Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Juli 2010

Percaya Diri

بسم الله الرحمن الرحيم

Anda cukup percaya diri? Bagus. Mari kita baca artikel ini.

--------------------------------------------

Hukum PD (Percaya Diri), Fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim.

87- س:- قول من قال: تجب الثقة بالنفس؟

Pertanyaan ke-87 adalah tentang hukum perkataan yang mengatakan bahwa percaya diri itu adalah sebuah keharusan.

ج: لا تجب ولا تجوز الثقة بالنفس.

Jawaban Syaikh Muhammad bin Ibrahim,
“Percaya diri itu tidaklah wajib, bahkan tidak boleh (baca:haram).

في الحديث: ((وَلاَ تَكِلْني إلى نَفْسِيْ طرْفَةَ عَيْن)) (1)

Dalam sebuah doa yang terdapat dalam hadits disebutkan, “Ya Allah, janganlah Kau serahkan diriku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata” (HR Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban dan dinilai hasan oleh al Albani dalam Sahih al Jami no 3382).

من يقوله؟! أَخشى أَن هذه غلطة منك؟! لا أَظن أَن انسانًا له عقل يقول ذلك، فضلاً عن العلم.…(تقرير الحموية).

Siapa yang mengatakan wajibnya percaya diri? Saya khawatir Anda salah dengar dalam hal ini. Aku tidak menyangka ada seorang yang berakal yang mengucapkan hal tersebut, terlebih lagi orang yang berilmu” [Tanya Jawab dalam kajian kitab al Hamawiyyah].

(1) وجاء في حديث رواه أحمد: ((واشهد أنك ان تكلني إلى نفسي تكلني إلى ضيعة وعورة وذنب وخطيئة واني ان أثق إلا برحمتك)).

Catatan Kaki:
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan, “Dan aku bersaksi sesungguhnya jika Kau serahkan diriku kepada diriku sendiri berarti Kau serahkan diriku kepada ketersia-siaan, memalukan, dosa dan kesalahan. Sesungguhnya aku hanya percaya kepada rahmat-Mu”

Sumber: Fatawa wa Rasai Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh 1/50, Maktabah Syamilah.

Catatan:

Tentang hukum PeDe perlu kita rinci:
a. Jika yang dimaksud dengan PD adalah tidak minder, berani tampil di depan banyak orang dan hal-hal yang semisal maka tentu tidak mengapa.
b. Jika yang dimaksud dengan PD adalah mengandalkan kemampuan diri sendiri dan tidak bergantung kepada Allah maka jelas hukumnya haram.

artikel: www.ustadzaris.com

Minggu, 11 April 2010

Semangat buat peserta SIMAK UI! Pikiran realistis juga bisa memotivasi!

بسم الله الرحمن الرحيم

FIGHT FOR SIMAK UI 2010!!!!! Yeah!

Hari ini adalah medan pertempuran, perjuangan dan persaingan. Yup! SIMAK UI bagaikan sayembara bagi para ksatria ilmu untuk mendapatkan almameter kuning dengan kharisma intelegensi tingkat tinggi di tanah air. Menurut mereka, almameter itu memiliki 'kesaktian' yang dapat membantu mereka meraih cita-cita. Kau tahu? Bahkan dengan mengenakannya saja, almameter itu 'menyihir' mental sehinggga ada rasa percaya diri lebih.

Setidaknya bagi mereka (soalnya ana sendiri memilih tempat lain, hehe).

Saudara-saudara dan teman-teman di seluruh tanah air pasti udah berbulan-bulan mempersiapkan diri. Berkali-kali TO mereka ikuti. Selalu, setelah TO, mereka membandingkan nilai yang diraih dengan nilai standar untuk mendapatkan kursi pendidikan tingkat tinggi di jurusan yang mereka inginkan dalam Universitas Indonesia.

Ana jadi teringat bagaimana medan persaingan kemaren, dalam PBS UGM. Jujur, mendekati hari pelaksanaan ujian tertulis ana merasa kurang percaya diri. Apalagi pernah terdengar sebagian orang berkata soalnya lebih sulit dari pada soal SIMAK UI. Dan (mungkin) itu benar ternyata salah (menurut temen yang ikut UTUL dan SIMAK juga pas ane liat lagi soal SIMAK yang dibawa temen).

Pada saat ujian berlangsung, pikiran ana langsung gak fokus. Tanpa ngelebih-lebihin, ana langsung bingung pas ngeliat soal. Ya, mungkin faktor psikologi ana yang lagi kurang fit. Dan karena itu mental ana langsung jatuh saat bel tanda ujian berakhir berbunyi. Rasanya... Gak mungkin ana lulus... Perasaan itu langsung ana tumpahkan dalam status dan ana bagi lewat blog ini: Penat Kecewa.

Rasa pesimis ini juga melanda sebagian peserta SIMAK UI. Yah, rasa pesimis dengan usaha mungkin lebih baik dari mereka yang malah santai dan menyepelekan. Seperti salah satu tweet temen ane beberapa saat sebelum SIMAK UI:

gue ga optimis, karena gue realistis..tweet

Apa yang terlintas dalam pikiran antum pas baca tweet ini?

Satu kata dan satu frase, 'realistis' dan 'gak optmis', mengingatkan ana sebuah kisah dalam novel Sang Pemimpi. Ketika Ikal mulai memikirkan dirinya sendiri yang jika dipikir-pikir akan bernasib sama seperti kawan jeniusnya dahulu, Lintang. Saat itu dia 'teracuni' oleh pikiran realistisnya bahwa seperti apapun dia belajar dan berusaha, dia tidak akan menjadi lebih dari kuli ngambat setelah SMA. Pikiran yang menghasilkan rasa pesimis ini mengakibatkan dirinya terdepak jauh dalam pelajaran setelah selama itu dia selalu duduk di kursi 'Garda Terdepan'.

Untungnya, setelah itu dia dinasehati oleh Gurunya dan saudaranya. Masih ada, walau semester lagi, dia memperbaiki diri dan menguatkan hati untuk mengejar cita yang bagai hanya khayal bagi remaja miskin di pelosok melayu: kuliah di altar agung Sorbonne.

Yang ana pelajari, pikiran realistis yang melemahkan itu karena itu adalah pikiran realistis parsial atau pikiran realistis sebagian (sok tahu, iseng bikin istilah sendiri). Mereka hanya menyadari kenyataan yang ada pada diri mereka tanpa melihat kenyataan di sekitar mereka mau pun kenyataan yang terjadi dalam sejarah.

Bukannya Thomas Alfa Edison tidak menempuh pendidikan formal tapi dapat menyiptakan berbagai penemuan bermanfaat modern? Bukannya dulu Galileo Galilei ditentang dalam kegigihannya dalam teori heliosentris? Bahkan ketika dia membuktikan bahwa perbedaan masa tidak memengaruhi kecepatan benda saat dijatuhkan secara bersamaan, orang-orang yang menyaksikan menganggapnya sebagai tipuan bahkan sihir?

Bahkan kita bisa belajar dari perkembangan Islam yang pesat (walau kini pemeluknya tengah mengalami degradasi iman dan ilmu, termasuk ana) padahal Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Salam adalah seorang yang buta huruf?

Pikiran realistis kita hanya melihat pada kekurangan tanpa melihat pada peluang. Tidak belajar dari sejarah pada orang-orang yang menurut kita tidak mungkin meraih pencapaiannya. Kejadian empiris yang seharusnya dapat kita jadikan pelajaran serta motivasi.

Jadi, jika berpikir realistis, jangan hanya memikirkan kelemahan diri, tapi pikirkan juga kejadian-kejadian yang tak mungkin terjadi namun nyatanya terjadi.

Semangat buat teman-teman yang berjuang dalam SIMAK UI atau jalur-jalur lain ke universitas-universitas lainnya!

Sabtu, 26 Desember 2009

Menyucikan Allah

بسم الله الرحمن الرحيم


Suatu hari termenung di pojokan masjid. Menatap keluar, memandangi pepohonan dan bunga-bungaan yang tertanam. Sebelah sana lagi banyak anak bermain sepak bola. Sedangkan diri ini sedang ingin sendiri, merenungi sesuatu.



Apa arti menyucikan Allah?

Apakah Allah memiliki kekurangan atau hal yang perlu disucikan dari-Nya?

Astaghfirullah... Setan membisikan hal yang buruk. Teringat hadits yang menyebutkan tentang hal ini. Was-was. Ketika tiba-tiba terbetik oleh kita, "Siapa yang menciptakan alam semesta ini beserta isinya?" Maka terjawab, "Allah," namun kemudian bisikan selanjutnya datang, "Lalu siapa yang menciptakan Allah?"

"Syetan akan datang pada salah seorang kamu, lalu berkata : “Siapakah yang menciptakan demikian ? Siapakah yang menciptakan demikian? Siapakah yang menciptakan demikian?” Sehingga dia bertanya : “Siapakah yang menciptakan Tuhanmu?” Apabila ia sampai demikian, maka hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dan menghentikannya”


Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari (2/321), Imam Muslim dan Ibnu Sunni. Diambil dari sini.

Tapi untuk 'menyucikan Allah' hati ini seperti menjawabanya. Menghubungkannya dengan suatu hadits tentang prasangka hamba tentang Rabbnya. (Sayang belum menemukan hadits atau terjemahan).

Ternyata menyucikan Allah bukan berarti menyucikan Dzat-Nya. Menyucikan Allah ternyata menyucikan prasangka kita terhadap-Nya. Karena sering kali kita tanpa sadar, walau hanya sedikit, tergelincir memiliki prasangka yang tidak baik terhadap Allah. Dan ternyata ini juga yang menyebabkan kelalaian dalam beramal.

Ketika menyepelekan suatu amalan yang saat itu utama dilakukan, bukankah saat itu juga menganggap ada hal lain yang lebih baik dari pada yang Allah janjikan bagi hamba-Nya yang melaksanakan?

Ketika melakukan suatu dosa dan menganggap hal itu kecil, saat itu pula kita menyepelekan peraturan Allah. Hanya melihat 'kadar' dosa, melupakan hikmah larangan yang Allah tetapkan.

Allah tidak pernah salah, sempurna dari segala kekurangan. Tapi kita yang sering kali lupa, lalai bahkan di sana ada orang-orang yang mengingkari keberadaan Rabb semesta alam.

Wallahu A'lam.
Ya Allah, maafkan atas segala kesalahan. Tunjuki jalan untuk perbaikan. Beri taufik untuk segera melaksanakan.

Syukran untuk Harun 'Eyyarz' yang nyindir ane gara-gara lama gak posting.

Minggu, 20 Desember 2009

FIRYAN! Siapin diri lo untuk masa depan!!!

بسم الله الرحمن الرحيم


SEMANGAT!!!

Apa kabar semua?

Baik?

Kurang baik?

Bahkan Buruk?!

Alhamdulillah dan Astaghfirullah... Apa pun yang dirasakan, hamdalah dan istighfar... Diberi nikmat dan kelapangan. Jelas berasal dari Ar-Rahman. Tapi bener nggak itu kenikmatan? Atau mungkin istidraj penambah kelalaian?

Alhamdulillah dan Astaghfirullah... Walau diberi ujian, masih diberi kehidupan. Mungkin ini sebagai pembenar keimanan. Ataukah ini peringatan?

Berserah diri, aku tidak mengerti. Hanya ada patron-patron petunjuk dari-Nya yang harus diikuti.

***


Ada yang lagi ujian? Semoga berhasil (dengan cara yang benar)!

Hari ini ane juga habis ikut ujian. Tepatnya Ujian Saringan Masuk Seleksi Mahasiswa Baru Bersama Telkom. Sekarang masih gelombang satu, nanti ada gelombang kedua.

Sebenernya masuk di perguruan tinggi ini bukan tujuan utama ane. Masih ada tekad daan keinginan untuk menjadi mahasiswa UGM! Insya Allah...

Banyak pilihan perguruan tinggi dan institut untuk melanjutkan pendidikan. Apalagi jurusannya. Macem-macem!

Tapi pastinya tiap jurusan dari setiap perguruan tinggi punya 'harga' yang harus dimiliki sebagai syarat bisa masuk. 'Harga' di sini selain berarti harga uang sebenarnya, juga bermakna Passing Grade atau apalah yang ane ngerti sebagai tolak ukur keenceran otak yang diambil pada saat tes.

Dan untuk memiliki 'harga' itu, kami harus berusaha.

Sayang, untuk ane sendiri usaha dan semangat masih minus. Padahal di lubuk hati ada gejolak amarah yang menuntut perbuatan dari keinginan dan cita-cita. Apalagi klo ngeliat berita tentang hal-hal yang menunjukkan kekurangan negeri ini, dan lebih khusus manusia yang hidup di atasnya. Hati panas tapi tetap malas. Parah!

Untuk mengubah dan menuju kebangkitan ane benar-benar harus perlahan. Apalagi sekarang ada target besar yang harus dicapai. Dan itu ditentukan dalam waktu dekat ini: masuk UGM.

Liburan ini lembaga-lembaga bimbingan belajar tetep ngadain kelas untuk kelas-kelas 'ujung'. Bahkan beberapa kali Try Out sudah digelar oleh lembaga pendidikan. Dan memasuki awal tahun, pasti sekolah memfokuskan siswa-siswi kelas 'ujung' agar siap menghadapi UN.

Ane lumayan seneng dengan hasil yang didapat dari Try Out yang pernah ane ikutin. Sekitar 50%, katanya udah termasuk "Good". Dan Alhamdulillah ane sendiri dapet peringkat ke-5 se-Bekasi. Tapi apakah nanti akan berhasil lagi? Mudah-mudahan gak tertipu dengan hasil percobaan, takut nanti lalai di medan perang.

Ujian tadi pagi juga 'relatif mudah' dibandingin sama soal-soal yang pernah dikerjakan sebelumnya. Tapi untuk ujian tadi pagi, salah satu hal yang dijadiin pertimbangan itu besarnya kontribusi sumbangan pendidikan yang kita tulis bahwa kita bersedia memberikan segitu. (mudah-mudahan gak salah nulis, husnudzhon ya!) Jadi agak pesimis...

Well, gak boleh patah semangat. Bukan prioritas utama ini :p Dan walau pun gak dapet di UGM, kita semua harus tetep berkarya. Setuju?

Sebenarnya untuk nyemangatin diri, ane berpikir:

Supaya bisa berkarya dan bermanfaat sebaik mungkin, maka kita harus bisa belajar di universitas yang terbaik!


Nah, nanti klo ternyata gak dapet, baru deh:

Di mana pun kita kuliah, kita masih hidup dan hidup kita harus kita jadikan berharga sebaik mungkin. Karya seseorang nggak ngeliat di mana dia kuliah, yang penting berusaha dan selalu optimis!


Yap! Terus beribadah, berkarya!

Rabu, 28 Oktober 2009

Sumpah Pemuda dan... Ayo!



Delapan puluh satu tahun lalu, pada tanggal ini, para pemuda yang juga pejuang pembela daerahnya dari penjajah menyatukan diri, menyamakan cita-cita, saling bertoleransi menghilangkan fanatisme daerah karena merasa satu, senasib, sejiwa sepenanggungan sebagai bangsa Indonesia.

Tidak, bukan berarti mereka melupakan tradisi dan beberapa ciri khas daerah yang menjadi kekayaan Indonesia, tapi di tengah keberagaman, mereka bersatu saling padu menorehkan sejarah yang terus dikenang hingga kini. Menyindir tiap pemuda-pemudi tiap tahun, sesuai zamannya. Sindiran yang tak ditoleh atau jarang ditanggapi kecuali hanya sebagai formalitas, sebagai momen menghindar dari pelajaran saat harus diadakan upacara.

Mereka tidak melupakan bahasa daerah masing-masing, tapi tetap bangga dengan bahasa persatuan: Bahasa Indonesia! Bahasa yang sebenarnya simpel, indah dan menarik, tapi banyak dianggap lapuk menandakan pribadi kaku.

Padahal tidak.

Sangat jauh, seperti sahabat Shiddiq yang terus menulis melalui media blog menyemangati kita untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Mari kita dukung bersama!

Justru kitalah yang sekarang aneh, bingung dengan kenyataan yang terjadi, bimbang akan masa depan yang tak pasti sehingga hidup seenaknya seakan tak ada tujuan.

Semangat yang berganti, menjadi fanatisme tak berarti. Fanatisme buta! Walau tidak seluruhnya, tapi banyak hal tentangnya yang mesti kita sesalkan dan perbaiki.

Apa sih? Mana buktinya?

Tidakkah perlu disesali saat terjadi tawuran antar sekolah yang terjadi karena masalah sepele?

Atau keributan antara dua kubu suporter tim sepakbola lokal yang kekanak-kanakan dan penuh emosi?

Ketika kita memaklumkan kecurangan untuk diri sendiri dan sewot untuk lawan?

Harus diperbaiki! Harus berubah! Tidak boleh malu dan canggung untuk memulai! Tapi harus sadar dan paham apa dan bagaimana...

Bersama mereka, para pengharum bangsa yang bagi kita seakan para ratu dan raja dari negeri dongeng. Karena kita terus bermimpi dan hanya bermimpi!

Tepat rupanya lomba SEO 'Start Action Stop Dreaming' selain ajang kompetisi tapi juga sarana untuk memotivasi diri.

Dan, itulah kekuatan blogosphere yang menyuarakan semangat lewat kompetisi keyword. Serta inilah aku yang berusaha membenahi diri sembari mengajak yang lain untuk bersama maju.

Minggu, 25 Oktober 2009

Daging dan Tenaga Ini, Baik atau Burukkah?



Assalamu'alaikum!

Apa kabar? Baik atau burukkah? Mudah-mudahan baik dan tentu saja tidak ada yang mengharapkan buruk. Sudah makan? Saat menulis ini, Alhamdulillah tadi aku sudah makan-maaf bukan menulis hal yang tidak penting atau pamer tentang makanan yang baru kumakan karena aku pun berasal dari keluarga biasa dan tentu makanan kami biasa.

Yang ingin kubagi bersama hanya apa yang mungkin terlintas dalam benak para orang-orang shalih ketika mereka makan. Bismillah, dan mereka mulai memasukkan makanan sesuap
demi sesuap, dan kurasa jarang di antara mereka yang memilih makanan istimewa. Dalam hal porsi, tidak dapat dibilang sedikit tapi benar-benar secukupnya untuk menegakkan tulang punggung mereka. Sekedar, karena tujuan mereka makan adalah ibadah dan mereka memohon keberkahan dari apa yang nanti tumbuh menjadi daging mereka, berharap tenaga yang dihasilkan disalurkan untuk kebaikan.

Dan, renungan ringan kumulai saat aku menyendok suapanku. Cemas, akan menjadi apa makanan yang kukunyah ini? Aku berdosa dan entah mengapa walau terus menyesal tetap kuulangi lagi dosa itu. Takut dari apa yang kumakan sekarang hanya menghasilkan dosa. Setan membisikkan agar aku jatuh, bahwa percuma memohon dengan keadaan berdosa, baru saja melanggar ketentuan-Nya, karena aku ingin berharap Dia menganugerahiku taufik dan tenaga dari makanan ini untuk bertaubat atau mengamalkan kebaikan. Baru sekedar ingin berharap, dan setan serta rasa pesimis menggodaku terpuruk lebih dalam.

Tak tahu apakah saat ini aku akan bernasib sama dengan yang saat itu juga tengah makan lalu meninggal beberapa saat kemudian dalam bencana alam-bencana alam yang kini terus bertubi dan datang tanpa prediksi. Zaman fitnah, zaman penuh fitnah tapi ini bukan salah zaman. Salah manusia yang hidup di dalamnya.

Rasa nikmat yang sering membuat diriku merasakan ada yang hilang pada bagian dadaku. Rasa yang akan dipertanggungjawabkan, sedang di sekitar, perut lapar yang tak mampu mendapatkan makanan-bagaimana pun rasanya-untuk melindungi lambungnya dari asam yang keluar seakan percuma karena tidak ada bahan yang masuk untuk dicerna.

Dia tidak pernah dzhalim, ketentuan memang telah ditetapkan tapi keadaan tunduk dan sesuai dengan takdir melalui proses sebab-akibat juga. Dan penyebab dari semua ini-tidak usah ditanyakan lagi.

Waktu itu sempat heran dengan pernyataan seorang salaf terdahulu yang menyatakan sungguh beruntung dia yang masuk surga terakhir. Dia yang terakhir kali dikeluarkan dari neraka. Meminta dipalingkan dari neraka, didekatkan ke surga kemudian berharap masuk ke dalamnya. Padahal setiap sebelum dikabulkan permintaan, selalu ditanyakan kepadanya akankah ia meminta permintaan lagi? Selalu dijawab tidak, tidak akan lagi. Dan Rabb tersenyum saat mengabulkan permintaannya. Juga saat Rabb menawarkannya untuk mendapatkan sepuluh kali lipat dunia beserta seluruh isinya saat ia meminta dimasukkan ke dalam surga. Ya, Rabb tertawa saat orang itu merasa diperolok dengan ditawarkan hal remeh itu dibandingkan surga.

Baiklah, memang semua yang beriman, walau sebesar dzarrah, akan masuk surga. Tapi tidak beriman hanya untuk saat ini. Yakinkah kita tidak tergelincir, bukan nanti, bahkan saat ini? Sebesar apa rasa percaya diri bahwa iman ini bertahan sampai meninggal nanti?

P.S. : Oh, ya. Saat ini aku sedang butuh tarhib (ancaman, peringatan) lebih banyak akibat lalai. Tapi aku tidak ingin kehilangan sayap-sebagaimana para ulama mengibaratkan khauf (rasa takut) dan raja` (rasa harap) sebagai dua sayap bagi seorang mu`min. Aku mengharap ampunan atas segala kesalahan.

Rabu, 16 September 2009

أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

Bismillah

أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

Artinya adalah

"Aku menitipkan agama, amanah dan penutup amalmu"

Itu doa Musafir kepada yang Mukim

Sedangkan doa Mukim untuk Musafir:

زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُ مَا كُنْتَ

yang artinya
"Semoga Allah memberi bekal taqwa kepadamu, mengampuni dosamu dan memudahkan kebaikan kepadamu di mana saja engkau berada"

Kenapa ane posting doa itu? Karena mudah-mudahan saat postingan ini terbit, ane sudah memulai perjalanan mudik ke kampung.

yah... mungkin ini postingan terakhir sebelum hari 'Iedul Fitri... Harusnya berisi wasiat karena siapa tau...

Tapi mungkin ada beberapa hal yang ingin ane sampaikan...

Pertama: Iedul Fitri artinya bukan kembali kepada fitroh... kata fitri di sini berarti berbuka atau makan karena berhubungan dengan shaum kita selama sebulan penuh, maka di hari itulah kita berbuka dari shaum tadi.

Hal kecil mungkin, tapi untuk disampaikan perlu juga kan? Coba cek di artikel ini, Bimbingan Iedul Fitri dari Muslim.or.Id!!!

Kedua, ane sangat berterima kasih untuk kawan-kawan ane yang udah memberi nasihat di mana pun termasuk melalui Facebook.

Ane inget kemaren minta nasihat lewat status lalu dinasihati lewat komentar... Dua komentar yang paling ane suka:

dari M. Rasyid Aziz:
nasehat? simple aj. besok ad yang jamin bisa mbuka mata?

Walau paham, tapi belum sadar sepenuhnya saat itu sampai diberikan lagi peringatan...

lalu dari Andry Randy Arbiyantama:
Pesan gw simpel aja, jangan ngerasa paling bener gara gara ngerasa punya ilmu lebih

Rasa lebih itu racun! Syukran semuanya! Jazaakumullah khaira!

Ketiga, pernyataan umum dan mungkin sering, ane harus bertaubat dan ane mengajak kita semua bertaubat...

Minggu, 30 Agustus 2009

Prestasi Yang Paling Membuat Bangga

prestasi terbaik

Malem ini ngantuk, tugas bagian depan LKS, jenis 'Lembar Kratifitas Siswa' yang sebenarnya bikin males tapi ane harus bersabar mengerjakannya udah lebih separo insya Allah.

Tapi hari ini ada hal istimewa untuk dibagi, yang bikin ane semangat membuka halaman browser untuk mengakses blogger, mengetik huruf per huruf sembari membayangkan kembali kegiatan tadi terulang dalam benak dan mencoba merasakan lagi apa saja yang terlintas dalam hati. Memostingnya untuk berbagi...

Ifthar Jama'i bersama ikhwan dan akhwat dari Rohis beberapa SMA atau sederajat se-Bekasi Selatan, untuk ini ane bingung ungkapan apa yang cocok karena sebenarnya ada perasaan kurang suka, tapi bagian menarik terjadi saat acara ini berlangsung.

Bagian itu terjadi saat pemberian materi motivasi, lebih tepatnya saat Pak Trainer mengadakan sesi di mana para peserta diminta membuat kelompok untuk tiap orang di dalamnya menceritakan prestasi yang paling membanggakan.

Suasana Perpustakaan Darul Ulum Islamic Center Bekasi sepertinya agak panas yang membuat gerah, kondisi yang kurang pas. Tapi ane, yang disuruh jadi moderator dadakan melihat dari depan beberapa peserta yang tetap antusias bercerita.

Yah, harus disebutkan juga mungkin sebagian yang bosan dan kurang tertarik atau hanya ikut tanpa inisiatif menanamkan materi pada usahanya.

Setelah sekitar sepuluh menit, kelompok yang ditunjuk harus memilih salah seorang yang prestasinya paling keren untuk maju, berbicara, memberi tahu semua yang hadir tentang prestasinya.

Pak Trainer bergerak ke depan-belakang memilih kelompok. Satu persatu kelompok mengirim utusannya berbicara, hingga Pak Trainer ke bagian belakang lagi, memilih salah satu kelompok akhwat.

Ternyata yang diutus adalah salah seorang akhwat satu sekolah, di Facebook sekarang ini dia memberi nama Asy-Syahid di belakang namanya.

Sebenarnya ane udah tau klo dia yang maju, prestasi apa yang bakal dia angkat (tentu tidak boleh dengan rasa sombong) karena pernah baca tulisan di blognya yang lama.

Ane akui, prestasinya luar biasa.

Saking luar biasanya, sesuatu dari hatinya membuat kedua matanya mengalirkan air mata...

Ya, butuh beberapa menit sampai dia bisa tenang untuk memulai berbicara.

Apa prestasinya itu?

Ya Ikhwati Fillah, prestasi tersebut adalah melakukan suatu kewajiban yang sekarang ini terlalu banyak dilalaikan, dianggap hanya suatu budaya dan ditinggalkan. Bahkan jika bisa dibilang banyak yang melakukan kebalikannya!!!

Perintah Allah nan Agung lagi Mulia tersebut adalah: berhijab serta berubah untuk menjadi seorang Muslim (klo dia Muslimah) yang baik...

Ane rada kesel ama beberapa akhwat yang sepintas terdengar mengatakan hal yang serupa dengan, "Cuma segitu...?" karena sebenarnya ini adalah masalah hidayah yang amat besar!!!

Entah apa yang sebenarnya yang dia rasakan kala itu, tapi yang 'nyampe' ke hati ane (baca: yang ane kira dia lagi rasakan) adalah rasa syukur yang sangat dan betapa spesialnya prestasi tersebut walau saat itu ia tengah berada di sekitar dua puluhan akhwat yang sudah terbiasa memakai kerudung.

Atau mungkin teringat saat belum memakai hijab.

Jika betul yang terakhir, mudah-mudahan manisnya iman yang ia rasakan juga dapat kita nikmati?

Ya, karena bukankah salah satu orang yang merasakan manisnya iman adalah orang yang tidak mau kembali kepada kufur sebagaimana ia pun benci masuk neraka?

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dia berkata, " Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, artinya,

"Ada tiga hal, yang jika tiga hal itu ada pada seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu); Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; Mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah; Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya, sebagaimana bencinya jika dicampakkan ke dalam api." (Muttafaq 'alaih)


Sedangkan keadaan sebelumnya tidak separah kekafiran dan itu telah membuat adanya air mata yang berlinang?

Hmm... Itu kesimpulan ane sendiri memang, entah apa bisa dipakai atau tidak, tapi setidaknya itu memberikan motivasi dalam diri ane.

Saat ia terus berbicara, ane rasa suasana menjadi sedikit hening...

Sebenarnya ada juga ikhwan yang prestasinya sama nilanya bahkan mungkin lebih.

Percaya atau tidak, menurut pengakuannya, sebelumnya ia belum percaya akan keberadaan Allah dan beranggapan bahwa setelah kematian tidak akan ada apa-apa lagi.

Seperti bukan orang Islam, bahkan seperti atheis, padahal kala itu ia sudah memeluk Islam.

Bukti bahwa kini ilmu tentang aqidah yang merupakan inti dari Islam amat terasing, walau tidak separah sampai kebanyakan berangggapan seperti yang barusan.

Ia mengakui akan kebenaran keberadaan Allah dan Hari Kiamat setelah bertemu dengan beberapa guru yang menasihatinya.

Hanya saja benar-benar membuat panas hati saat ada yang bilang, "Lebay..."

Padahal seharusnya kita benar-benar menghargainya, memberinya dorongan serta belajar darinya akan mahalnya nilai hidayah.

Mungkin faktor penampilan? Entah...

Tapi yang pasti seharusnya kita harus melihat sisi hikmahnya karena hikmah bagi mu`min itu bagaikan hukum barang hilang: di mana pun ia menemukannya, ia berhak mengambilnya.

Ane teringat atsar Ali Bin Abi Thalin Radhiyallahu 'Anhu:

Lihatlah pada apa yang diucapkan dan jangan kau lihat siapa yang mengucapkan


Untuk kedua orang di atas, ane kagum akan kesadaran antum akan betapa berharganya hidayah yang kini di dapat, walau diri masih jauh dari 'baik', mudah-mudahan ane juga menyadarinya.

Serta bangga walau itu bagi orang lain remeh...

Ane teringat suatu momen, saat sang akhwat masih berbicara, ada yang bertakbir dari belakang.

Sejujurnya ane juga dari tadi memiliki keinginan untuk bertakbir, keinginan yang muncul tiba-tiba.

Saat ia benar-benar selesai, ada yang bertakbir lagi, takbir yang membuat ane refleks bertakbir juga,

ALLAHU AKBAR!!!




P.S.: Blognya akhwat yang satu sekolah itu masih ada ternyata, tapi gak ane kasih tautannya soalnya ada foto-fotonya. Ohya, dia kayaknya juga harusnya ngikutin Yakurai dalam masalah foto di Facebook, coba lihat fotonya yang dipasang di blog Yakurai, cantik kan? Hehehe...

Ya, untuk sekarang cantikkan begitu, karena keindahannya yang sebenarnya hanya untuk suaminya kelak...

Semoga semua ikhwan dan akhwat mendapatkan hidayah taufiq untuk menjadi Muslim/Muslimah sejati serta memperoleh pasangan yang tampan/cantik plus shalih/shalihah serta dapat menghantarkan ke surga...

Allahumma Amiin...

Selasa, 11 Agustus 2009

Patronus...



Assalamu'alaikum!! Coba tangkap apa yang dipikiran secara spontan pas ane sebut dua hal: 'Raditya Dika' dan 'Harry Potter'!

Raditya Dika, Harry Potter, dua hal yang terkenal... Mas Radit dengan kehidupannya yang absurd dan lucu juga Harry Potter yang katanya ceritanya seru dan pemerannya ganteng kayak ane.

Nah, lalu kalau Mas Radit menulis yang berkaitan dengan Harry Potter? Bagaimana ya...?

Bagian dari Harry Potter yang dibicarakan Mas Radit adalah Patronus... Apa itu?

Masa gak tau? Walau gak demen-demen amat, ane paham kok...

Patronus adalah nama salah satu mantra di dunia sihirnya Potter yang berguna mengusir Dementor.

Dementor? Apa lagi tuh?

Dementor ntu makhluk ghaib yang diceritakan dalam buku J.K. Rowling sebagai pengeksekusi penjahat dengan hukuman terberat: menghisap atau menghapus seluruh kebahagiaan...

Serem kan? Tapi udah ngarti blom?

Nah, klo udah terkoneksi, kita lanjutkan(!)

Dalam cerita, untuk mencegah Dementor yang berkeliaran dan salah sasaran, kita harus menggunakan mantra Patronus, yaitu ucapan 'Expecto Patronum'. Jika berhasil maka akan muncul pendaran perak berkilau berwujud hewan yang masing-masing orang berbeda dengan yang lain.

Tapi bukan cuman itu! Saat mengucapkannya kita harus mengingat suatu hal yang membuat diri kita bahagia dari kenangan atau apapun yang bisa kita timbulkan dalam diri kita sehingga membuat semangat positif.

Mas Radit menganalogikan Dementor dengan hal-hal di kehidupan kita yang membuat diri kita patah semangat, bad mood, lemas, marah, gondok, melenyapkan motivasi, bikin males ngapa-ngapain de-el-el deh....

Untuk mencegah 'Dementor' itu menyerang kita, kita harus punya Patronus sendiri seperti kegiatan yang membuat kita nyaman dan refreshed...

Sayangnya, beberapa 'Patronus' Mas Radit kurang baik, walau ada yang unik, yaitu berlari di senayan sambil melihat ke arah pintu-pintu yang seakan bergerak.

Lagi pula permisalan yang dipakai kan sihir dan sesuatu yang nggak nyata, menurut ane sih kurang bagus pula...

Tapi emang yang bisa diambil bermanfaat!