelum hari 'Iedul Fitri... Harusnya berisi wasiat karena siapa tau...

Tapi mungkin ada beberapa hal yang ingin ane sampaikan...

Pertama: Iedul Fitri artinya bukan kembali kepada fitroh... kata fitri di sini berarti berbuka atau makan karena berhubungan dengan shaum kita selama sebulan penuh, maka di hari itulah kita berbuka dari shaum tadi.

Hal kecil mungkin, tapi untuk disampaikan perlu juga kan? Coba cek di artikel ini, Bimbingan Iedul Fitri dari Muslim.or.Id!!!

Kedua, ane sangat berterima kasih untuk kawan-kawan ane yang udah memberi nasihat di mana pun termasuk melalui Facebook.

Ane inget kemaren minta nasihat lewat status lalu dinasihati lewat komentar... Dua komentar yang paling ane suka:

dari M. Rasyid Aziz:
nasehat? simple aj. besok ad yang jamin bisa mbuka mata?

Walau paham, tapi belum sadar sepenuhnya saat itu sampai diberikan lagi peringatan...

lalu dari Andry Randy Arbiyantama:
Pesan gw simpel aja, jangan ngerasa paling bener gara gara ngerasa punya ilmu lebih

Rasa lebih itu racun! Syukran semuanya! Jazaakumullah khaira!

Ketiga, pernyataan umum dan mungkin sering, ane harus bertaubat dan ane mengajak kita semua bertaubat...

Minggu, 30 Agustus 2009

Prestasi Yang Paling Membuat Bangga

prestasi terbaik

Malem ini ngantuk, tugas bagian depan LKS, jenis 'Lembar Kratifitas Siswa' yang sebenarnya bikin males tapi ane harus bersabar mengerjakannya udah lebih separo insya Allah.

Tapi hari ini ada hal istimewa untuk dibagi, yang bikin ane semangat membuka halaman browser untuk mengakses blogger, mengetik huruf per huruf sembari membayangkan kembali kegiatan tadi terulang dalam benak dan mencoba merasakan lagi apa saja yang terlintas dalam hati. Memostingnya untuk berbagi...

Ifthar Jama'i bersama ikhwan dan akhwat dari Rohis beberapa SMA atau sederajat se-Bekasi Selatan, untuk ini ane bingung ungkapan apa yang cocok karena sebenarnya ada perasaan kurang suka, tapi bagian menarik terjadi saat acara ini berlangsung.

Bagian itu terjadi saat pemberian materi motivasi, lebih tepatnya saat Pak Trainer mengadakan sesi di mana para peserta diminta membuat kelompok untuk tiap orang di dalamnya menceritakan prestasi yang paling membanggakan.

Suasana Perpustakaan Darul Ulum Islamic Center Bekasi sepertinya agak panas yang membuat gerah, kondisi yang kurang pas. Tapi ane, yang disuruh jadi moderator dadakan melihat dari depan beberapa peserta yang tetap antusias bercerita.

Yah, harus disebutkan juga mungkin sebagian yang bosan dan kurang tertarik atau hanya ikut tanpa inisiatif menanamkan materi pada usahanya.

Setelah sekitar sepuluh menit, kelompok yang ditunjuk harus memilih salah seorang yang prestasinya paling keren untuk maju, berbicara, memberi tahu semua yang hadir tentang prestasinya.

Pak Trainer bergerak ke depan-belakang memilih kelompok. Satu persatu kelompok mengirim utusannya berbicara, hingga Pak Trainer ke bagian belakang lagi, memilih salah satu kelompok akhwat.

Ternyata yang diutus adalah salah seorang akhwat satu sekolah, di Facebook sekarang ini dia memberi nama Asy-Syahid di belakang namanya.

Sebenarnya ane udah tau klo dia yang maju, prestasi apa yang bakal dia angkat (tentu tidak boleh dengan rasa sombong) karena pernah baca tulisan di blognya yang lama.

Ane akui, prestasinya luar biasa.

Saking luar biasanya, sesuatu dari hatinya membuat kedua matanya mengalirkan air mata...

Ya, butuh beberapa menit sampai dia bisa tenang untuk memulai berbicara.

Apa prestasinya itu?

Ya Ikhwati Fillah, prestasi tersebut adalah melakukan suatu kewajiban yang sekarang ini terlalu banyak dilalaikan, dianggap hanya suatu budaya dan ditinggalkan. Bahkan jika bisa dibilang banyak yang melakukan kebalikannya!!!

Perintah Allah nan Agung lagi Mulia tersebut adalah: berhijab serta berubah untuk menjadi seorang Muslim (klo dia Muslimah) yang baik...

Ane rada kesel ama beberapa akhwat yang sepintas terdengar mengatakan hal yang serupa dengan, "Cuma segitu...?" karena sebenarnya ini adalah masalah hidayah yang amat besar!!!

Entah apa yang sebenarnya yang dia rasakan kala itu, tapi yang 'nyampe' ke hati ane (baca: yang ane kira dia lagi rasakan) adalah rasa syukur yang sangat dan betapa spesialnya prestasi tersebut walau saat itu ia tengah berada di sekitar dua puluhan akhwat yang sudah terbiasa memakai kerudung.

Atau mungkin teringat saat belum memakai hijab.

Jika betul yang terakhir, mudah-mudahan manisnya iman yang ia rasakan juga dapat kita nikmati?

Ya, karena bukankah salah satu orang yang merasakan manisnya iman adalah orang yang tidak mau kembali kepada kufur sebagaimana ia pun benci masuk neraka?

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dia berkata, " Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, artinya,

"Ada tiga hal, yang jika tiga hal itu ada pada seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu); Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; Mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah; Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya, sebagaimana bencinya jika dicampakkan ke dalam api." (Muttafaq 'alaih)


Sedangkan keadaan sebelumnya tidak separah kekafiran dan itu telah membuat adanya air mata yang berlinang?

Hmm... Itu kesimpulan ane sendiri memang, entah apa bisa dipakai atau tidak, tapi setidaknya itu memberikan motivasi dalam diri ane.

Saat ia terus berbicara, ane rasa suasana menjadi sedikit hening...

Sebenarnya ada juga ikhwan yang prestasinya sama nilanya bahkan mungkin lebih.

Percaya atau tidak, menurut pengakuannya, sebelumnya ia belum percaya akan keberadaan Allah dan beranggapan bahwa setelah kematian tidak akan ada apa-apa lagi.

Seperti bukan orang Islam, bahkan seperti atheis, padahal kala itu ia sudah memeluk Islam.

Bukti bahwa kini ilmu tentang aqidah yang merupakan inti dari Islam amat terasing, walau tidak separah sampai kebanyakan berangggapan seperti yang barusan.

Ia mengakui akan kebenaran keberadaan Allah dan Hari Kiamat setelah bertemu dengan beberapa guru yang menasihatinya.

Hanya saja benar-benar membuat panas hati saat ada yang bilang, "Lebay..."

Padahal seharusnya kita benar-benar menghargainya, memberinya dorongan serta belajar darinya akan mahalnya nilai hidayah.

Mungkin faktor penampilan? Entah...

Tapi yang pasti seharusnya kita harus melihat sisi hikmahnya karena hikmah bagi mu`min itu bagaikan hukum barang hilang: di mana pun ia menemukannya, ia berhak mengambilnya.

Ane teringat atsar Ali Bin Abi Thalin Radhiyallahu 'Anhu:

Lihatlah pada apa yang diucapkan dan jangan kau lihat siapa yang mengucapkan


Untuk kedua orang di atas, ane kagum akan kesadaran antum akan betapa berharganya hidayah yang kini di dapat, walau diri masih jauh dari 'baik', mudah-mudahan ane juga menyadarinya.

Serta bangga walau itu bagi orang lain remeh...

Ane teringat suatu momen, saat sang akhwat masih berbicara, ada yang bertakbir dari belakang.

Sejujurnya ane juga dari tadi memiliki keinginan untuk bertakbir, keinginan yang muncul tiba-tiba.

Saat ia benar-benar selesai, ada yang bertakbir lagi, takbir yang membuat ane refleks bertakbir juga,

ALLAHU AKBAR!!!




P.S.: Blognya akhwat yang satu sekolah itu masih ada ternyata, tapi gak ane kasih tautannya soalnya ada foto-fotonya. Ohya, dia kayaknya juga harusnya ngikutin Yakurai dalam masalah foto di Facebook, coba lihat fotonya yang dipasang di blog Yakurai, cantik kan? Hehehe...

Ya, untuk sekarang cantikkan begitu, karena keindahannya yang sebenarnya hanya untuk suaminya kelak...

Semoga semua ikhwan dan akhwat mendapatkan hidayah taufiq untuk menjadi Muslim/Muslimah sejati serta memperoleh pasangan yang tampan/cantik plus shalih/shalihah serta dapat menghantarkan ke surga...

Allahumma Amiin...

Selasa, 28 Juli 2009

Sejenak Mengingat Allah...

Bismillah...
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Masya Allah, malam ini ane sempat membaca kisah nyata yang diungkapkan sendiri oleh yang bersangkutan.

Tidak ada di dalamnya unsur melebihkan atau mengurangkan hanya agar menarik dibaca, tapi untuk ane pribadi lumayan dapat melembutkan hati...

Menyampaikan hal itu, ane teringat akan kisah nyata lain dari blogger lain. Sedikit banyak, insya Allah kita dapat mengambil pelajaran, terutama tentang kesabaran dan kelapangan dada.

Blogger Mania... Untuk istiqamah, kita memerlukan hal yang dapat menstimulasi iman agar tetap kuat.

Salah satu hal yang berpengaruh adalah teman dan lingkungan...

Tapi mungkin kali ini agak lain, yaitu benda-benda di sekitar kita...

Tiap sesuatu terdiri atas partikel yang terbagi lagi menjadi unsur-unsur yang lebih halus. Dan pastinya jika kita amati secara lebih detail bagian-bagian kecil tadi bergerak.

Proton dan elektron bergerak mengelilingi inti atom. Mengikuti suatu aturan yang para pakar coba ungkap. Siapa yang menciptakan aturan itu? Dan, kita lihat proton dan elektron tadi tunduk pada aturan tersebut...

Mungkin rumit untuk hal mikroskopis, kita bisa mengalihkan pandangan kepada batu yang terjatuh...

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
Atau sekedar angin yang berhembus...

Angin yang pernah membinasakan kaum yang kini tidak bisa kita bayangkan kehebatannya, baik dalam hal fisik atau kekuatan dan peradabannya...


Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat.
Dan juga pada (kisah) Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan


Atau angin yang membawa hujan, sejuk, segar, dingin yang nikmat... Suasana yang indah...

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan


Di sekitarmu, apa yang kau tafakkuri tentangnya...? Ingatlah di dalamnya selalu ada hikmah yang mungkin kita masih terhijab untuk mengetahui apalagi memahaminya sebagai taufik yang membuat kita lebih baik. Semoga hijab itu terbuka segera...

Dan, gerakannya barusan mengingatkanku akan usia. Jarum itu... yang selalu bergerak berputar sesuai porosnya... 1440 kali tiap harinya...

Dan memperingatiku waktu sekarang harus mengerjakan hal lain...