Tampilkan postingan dengan label artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Agustus 2011

"Tadi jatoh kayaknya pertanda sial..."

بسم الله الرحمن الرحيم

Woi. Ane mengalami beberapa kesedihan. Banyak sih, tapi yang dibahas di sini ada tiga. Pertama, temen yang ane anggep temen terbaik pas SD baru saja mengalami kecelakaan. Tangan dan kakinya patah dan bahkan infonya ginjalnya sobek. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Selain itu, senior ane di organisasi juga sakit. Padahal Beliau kemaren-kemaren cerita ke ane tentang rasa sakitnya yang bikin dia selalu memuntahkan kembali hidangan yang di makan. Padahal dia juga puasa. Trus akhirnya hari kemaren gak ke sekre dan malem tadi dirawat di RS PKU Muhammadiyah Jogja.

Tolong doanya untuk mereka, juga saudara-saudara kita lainnya yang tengah tertimpa musibah di belahan dunia mana pun.

Udah gitu, kemaren sore ane juga sempet ketabrak pas ngendarain motor. Mana lagi bonceng temen. Kesalahan ane sih.

Nah, entah kenapa karena tiga hal ini tiba-tiba perasaan ane jadi gak enak. Langsung ada was-was, jangan-jangan pas ane jatoh, ada kerabat atau temen yang kenapa-napa. Allahumma nas alukal ‘afwa wal ‘afiyah.

Rasa was-was ane ini yang mau ane obrolin. Rasa yang kayaknya timbul karena pas kecil sering ngikut Ibu nonton sinetron. Di sinetron suka ada kan, ketika pemeran utama ngalamin kecelakaan, pada saat yang sama entah kenapa di scriptnya pasangan si pemeran utama juga ngalamin kecelakaan kecil kayak tangannya kena piso mas motong-motong lah, atau yang semisal. Itu bikin kita jadi suka ngehubung-hubungin antarkejadian yang padahal gak saling berhubungan. Atau mungkin bisa dibilang, suka nganggep kejadian itu sebagai pertanda sial.

Trus kenapa? Karena ternyata dalam Islam ini ada pembahasan sendiri. Inilah yang disebut dengan tathayyur atau thiyarah.

Bagi yang telah terjatuh dalam tathayyur atau thiyarah ini, ternyata dianjurkan membaca sebuah doa.

Apa itu tathayyur? Dan bagaimana doanya? Ternyata sudah banyak yang membahasnya, jadi ane copas plus ane sertakan sumbernya. Monggo...

Spoiler:

Berapa nomor rumah Anda? Hah, 13???

Eh, kamu kan masih perawan, nggak boleh duduk di depan pintu, nanti susah dapat jodoh

Sebentar lagi akad nikah, kamu nggak boleh keramas dulu, nanti bisa turun hujan, kacau kan acaranya nanti..

Jangan duduk di bantal, sayang, nanti bisa bisulan

Jangan melangkahi padi, nanti bisa celaka kamu!

Jangan makan yang asam-asam setelah magrib, nanti ditinggal mati ibu lho..




Dulu, ketika saya tinggal di desa, saya mengira bahwa yang namanya tathayyur (yang lebih dikenal di Indonesia dengan nama pamali dan semisalnya) itu hanya dipercayai orang-orang pedesaan atau mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan yang rendah. Namun, anggapan itu ternyata 1000 % salah. Sebab, banyak pula orang yang tinggal di perkotaan dan orang yang memiliki latar belakang akademis yang tinggi, percaya juga dengan yang seperti itu.

Di antaranya seorang artis terkenal di ibu kota (tak perlu saya sebutkan namanya).

“Kata orang tua, kalau cari cowok jangan yang beda 6 tahun..” tutur artis itu, “Sebenarnya nggak mau percaya. Tapi karena sudah dengar dari orang tua, jadi mau nggak mau terpengaruh juga. “

Lantas apa konsekuensi dari kepercayaannya itu? ia berkata, “Jadi mau seganteng apapun cowok itu, begitu tahu beda umurnya 6 tahun, aku langsung ilfil”

Ironis. Dengan statusnya sebagai publik figur yang pernah mengecap dunia akademis di suatu sekolah tinggi bertaraf internasional, bisa-bisanya ia percaya dengan yang seperti itu. Kemajuan teknologi di era internet dengan segenap inovasi yang begitu cepat dan memukau, ternyata tak cukup untuk menghapus keyakinan yang sama sekali tak bisa dicerna oleh akal sehat. Tathayyur memang masih menjadi konsumsi (sebagian) masyarakat.

Apa Itu Tathayyur?

Thiyarah/Tathayyur secara bahasa berasal dari kata طير (burung). Karena, orang Arab jahiliyyah dulu bisa pesimis dan optimis disebabkan burung. Ketika akan bepergian, mereka melepaskan burung dahulu. Kalau burung itu terbang arah kanan, mereka pun optimis dan jadi berangkat. Tapi kalau burung itu terbang ke arah kiri, mereka pun pesimis dan membatalkan kepergian, karena mereka yakin akan datang kesialan.

Adapun secara istilah, Tathayyur adalah sikap pesimis terhadap sesuatu yang didengar atau dilihat atau diketahui. Seperti keyakinan orang Arab dulu terhadap burung hantu. Jika mereka mendengar suara burung hantu, mereka yakin kalau itu pertanda akan ada orang yang akan mati. Dan juga keyakinan mereka bahwa bulan Shaffar adalah bulan sial. Begitu pula Syawwal. Tersebar di kalangan Arab dahulu bahwa wanita yang menikah di bulan syawal tidak akan bahagia dan tidak pula dicintai suaminya. Padahal ibunda kita, Aisyah رضي الله عنها Menikah dengan Nabi صلى الله عليه وسلم di bulan syawal dan dicampuri pula pada bulan itu pula, lantas bagaimana keadaannya setelah menikah? Ia berkata, “Siapakah di antara kalian yang lebih beruntung dariku?” (HR. Muslim: 1423)

Dan masih banyak lagi contoh thiyarah yang beredar di antara mereka.

Adapun di zaman sekarang? Tak terhingga sepanjang masa. Tinggal anda kumpulkan data-datanya lalu serahkan ke KPK (Komisi Pemberantasan Kesyirikan), biar mereka yang mengusut semua itu lalu menangkap para tersangkanya.

Apa Hukum Thiyaroh?

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik
Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata, “Dan tiada seorangpun dari kita kecuali (merasakannya). hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya”. (HR Abu Daud: 3910)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda; “
Siapa yang mengurungkan hajatnya karena thiyarah, berarti ia telah berbuat syirik
” (HR Ahmad: 7045)

Dari dua hadits di atas Rasulullah صلى الله عليه وسلم menegaskan bahwa thiyaroh adalah syirik. Lantas syirik apakah itu? Syirik besar atau kecil?

Perlu dirinci:

1. Jika seseorang meyakini bahwa sesuatu yang ia anggap sial itu memang membawa kesialan dengan sendirinya, tanpa ada andil dari Allah عز وجل sedikitpun, otomatis terjerumuslah ia ke dalam syirik akbar. Lantas apa konsekuensinya jika ia terjatuh ke syirik akbar? Bisa lihat di sini.

2. Jika seseorang meyakini bahwa sesuatu yang ia anggap sial itu hanya sekedar sebab kesialan saja, sedangkan yang menentukan adalah Allah عز وجل, otomatis terjerumuslah ia ke dalam syirik ashghar (kecil)

Dan meskipun syirik ini dikategorikan kecil, bukan berarti konsekuensinya kecil. Sebab, dampak kerusakannya besar pula. Mau tahu apa itu dampak kerusakannya? Lihat ini.

Obat Dari Tathayyur

Siapa sih di antara kita yang tidak lepas dari tathayyur? Kita tentu pernah dalam suatu waktu, sedikit-banyak, merasa pesimis ketika menghadapi suatu masalah yang menerpa kita. Kalau sekedar sampai sini sih, ‘mending’. Tapi masalahnya, kadang setelah itu muncul di hati kita ‘tuduhan’ terhadap benda atau orang tertentu (yang sebenarnya tak ada kaitannya dengan masalah kita menurut akal sehat) sebagai penyebabnya.

Kok hari ini sial sekali ya… Jangan-jangan gara-gara tadi nabrak kucing

Setelah dia deket ke aku, kok aku jadi sial terus ya..


Ibnu Mas’ud رضي الله عنه, seorang shahabat mulia yang ketakwaannya yang tidak diragukan saja pernah mendapati pada dirinya tathayyur, apalagi kita tentunya?

Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata, “Dan tidaklah seorangpun dari kita kecuali (merasakan tathayyur). “

Akan tetapi, bukan berarti ia menganjurkan kita untuk pasrah saja membiarkan tathayyur menguasai jiwa dan hati kita, melainkan, “Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya. ” Demikianlah Ibnu Mas’ud رضي الله عنه memberikan obat bagi penyakit itu, yaitu dengan tawakkal kepada Allah.

Selain itu, ada lagi obat yang telah disebutkan Nabi kita صلى الله عليه وسلم untuk mengobati tathayyur itu, yaitu apa yang beliau sabdakan, “Siapa yang mengurungkan hajatnya karena thiyarah, berarti ia telah berbuat syirik”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa penebusnya?” Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Hendaklah berkata:

“اللهم لاخير إلا خيرك ولاطير إلا طيرك ولا إله غيرك ”

(Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, tidak ada kesialan, kecuali dari-Mu, tiada yang berhak diibadahi selain-Mu) (HR Ahmad: 7045)
Ya, doalah dengan yang beliau sebutkan.

Kalau begitu, ketika Anda hendak bepergian di pagi hari dan baru saja keluar rumah, tiba-tiba Anda melihat orang cacat berlalu di depan Anda, jika timbul rasa waswas di hati, berdoalah dengan doa di atas. Lalu ketika Anda telah mengendarai kendaraan tiba-tiba kendaraan Anda menabrak kucing, jika terlintas di pikiran Anda akan terjadi apa-apa, acuhkanlah dan berdoalah dengan doa di atas. Lalu setelah Anda tiba di tujuan. Ternyata rumah yang anda tuju itu bernomor 13, lalu timbul kekhawatiran di hati, acuhkanlah dan berdoalah dengan doa di atas. Begitu pula dalam perkara lainnya

ولله الحمد….

Jakarta, 14 Sya’ban 1432/15 Juli 2011

anungumar.wordpress.com

(Sumber: "Kesialan" Ada di mana-mana)

Ohya. Tapi dulu Nabi kita صلى الله عليه وسلم pernah lo ketika berpergian lalu di depannya ada dua jalan, lalu disebutkan nama masing-masing jalan, Beliau صلى الله عليه وسلم memilih nama jalan yang artinya baik, bukan jalan lainnya yang namanya buruk. Apakah ini thiyarah juga?

Jawabanya? Monggo lagi...

Spoiler:

(...)Dari Anas -radhiallahu ‘anhu- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ

“Tidak ada ‘adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah. Dan yang menakjubkanku adalah al-fa’lu yang baik yaitu kalimat yang baik.” (HR. Al-Bukhari no. 5756 dan Muslim no. 2224)(...)

(...)Adapun contoh al-fa`lu misalnya seseorang mendapatkan sebuah masalah, lalu ketika dia berpikir akan jalan keluarnya, tiba-tiba temannya yang bernama Sahl datang, dan Sahl maknanya adalah kemudahan. Ketika Sahl datang, diapun berharap kepada Allah semoga masalahnya menjadi mudah, tapi harapannya ini muncul karena datangnya Sahl, temannya. Maka dari penggambaran di atas kita bisa melihat bahwa al-fa`lu yang disenangi oleh Rasulullah -alaihishshalatu wassalam-, tidak ada di dalamnya ketergantungan hati kepada selain Allah Ta’ala. Bahkan yang ada adalah hati bertambah semangat dan menguat untuk mewujudkan apa yang dia inginkan, tatkala dia mendengar atau melihat sesuatu yang menyenangkan. Jadi, thiyarah merupakan kesyirikan kepada Allah, sementara al-fa`lu adalah ibadah raja` (harapan) dan husnuzhzhan (berprasangka baik) kepada Allah Ta’ala.(...)

(Sumber: Tathayyur (Pamali) Adalah Syirik)

Masih bingung? Hm, silahkan cari sendiri aja deh.




Semoga bermanfaat!

Kamis, 29 Juli 2010

Percaya Diri

بسم الله الرحمن الرحيم

Anda cukup percaya diri? Bagus. Mari kita baca artikel ini.

--------------------------------------------

Hukum PD (Percaya Diri), Fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim.

87- س:- قول من قال: تجب الثقة بالنفس؟

Pertanyaan ke-87 adalah tentang hukum perkataan yang mengatakan bahwa percaya diri itu adalah sebuah keharusan.

ج: لا تجب ولا تجوز الثقة بالنفس.

Jawaban Syaikh Muhammad bin Ibrahim,
“Percaya diri itu tidaklah wajib, bahkan tidak boleh (baca:haram).

في الحديث: ((وَلاَ تَكِلْني إلى نَفْسِيْ طرْفَةَ عَيْن)) (1)

Dalam sebuah doa yang terdapat dalam hadits disebutkan, “Ya Allah, janganlah Kau serahkan diriku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata” (HR Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban dan dinilai hasan oleh al Albani dalam Sahih al Jami no 3382).

من يقوله؟! أَخشى أَن هذه غلطة منك؟! لا أَظن أَن انسانًا له عقل يقول ذلك، فضلاً عن العلم.…(تقرير الحموية).

Siapa yang mengatakan wajibnya percaya diri? Saya khawatir Anda salah dengar dalam hal ini. Aku tidak menyangka ada seorang yang berakal yang mengucapkan hal tersebut, terlebih lagi orang yang berilmu” [Tanya Jawab dalam kajian kitab al Hamawiyyah].

(1) وجاء في حديث رواه أحمد: ((واشهد أنك ان تكلني إلى نفسي تكلني إلى ضيعة وعورة وذنب وخطيئة واني ان أثق إلا برحمتك)).

Catatan Kaki:
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan, “Dan aku bersaksi sesungguhnya jika Kau serahkan diriku kepada diriku sendiri berarti Kau serahkan diriku kepada ketersia-siaan, memalukan, dosa dan kesalahan. Sesungguhnya aku hanya percaya kepada rahmat-Mu”

Sumber: Fatawa wa Rasai Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh 1/50, Maktabah Syamilah.

Catatan:

Tentang hukum PeDe perlu kita rinci:
a. Jika yang dimaksud dengan PD adalah tidak minder, berani tampil di depan banyak orang dan hal-hal yang semisal maka tentu tidak mengapa.
b. Jika yang dimaksud dengan PD adalah mengandalkan kemampuan diri sendiri dan tidak bergantung kepada Allah maka jelas hukumnya haram.

artikel: www.ustadzaris.com

Kamis, 20 Agustus 2009

Hadits-Hadits Dhaif tentang Bulan Ramadhan



Muslim Bloggeriyyun sekalian :) Ramadhan telah tiba!

Ia adalah suatu kejadian besar. Tidak sembarangan ketika kita menjumpainya. Banyak hukum-hukum dan keutamaan-keutamaan yang perlu diketahui.

Ane tidak akan membahas hukum-hukum itu atau keutamaan karena selain memang tidak menguasai dan tidak mencari sumber yang bagus, tapi yang satu ini adalah suatu keharusan untuk diketahui.

Walau ini sering, ane pengen berbagi untuk yang belum sempat mengunjungi situs-situs yang membahasnya (kayaknya udah pada ke sana semua ya?): masalah hadits-hadits Dha’if (lemah) tentang Ramadhan yang sering disebarkan atau diucapkan oleh penceramah tanpa menyebutkan kualitas hadits tersebut, baik karena ketidaktahuan atau menganggapnya hadits yang shahih.

Artikel ini ane salin dari http://jilbab.or.id/archives/241-hadits-dhaif-dan-palsu-seputar-puasa-ramadhan/ dengan perubahan dari ane sendiri yang insya Allah tidak akan mengubah hakikatnya.

Beberapa diantara hadits-hadits tersebut:

“Orang yang berpuasa adalah (tetap) di dalam ibadah meskipun dia terbaring (tidur) diatas tempat tidurnya”

Tidur seorang mukmin memang bisa menjadi ibadah, tapi harus melihat kepada niatnya dahulu. Niat bisa menjadikan suatu kebiasaan menjadi ibadah. Niat yang bagaimana? Yaitu niat tidur atau beristirahat jika memang dibutuhkan agar kala nanti dapat beribadah dalam kondisi bugar.

Kalimat di atas, ane tidak tahu apakah hadits atau bukan. Jika iya, maka derajatnya dhaif*). Paling tidak sepertinya pengertian itu yang menyebar luas dan harus diperbaiki.

Hadits
“Seandainya hamba-hamba tahu apa yang ada di bulan Ramadhan pasti ummatku akan berangan-angan agar Ramadhan itu jadi satu tahun seluruhnya, sesungguhnya Surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya….” hadits masih ada terusannya.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 1886) dan dinukil oleh Ibnul Jauzi dalam Kitabul Maudhu’at (Kitab tentang Hadits-hadits palsu, 2/188-189) dan Abu Ya’la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada al-Muthalibul Aaliyah (Bab A-B/ manuskrip) dari jalan Jabir bin Burdah, dari Abi Mas’ud Al-Ghifari.

Kelemahan hadits ini karena pada jalurnya terdapat Jabir bin Ayyub yang oleh Abu Nu'aim disebut suka memalsukan hadits, serta Al-Bukhari dan An-Nasai menyatakan haditsnya tertolak, matruk (ditinggalkan/tidak dipakai haditsnya).

Hadits
“Wahai manusia sungguh telah datang pada kalian bulan yang agung, bulan yang di dalamnya ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasanya sebagai kewajiban, dan shalat malamnya sebagai sunnat. Barangsiapa mendekatkan diri di dalamnya dengan suatu perkara kebaikan maka dia seperti orang yang menunaikan suatu kewajiban pada bulan lainnya.. dialah bulan yang awalnya itu rahmat, pertengahannya itu maghfirah/ampunan, dan akhirnya itu ‘itqun minan naar/bebas dari neraka..” dan seterusnya.

Dua murid terpercaya Syeikh Al-Bani (wafat 2 Oktober 1999) yakni Syeikh Ali Hasan dan Syeikh Al-Hilaly mengemukakan, hadits itu juga panjang dan dicukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur.

Menurut murid ahli hadits ini, hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah juga, (no. 1887), dan Al-Muhamili di dalam Amali-nya (no 293) dan Al-Ashbahani di dalam At-Targhib (Q/178, B/ manuskrip) dari jalan Ali bin Zaid Jad’an dari Sa’id bin Al-Musayyib dari Salman.

Hadits ini, menurut dua murid ulama Hadits tersebut, sanadnya Dhaif (lemah) karena lemahnya Ali bin Zaid.

Ibnu Sa’ad berkata, “Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya,” dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak kuat”. Ibnu Ma’in berkata, “Dha’if.” Ibnu Abi Khaitsamah berkata, “Lemah di segala segi”, dan Ibnu Khuzaimah berkata: “Jangan berhujjah dengan hadits ini karena jelek hafalannya.” demikianlah di dalam Tahdzibut
Tahdzib (7/322-323).

3. Hadits

“Berpuasalah maka kamu sekalian sehat.”

Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam al-Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Said, dari ad-Dhahhak, dari Ibnu Abbas.

Nahsyal itu termasuk yang ditinggal (tidak dipakai) karena dia pendusta, sedang Ad-Dhahhaak tidak mendengar dari Ibnu Abbas.

Dan diriwayatkan oleh at-Thabrani di dalam al-Ausath (1/Q, 69/ al-Majma’ul Bahrain) dan Abu Na’im di dalam ath-Thibbun Nabawi, dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud, dari Zuhai bin Muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih, dari Abi Hurairah. Sanadnya Dha’if (lemah). (Berpuasa menurut Sunnah Rasulullah SAW, hal. 84).

Peringatan bagi orang yang meninggalkan puasa tanpa alasan dibawakan oleh Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku sedang tidur tiba-tiba ada dua orang yang datang dan memegang pangkal lenganku dan membawaku ke sebuah gunung yang tinggi seraya berkata: “naiklah!” aku berkata: “aku tidak bisa”, keduanya berkata lagi: “kami akan memberi kemudahan kepadamu”, lalu akupun naik sampai ke pertengahan, tiba-tiba terdengar suara keras. Aku bertanya: “Suara apa itu?” Mereka menjawab: “Itu suara teriakan penghuni Neraka” Kemudian mereka membawaku mendaki lagi, tiba-tiba aku melihat
sekelompok orang yang digantung dengan urat belakang mereka, dari pinggiran mulutnya mengeluarkan darah. Aku bertanya: “Siapakah mereka?” Dijawab: “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa (pada) bulan Ramadhan sebelum tiba waktunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, Shalat Tarawih )

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan di akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adzariyat: 17-18).

4. Hadits

“Orang yang berpuasa adalah (tetap) di dalam ibadah meskipun dia terbaring (tidur) diatas tempat tidurnya”

Hadits ini sering kali kita dengar, paling tidak, maknanya bahwa ada yang mengatakan tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah sehingga kemudian ini dijadikan alasan untuk menghabiskan waktu dengan tidur saja. Bahkan barangkali karenanya, shalat lima waktu ada yang bolong padahal kualitas hadits ini adalah DHO’IF (lemah).

Hadits tersebut disebutkan oleh Imam as-Suyuthiy di dalam kitabnya al-Jami’ ash-Shaghir, riwayat ad-Dailamy di dalam Musnad al-Firdaus dari Anas. Imam al-Manawy memberikan komentar dengan ucapannya, “Di dalamnya terdapat periwayat bernama Muhammad bin Ahmad bin Sahl, Imam adz- Dzahaby berkata di dalam kitabnya adh-Dhu’af, Ibnu ‘Ady berkata, (dia) termasuk orang yang suka memalsukan hadits.”

Menurut Syaikh al-Albany, hadits ini ada pada riwayat yang lain tanpa periwayat tersebut sehingga dengan demikian, hadits ini bisa terselamatkan dari status Maudlu’at tetapi tetap DHO’IF.

Syaikh al-Albany juga menyebutkan bahwa Abdullah bin Ahmad di dalam kitabnya Zaw’id az-Zuhd, hal. 303 meriwayatkan hadits tersebut dari ucapan Abi al-’Aliyah secara mauquf dengan tambahan: (selama dia tidak menggunjing/ghibah). Dan sanad yang satu ini adalah Shahih, barangkali inilah asal hadits. Ia Mauquf (yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh Shahabat atau Tabi’in) lantas sebagian periwayat yang lemah keliru dengan menjadikannya Marfu’ (hadits yang sampai kepada Rasulullah). Wallahu a’lam. (Silsilah al-Ahadits adl-Dloifah wa al-Maudlu’ah, jld.II, karya Syaikh al-Albany, no. 653, hal. 106).

Semoga dengan penjelasan ini kita lebih berhati-hati di dalam menyaring hadits yang berkembang dan beredar di sekitar kita, dengan menyikapinya secara kritis dan bertanya tentang kualitasnya bilamana ragu untuk mengamalkannya.

Artikel ini ana salin dari Jilbab[dot]or[dot]id

Semoga Allah memberi kita kesempatan untuk bertemu Ramadhan tahun ini, menjadikannya benar-benar berberkah serta mempertemukan kembali tahun depan.