Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Januari 2013

Dosa Itu Menyakiti Alam Semesta

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu'alaikum!

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, pernah mendapatkan ayat ini dan sedikit banyak merenunginya?

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)

Pernah, insya Allah, ketika tilawah atau ada pengajian yang membahas ayat ini. Saya sendiri teringat masa-masa SMA ketika dibacakan ayat ini.

Ketika itu yang dibahas adalah tentang Islam dan lingkungan, bahwa Islam mengajarkan pemeluknya untuk memperhatikan dan menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Menjaganya dengan tidak membuang sampah sembarangan, menolak penebangan pohon secara liar, melakukan reboisasi dan lain sebagainya. 'Perbuatan tangan manusia' yang menjadi sebab kerusakan alam di ayat itu lebih dibawa ke makna kelalaian kita yang berkaitan langsung dengan rusaknya ekosistem.

Well, itu benar. Tapi yang lebih tepat ternyata tidak hanya mencakup kesalahan manusia yang berkaitan dengan ekosistem lingkungan, tapi semua dosa yang ia lakukan.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ وَمَا لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا ظَهَرَ فِيهِمُ الأَمْرَاضُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ فِي أَسْلَافِهِمِ وَمَا مَنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَ مَا لَمْ يُطَفِّفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِجَوْرِ السُّلْطَانِ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَالسِّنِينَ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيْدٌ

“Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara, jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatkannya. Tidaklah muncul perbuatan keji (Zina,merampok, minum khamr, judi, dan lainnya) pada suatu masyarakat, sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang sebelum mereka. Orang-orang tidak menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan. Tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan kezhaliman pemerintah, kehidupan yang susah, dan paceklik. Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Allah. Dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan yang keras di antara mereka.”

Ya, benar bahwa kesalahan kita buang sampah atau limbah sembarangan itu merusak alam. Tapi ternyata perbuatan dosa kita yang lainnya pun menyakiti alam semesta. Apakah itu berbohong, memandang yang haram, berbuat curang, ghibah dan lain sebagainya.

Hal lain yang menunjukkan hal tersebut adalah suatu hadits yang menyebutkan bahwa pada asalnya hajar aswad diturunkan berwarna putih. Lalu ia lama kelamaan menjadi hitam karena disebabkan perbuatan dosa yang dilakukan manusia.


Oleh karena itu dalam suatu hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda

أَبِي قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِيٍّ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

Abu Qatadah bin Rib'i Al Anshari, ia menceritakan bahwasanya Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam pernah dilewati jenazah, kemudian beliau bersabda: "Seorang yang beristirahat dan orang yang orang lain beristirahat darinya". Para sahabat bertanya; 'Wahai Rasulullah, apa maksud anda ada orang beristirahat dan orang yang orang lain beristirahat darinya? ' Jawab Nabi: "seorang hamba yang mukmin akan beristirahat dari kelelahan dunia dan kesulitan-kesulitannya menuju rahmat Allah, sebaliknya hamba yang jahat, manusia, negara, pepohonan atau hewan beristirahat darinya (dari kejahatannya)."(Hadits disalin dari situs Hadits Online dan terjemahnya dirubah sedikit oleh Blogger).

'Hamba yang jahat, manusia, negara, pepohonan atau hewan beristirahat darinya (dari kejahatannya)', mereka (manusia, negara, pepohonan atau hewan) beristirahat dari fajir, pelaku dosa, yang dosa-dosanya menyakiti alam dan isinya.

CMIIW

Wallahu A'lam bish-shawaab. Kesalahan dari ana pribadi, kebenaran datangnya dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Artikel ini terinspirasi dari salah satu video dari channel Rodja TV di YouTube yang berjudul 'Dosa Menyakiti Alam dan Seisinya'.

Ayat dah hadits pertama beserta terjemahnya disalin dari ssalah satu artikel Muslim Afiyah yang berjudul 'Banjir, Sebaiknya Jangan Cari Kambing Hitam Apalagi Pemimpin/Gubernur'.

Selasa, 22 Januari 2013

Something Scary -- Tergesa-gesa, Malah Tak Dapat Apa-Apa

بسم الله الرحمن الرحيم

"من استعجل الشيء قبل أَوانه عوقب بحرمانه"
Barang siapa yang tergesa-gesa ingin memetik sesuatu sebelum saatnya, niscaya ia akan dihukum dengan kegagalan mendapatkan sesuatu tersebut.

Kaidah ini disebutkan oleh Ustadz hafidzhahullah dalam kajian aqidah tanggal 9 Rabi'ul Awwal 1434 H, 21 Januari 2013 M.


Sabtu, 03 September 2011

khayalan ba'da lebaran: 'kapsul'

بسم الله الرحمن الرحيم
Alhamdulillah, nyampe Jogja lagi. Setelah 5 hari berlebaran di Kebumen, ketemu sanak sodara, walhamdulillah.

Btw, itung-itung belum ada 7 hari dari lebaran, jadi



 TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM!!

Ohya, sejak beberapa tahun lalu ane mempertanyakan keistimewaan Ramadhan dan lebaran. Tentu Ramadhan dan Idul Fitri istimewa, tapi... Entah kenapa rasanya kita yang bebal memaknai keistimewaan tersebut. Keistimewaan yang ada hanya sebuah rutinitas tahunan. Makanya pas mau masuk lebaran ane sempet sms ke temen-temen tentang sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bahwa celaka orang yang tidak mendapat ampunan padahal dia berjumpa dengan Ramadhan.

Gitu juga dengan keistimewaan 1000 bulan Lailatil Qadr. Padahal yang pernah ane baca kalo gak salah tangkep, keistimewaan adanya malam itu bagi umat Muhammad ini tidak lain untuk menandingi ibadah orang-orang dahulu yang usianya ratusan bahkan ribuan tahun. Kalo umur kita yang paling lama aja seratuslimapuluhan atau sekitar itu, ibadah kayak gini dan gak nyari keutamaan lailatal qadr?

Makanya, ada postingan menarik dan sayang aja baru mosting sekarang

Spoiler:


Sungguh Pede Sekali!

Sungguh PeDe sekali
Orang yang ketika Idul Fitri
Merasa sudah suci
Dosa-dosa tak bersisa lagi
Dan kembali seperti bayi

Padahal ia puasa sekedar ikut tradisi
Shalat tarawih cuma beberapa hari
Baca Qur’an hanya sesekali
Sedekahnya ingin dipuji
Larangan agama pun tak dijauhi

Lailatul Qadar, ia tak peduli
Sibuk pikirkan gaji bulan ini
Katanya untuk baju anak-istri
Kalau halnya begini
Mungkinkah dosa-dosa diampuni?

Eh, ketika Idul Fitri
Ia merasa sudah suci
Dosa-dosa tak bersisa lagi
Dan kembali seperti bayi
Sungguh PeDe sekali

(Sumber: Sungguh Pede Sekali!)

Ane merasa udah menyia-nyiakan Ramadhan tahun ini. Tapi, pas mau berharap disampaikan Ramadhan tahun depan, takut waktu antara dua Ramadhan malah berisi dosa, dan Ramadhan tahun depan sama aja.

Oleh karena itu, ada kutipan dari sms tahniah Idul Fitri dari 'adik perempuan' ane yang mengena buat ane:

n semoga ketaqwaan tak surut walau meninggalkan Ramadhan

Hm, kira-kira gitu. Tapi ane lupa aslinya karena smsnya udah diapus.

Ohya, perjalanan ke Jogja tadi, ane naik angkutan tiga perempat yang kayaknya nekat ngambil trayek ke Jogja. Karena emang bus-bus pada penuh, sehingga mungkin mereka melihat kesempatan bagus. Mana tarifnya lumayan, trus maksa lagi masukin penumpang. Taukan maksud maksa di sini? Jadi, udah jejel-jejelan di dalem, masih aja nyari penumpang lain. Trus, kayaknya keneknya gak terlalu paham daerah sekitar Jogja. Jadi sempet salah belokan. Hahaha.

Untung ada temen smsan, jadi pikiran teralihkan ke cerita hidup sang temen yang mau ikut LDK tanggal 6 ini insya Allah. Seperti biasa, arah pembicaraan ngalor-ngidul tapi lumayan ngebangun mood.

Nah, karena pas nyampe Jogja relatif sepi, dengan mood kayak gini, ane iseng jalan-jalan. Gak menarik amat sih tujuannya, cuma ke Maskam untuk shalat Maghrib di sana. Tapi enak aja jalan kaki sore-sore pas keadaan masih sepi, ngeliatin aktivitas di lembah UGM.

Pas gini nih, serasa gak ada beban, jalan ke tujuan danpa dipedulikan orang-orang. Asik menikmati sebagai penonton dan sehat pula!

Dulu waktu baru-baru di Jogja, niatnya pengen sering-sering jalan dari kosan ke kampus. Tapi karena kegiatan juga, dan mungkin rasa males yang datang, jadi jarang banget. Mudah-mudahan semester ini bisa, karena ngarep juga dari jalan kaki tadi, kesehatan dan stamina membaik.

Masalahnya kalo udah di kampus trus ternyata harus ke tempat lain yang lumayan jauh sedang motor di kosan dan waktu mepet. Kalo ke kosan dulu, pasti gak kekejar. Masa harus ngorbanin kebiasaan jalan kaki, bawa motor terus biar mobilitas tinggi?

Ane mengkhayal ada teknologi 'kapsul' yang kayak di kartun Dragon Ball dulu, tau kan? Teknologi yang nyimpen kendaraan di kapsul kecil. Jadi kita enak. Jalan kaki sesukanya, tapi kalo dibutuhin ya tinggal ngebanting kapsulnya dan muncullah kendaraan kita. Selain itu, bisa ngehemat lahan parkir lagi!

Haha. Mungkin gak sih?

Well, namanya juga khayalan. Sekarang udah ada sih sepeda lipet, tapi tetep aja berat dan repot, mana belum punya (dan harganya relatif mahal bagi ane lagi!).

Tapi, emang kalo ada teknologi 'kapsul', biayanya gak mahal?

Uh, ribet juga kalo mau nyelarasin kenyataan dan khayalan. Bikin ngantuk aja, hahaha.

Sekian, oyasuminasai! Wassalamu'alaikum.

Rabu, 24 Agustus 2011

"Tadi jatoh kayaknya pertanda sial..."

بسم الله الرحمن الرحيم

Woi. Ane mengalami beberapa kesedihan. Banyak sih, tapi yang dibahas di sini ada tiga. Pertama, temen yang ane anggep temen terbaik pas SD baru saja mengalami kecelakaan. Tangan dan kakinya patah dan bahkan infonya ginjalnya sobek. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Selain itu, senior ane di organisasi juga sakit. Padahal Beliau kemaren-kemaren cerita ke ane tentang rasa sakitnya yang bikin dia selalu memuntahkan kembali hidangan yang di makan. Padahal dia juga puasa. Trus akhirnya hari kemaren gak ke sekre dan malem tadi dirawat di RS PKU Muhammadiyah Jogja.

Tolong doanya untuk mereka, juga saudara-saudara kita lainnya yang tengah tertimpa musibah di belahan dunia mana pun.

Udah gitu, kemaren sore ane juga sempet ketabrak pas ngendarain motor. Mana lagi bonceng temen. Kesalahan ane sih.

Nah, entah kenapa karena tiga hal ini tiba-tiba perasaan ane jadi gak enak. Langsung ada was-was, jangan-jangan pas ane jatoh, ada kerabat atau temen yang kenapa-napa. Allahumma nas alukal ‘afwa wal ‘afiyah.

Rasa was-was ane ini yang mau ane obrolin. Rasa yang kayaknya timbul karena pas kecil sering ngikut Ibu nonton sinetron. Di sinetron suka ada kan, ketika pemeran utama ngalamin kecelakaan, pada saat yang sama entah kenapa di scriptnya pasangan si pemeran utama juga ngalamin kecelakaan kecil kayak tangannya kena piso mas motong-motong lah, atau yang semisal. Itu bikin kita jadi suka ngehubung-hubungin antarkejadian yang padahal gak saling berhubungan. Atau mungkin bisa dibilang, suka nganggep kejadian itu sebagai pertanda sial.

Trus kenapa? Karena ternyata dalam Islam ini ada pembahasan sendiri. Inilah yang disebut dengan tathayyur atau thiyarah.

Bagi yang telah terjatuh dalam tathayyur atau thiyarah ini, ternyata dianjurkan membaca sebuah doa.

Apa itu tathayyur? Dan bagaimana doanya? Ternyata sudah banyak yang membahasnya, jadi ane copas plus ane sertakan sumbernya. Monggo...

Spoiler:

Berapa nomor rumah Anda? Hah, 13???

Eh, kamu kan masih perawan, nggak boleh duduk di depan pintu, nanti susah dapat jodoh

Sebentar lagi akad nikah, kamu nggak boleh keramas dulu, nanti bisa turun hujan, kacau kan acaranya nanti..

Jangan duduk di bantal, sayang, nanti bisa bisulan

Jangan melangkahi padi, nanti bisa celaka kamu!

Jangan makan yang asam-asam setelah magrib, nanti ditinggal mati ibu lho..




Dulu, ketika saya tinggal di desa, saya mengira bahwa yang namanya tathayyur (yang lebih dikenal di Indonesia dengan nama pamali dan semisalnya) itu hanya dipercayai orang-orang pedesaan atau mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan yang rendah. Namun, anggapan itu ternyata 1000 % salah. Sebab, banyak pula orang yang tinggal di perkotaan dan orang yang memiliki latar belakang akademis yang tinggi, percaya juga dengan yang seperti itu.

Di antaranya seorang artis terkenal di ibu kota (tak perlu saya sebutkan namanya).

“Kata orang tua, kalau cari cowok jangan yang beda 6 tahun..” tutur artis itu, “Sebenarnya nggak mau percaya. Tapi karena sudah dengar dari orang tua, jadi mau nggak mau terpengaruh juga. “

Lantas apa konsekuensi dari kepercayaannya itu? ia berkata, “Jadi mau seganteng apapun cowok itu, begitu tahu beda umurnya 6 tahun, aku langsung ilfil”

Ironis. Dengan statusnya sebagai publik figur yang pernah mengecap dunia akademis di suatu sekolah tinggi bertaraf internasional, bisa-bisanya ia percaya dengan yang seperti itu. Kemajuan teknologi di era internet dengan segenap inovasi yang begitu cepat dan memukau, ternyata tak cukup untuk menghapus keyakinan yang sama sekali tak bisa dicerna oleh akal sehat. Tathayyur memang masih menjadi konsumsi (sebagian) masyarakat.

Apa Itu Tathayyur?

Thiyarah/Tathayyur secara bahasa berasal dari kata طير (burung). Karena, orang Arab jahiliyyah dulu bisa pesimis dan optimis disebabkan burung. Ketika akan bepergian, mereka melepaskan burung dahulu. Kalau burung itu terbang arah kanan, mereka pun optimis dan jadi berangkat. Tapi kalau burung itu terbang ke arah kiri, mereka pun pesimis dan membatalkan kepergian, karena mereka yakin akan datang kesialan.

Adapun secara istilah, Tathayyur adalah sikap pesimis terhadap sesuatu yang didengar atau dilihat atau diketahui. Seperti keyakinan orang Arab dulu terhadap burung hantu. Jika mereka mendengar suara burung hantu, mereka yakin kalau itu pertanda akan ada orang yang akan mati. Dan juga keyakinan mereka bahwa bulan Shaffar adalah bulan sial. Begitu pula Syawwal. Tersebar di kalangan Arab dahulu bahwa wanita yang menikah di bulan syawal tidak akan bahagia dan tidak pula dicintai suaminya. Padahal ibunda kita, Aisyah رضي الله عنها Menikah dengan Nabi صلى الله عليه وسلم di bulan syawal dan dicampuri pula pada bulan itu pula, lantas bagaimana keadaannya setelah menikah? Ia berkata, “Siapakah di antara kalian yang lebih beruntung dariku?” (HR. Muslim: 1423)

Dan masih banyak lagi contoh thiyarah yang beredar di antara mereka.

Adapun di zaman sekarang? Tak terhingga sepanjang masa. Tinggal anda kumpulkan data-datanya lalu serahkan ke KPK (Komisi Pemberantasan Kesyirikan), biar mereka yang mengusut semua itu lalu menangkap para tersangkanya.

Apa Hukum Thiyaroh?

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik
Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata, “Dan tiada seorangpun dari kita kecuali (merasakannya). hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya”. (HR Abu Daud: 3910)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda; “
Siapa yang mengurungkan hajatnya karena thiyarah, berarti ia telah berbuat syirik
” (HR Ahmad: 7045)

Dari dua hadits di atas Rasulullah صلى الله عليه وسلم menegaskan bahwa thiyaroh adalah syirik. Lantas syirik apakah itu? Syirik besar atau kecil?

Perlu dirinci:

1. Jika seseorang meyakini bahwa sesuatu yang ia anggap sial itu memang membawa kesialan dengan sendirinya, tanpa ada andil dari Allah عز وجل sedikitpun, otomatis terjerumuslah ia ke dalam syirik akbar. Lantas apa konsekuensinya jika ia terjatuh ke syirik akbar? Bisa lihat di sini.

2. Jika seseorang meyakini bahwa sesuatu yang ia anggap sial itu hanya sekedar sebab kesialan saja, sedangkan yang menentukan adalah Allah عز وجل, otomatis terjerumuslah ia ke dalam syirik ashghar (kecil)

Dan meskipun syirik ini dikategorikan kecil, bukan berarti konsekuensinya kecil. Sebab, dampak kerusakannya besar pula. Mau tahu apa itu dampak kerusakannya? Lihat ini.

Obat Dari Tathayyur

Siapa sih di antara kita yang tidak lepas dari tathayyur? Kita tentu pernah dalam suatu waktu, sedikit-banyak, merasa pesimis ketika menghadapi suatu masalah yang menerpa kita. Kalau sekedar sampai sini sih, ‘mending’. Tapi masalahnya, kadang setelah itu muncul di hati kita ‘tuduhan’ terhadap benda atau orang tertentu (yang sebenarnya tak ada kaitannya dengan masalah kita menurut akal sehat) sebagai penyebabnya.

Kok hari ini sial sekali ya… Jangan-jangan gara-gara tadi nabrak kucing

Setelah dia deket ke aku, kok aku jadi sial terus ya..


Ibnu Mas’ud رضي الله عنه, seorang shahabat mulia yang ketakwaannya yang tidak diragukan saja pernah mendapati pada dirinya tathayyur, apalagi kita tentunya?

Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata, “Dan tidaklah seorangpun dari kita kecuali (merasakan tathayyur). “

Akan tetapi, bukan berarti ia menganjurkan kita untuk pasrah saja membiarkan tathayyur menguasai jiwa dan hati kita, melainkan, “Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya. ” Demikianlah Ibnu Mas’ud رضي الله عنه memberikan obat bagi penyakit itu, yaitu dengan tawakkal kepada Allah.

Selain itu, ada lagi obat yang telah disebutkan Nabi kita صلى الله عليه وسلم untuk mengobati tathayyur itu, yaitu apa yang beliau sabdakan, “Siapa yang mengurungkan hajatnya karena thiyarah, berarti ia telah berbuat syirik”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa penebusnya?” Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Hendaklah berkata:

“اللهم لاخير إلا خيرك ولاطير إلا طيرك ولا إله غيرك ”

(Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, tidak ada kesialan, kecuali dari-Mu, tiada yang berhak diibadahi selain-Mu) (HR Ahmad: 7045)
Ya, doalah dengan yang beliau sebutkan.

Kalau begitu, ketika Anda hendak bepergian di pagi hari dan baru saja keluar rumah, tiba-tiba Anda melihat orang cacat berlalu di depan Anda, jika timbul rasa waswas di hati, berdoalah dengan doa di atas. Lalu ketika Anda telah mengendarai kendaraan tiba-tiba kendaraan Anda menabrak kucing, jika terlintas di pikiran Anda akan terjadi apa-apa, acuhkanlah dan berdoalah dengan doa di atas. Lalu setelah Anda tiba di tujuan. Ternyata rumah yang anda tuju itu bernomor 13, lalu timbul kekhawatiran di hati, acuhkanlah dan berdoalah dengan doa di atas. Begitu pula dalam perkara lainnya

ولله الحمد….

Jakarta, 14 Sya’ban 1432/15 Juli 2011

anungumar.wordpress.com

(Sumber: "Kesialan" Ada di mana-mana)

Ohya. Tapi dulu Nabi kita صلى الله عليه وسلم pernah lo ketika berpergian lalu di depannya ada dua jalan, lalu disebutkan nama masing-masing jalan, Beliau صلى الله عليه وسلم memilih nama jalan yang artinya baik, bukan jalan lainnya yang namanya buruk. Apakah ini thiyarah juga?

Jawabanya? Monggo lagi...

Spoiler:

(...)Dari Anas -radhiallahu ‘anhu- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ

“Tidak ada ‘adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah. Dan yang menakjubkanku adalah al-fa’lu yang baik yaitu kalimat yang baik.” (HR. Al-Bukhari no. 5756 dan Muslim no. 2224)(...)

(...)Adapun contoh al-fa`lu misalnya seseorang mendapatkan sebuah masalah, lalu ketika dia berpikir akan jalan keluarnya, tiba-tiba temannya yang bernama Sahl datang, dan Sahl maknanya adalah kemudahan. Ketika Sahl datang, diapun berharap kepada Allah semoga masalahnya menjadi mudah, tapi harapannya ini muncul karena datangnya Sahl, temannya. Maka dari penggambaran di atas kita bisa melihat bahwa al-fa`lu yang disenangi oleh Rasulullah -alaihishshalatu wassalam-, tidak ada di dalamnya ketergantungan hati kepada selain Allah Ta’ala. Bahkan yang ada adalah hati bertambah semangat dan menguat untuk mewujudkan apa yang dia inginkan, tatkala dia mendengar atau melihat sesuatu yang menyenangkan. Jadi, thiyarah merupakan kesyirikan kepada Allah, sementara al-fa`lu adalah ibadah raja` (harapan) dan husnuzhzhan (berprasangka baik) kepada Allah Ta’ala.(...)

(Sumber: Tathayyur (Pamali) Adalah Syirik)

Masih bingung? Hm, silahkan cari sendiri aja deh.




Semoga bermanfaat!

Kamis, 29 Juli 2010

Percaya Diri

بسم الله الرحمن الرحيم

Anda cukup percaya diri? Bagus. Mari kita baca artikel ini.

--------------------------------------------

Hukum PD (Percaya Diri), Fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim.

87- س:- قول من قال: تجب الثقة بالنفس؟

Pertanyaan ke-87 adalah tentang hukum perkataan yang mengatakan bahwa percaya diri itu adalah sebuah keharusan.

ج: لا تجب ولا تجوز الثقة بالنفس.

Jawaban Syaikh Muhammad bin Ibrahim,
“Percaya diri itu tidaklah wajib, bahkan tidak boleh (baca:haram).

في الحديث: ((وَلاَ تَكِلْني إلى نَفْسِيْ طرْفَةَ عَيْن)) (1)

Dalam sebuah doa yang terdapat dalam hadits disebutkan, “Ya Allah, janganlah Kau serahkan diriku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata” (HR Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban dan dinilai hasan oleh al Albani dalam Sahih al Jami no 3382).

من يقوله؟! أَخشى أَن هذه غلطة منك؟! لا أَظن أَن انسانًا له عقل يقول ذلك، فضلاً عن العلم.…(تقرير الحموية).

Siapa yang mengatakan wajibnya percaya diri? Saya khawatir Anda salah dengar dalam hal ini. Aku tidak menyangka ada seorang yang berakal yang mengucapkan hal tersebut, terlebih lagi orang yang berilmu” [Tanya Jawab dalam kajian kitab al Hamawiyyah].

(1) وجاء في حديث رواه أحمد: ((واشهد أنك ان تكلني إلى نفسي تكلني إلى ضيعة وعورة وذنب وخطيئة واني ان أثق إلا برحمتك)).

Catatan Kaki:
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan, “Dan aku bersaksi sesungguhnya jika Kau serahkan diriku kepada diriku sendiri berarti Kau serahkan diriku kepada ketersia-siaan, memalukan, dosa dan kesalahan. Sesungguhnya aku hanya percaya kepada rahmat-Mu”

Sumber: Fatawa wa Rasai Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh 1/50, Maktabah Syamilah.

Catatan:

Tentang hukum PeDe perlu kita rinci:
a. Jika yang dimaksud dengan PD adalah tidak minder, berani tampil di depan banyak orang dan hal-hal yang semisal maka tentu tidak mengapa.
b. Jika yang dimaksud dengan PD adalah mengandalkan kemampuan diri sendiri dan tidak bergantung kepada Allah maka jelas hukumnya haram.

artikel: www.ustadzaris.com

Jumat, 15 Januari 2010

Aku Masih Diberi Nikmat, Padahal Banyak Berbuat Maksiat

بسم الله الرحمن الرحيم


Masih bernapas. Dan setelah pikiran itu terlintas, rasanya dada ini naik-turun beberapa kali lebih cepat karena bernapas dibanding ketika tidak sadar bahwa kita bernapas.

Sekali aku kuatkan hembusan napasku, mengenai telapak tangan yang kuhadapkan pada wajahku. Hangat.

Aku benar-benar bernapas, aku benar-benar masih hidup. Tapi, untuk apa? Melakukan dosa lagi? Dan berulang kali aku melakukan kesalahan, dosa, lebih banyak dari pada aku bertaubat.

Aku tahu ini salah, aku tahu harus kembali, tapi entah mengapa aku mengulanginya...

Sungguh iri melihat teman-teman yang menundukkan kepala saat berdoa awal pelajaran. Juga mereka yang menengadahkan tangan di masjid. Yang dosanya tak separah diriku.

Aku, rindu pada Dzat ke mana mereka meminta. Tapi dosaku membuatku enggan dan segan, akankah Ia menerimaku?

Kuhembuskan napas sekali lagi.

Allah masih memberiku indera sempurna untuk merasakan. Ia masih memberiku banyak nikmat, apakah ini istidraj??

Sebuah suara menjawab, anggaplah ini istidraj, sebenarnya kamu sudah melangkah mundur dari kebaikan lebih jauh.

Sungguhkah?

Ya, saat kamu melupakan bahwa kamu masih takut. Kamu masih memikirkan kemungkinan itu. Saat suatu ketika kamu lelah memikirkannya dan berpaling.

Saat ini Allah masih memberi nikmat sebenar-benarnya nikmat bahwa kamu masih memikirkan itu semua. Bahwa mungkin secara tidak sengaja kamu mendengar bacaan tilawah, membaca artikel, tidakkah kau merasa itu sebuah panggilan dari-Nya.

Jika kau tidak sadar, makin lama kamu makin berburuk sangka pada Rabbmu...


Astaghfirullah... Na'udzubillah!

Syukurlah kamu masih berdzikir. Kalau kamu tahu bahwa dahulunya Sahabat Umar Radhiyallah 'Anhu adalah salah satu yang mengubur anak perempuan hidup-hidup, penyembah berhala, dan dalam kejahiliyahan memakan sesembahannya sendiri. Tapi setelah masuk Islam, menyerahkan diri pada Allah, ia termasuk di antara sahabat yang paling utama, bahkan Khalifah Rasulullah, Amirul Mukminin kedua.

Anggaplah kamu lebih buruk dari itu, tidakkah kamu berbuat dzhalim padahal Allah masih memberi kesempatan jika kamu pesimis untuk kembali?

Saat enggan berdoa dan berharap, kamu telah sombong karena telah menyandarkan diri hanya pada diri atau sesuatu selain-Nya.

Betapa berdosanya kamu, kembalilah dan jangan malu. Rahmat-Nya sungguh luas!


Sabtu, 26 Desember 2009

Menyucikan Allah

بسم الله الرحمن الرحيم


Suatu hari termenung di pojokan masjid. Menatap keluar, memandangi pepohonan dan bunga-bungaan yang tertanam. Sebelah sana lagi banyak anak bermain sepak bola. Sedangkan diri ini sedang ingin sendiri, merenungi sesuatu.



Apa arti menyucikan Allah?

Apakah Allah memiliki kekurangan atau hal yang perlu disucikan dari-Nya?

Astaghfirullah... Setan membisikan hal yang buruk. Teringat hadits yang menyebutkan tentang hal ini. Was-was. Ketika tiba-tiba terbetik oleh kita, "Siapa yang menciptakan alam semesta ini beserta isinya?" Maka terjawab, "Allah," namun kemudian bisikan selanjutnya datang, "Lalu siapa yang menciptakan Allah?"

"Syetan akan datang pada salah seorang kamu, lalu berkata : “Siapakah yang menciptakan demikian ? Siapakah yang menciptakan demikian? Siapakah yang menciptakan demikian?” Sehingga dia bertanya : “Siapakah yang menciptakan Tuhanmu?” Apabila ia sampai demikian, maka hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dan menghentikannya”


Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari (2/321), Imam Muslim dan Ibnu Sunni. Diambil dari sini.

Tapi untuk 'menyucikan Allah' hati ini seperti menjawabanya. Menghubungkannya dengan suatu hadits tentang prasangka hamba tentang Rabbnya. (Sayang belum menemukan hadits atau terjemahan).

Ternyata menyucikan Allah bukan berarti menyucikan Dzat-Nya. Menyucikan Allah ternyata menyucikan prasangka kita terhadap-Nya. Karena sering kali kita tanpa sadar, walau hanya sedikit, tergelincir memiliki prasangka yang tidak baik terhadap Allah. Dan ternyata ini juga yang menyebabkan kelalaian dalam beramal.

Ketika menyepelekan suatu amalan yang saat itu utama dilakukan, bukankah saat itu juga menganggap ada hal lain yang lebih baik dari pada yang Allah janjikan bagi hamba-Nya yang melaksanakan?

Ketika melakukan suatu dosa dan menganggap hal itu kecil, saat itu pula kita menyepelekan peraturan Allah. Hanya melihat 'kadar' dosa, melupakan hikmah larangan yang Allah tetapkan.

Allah tidak pernah salah, sempurna dari segala kekurangan. Tapi kita yang sering kali lupa, lalai bahkan di sana ada orang-orang yang mengingkari keberadaan Rabb semesta alam.

Wallahu A'lam.
Ya Allah, maafkan atas segala kesalahan. Tunjuki jalan untuk perbaikan. Beri taufik untuk segera melaksanakan.

Syukran untuk Harun 'Eyyarz' yang nyindir ane gara-gara lama gak posting.

Minggu, 20 Desember 2009

FIRYAN! Siapin diri lo untuk masa depan!!!

بسم الله الرحمن الرحيم


SEMANGAT!!!

Apa kabar semua?

Baik?

Kurang baik?

Bahkan Buruk?!

Alhamdulillah dan Astaghfirullah... Apa pun yang dirasakan, hamdalah dan istighfar... Diberi nikmat dan kelapangan. Jelas berasal dari Ar-Rahman. Tapi bener nggak itu kenikmatan? Atau mungkin istidraj penambah kelalaian?

Alhamdulillah dan Astaghfirullah... Walau diberi ujian, masih diberi kehidupan. Mungkin ini sebagai pembenar keimanan. Ataukah ini peringatan?

Berserah diri, aku tidak mengerti. Hanya ada patron-patron petunjuk dari-Nya yang harus diikuti.

***


Ada yang lagi ujian? Semoga berhasil (dengan cara yang benar)!

Hari ini ane juga habis ikut ujian. Tepatnya Ujian Saringan Masuk Seleksi Mahasiswa Baru Bersama Telkom. Sekarang masih gelombang satu, nanti ada gelombang kedua.

Sebenernya masuk di perguruan tinggi ini bukan tujuan utama ane. Masih ada tekad daan keinginan untuk menjadi mahasiswa UGM! Insya Allah...

Banyak pilihan perguruan tinggi dan institut untuk melanjutkan pendidikan. Apalagi jurusannya. Macem-macem!

Tapi pastinya tiap jurusan dari setiap perguruan tinggi punya 'harga' yang harus dimiliki sebagai syarat bisa masuk. 'Harga' di sini selain berarti harga uang sebenarnya, juga bermakna Passing Grade atau apalah yang ane ngerti sebagai tolak ukur keenceran otak yang diambil pada saat tes.

Dan untuk memiliki 'harga' itu, kami harus berusaha.

Sayang, untuk ane sendiri usaha dan semangat masih minus. Padahal di lubuk hati ada gejolak amarah yang menuntut perbuatan dari keinginan dan cita-cita. Apalagi klo ngeliat berita tentang hal-hal yang menunjukkan kekurangan negeri ini, dan lebih khusus manusia yang hidup di atasnya. Hati panas tapi tetap malas. Parah!

Untuk mengubah dan menuju kebangkitan ane benar-benar harus perlahan. Apalagi sekarang ada target besar yang harus dicapai. Dan itu ditentukan dalam waktu dekat ini: masuk UGM.

Liburan ini lembaga-lembaga bimbingan belajar tetep ngadain kelas untuk kelas-kelas 'ujung'. Bahkan beberapa kali Try Out sudah digelar oleh lembaga pendidikan. Dan memasuki awal tahun, pasti sekolah memfokuskan siswa-siswi kelas 'ujung' agar siap menghadapi UN.

Ane lumayan seneng dengan hasil yang didapat dari Try Out yang pernah ane ikutin. Sekitar 50%, katanya udah termasuk "Good". Dan Alhamdulillah ane sendiri dapet peringkat ke-5 se-Bekasi. Tapi apakah nanti akan berhasil lagi? Mudah-mudahan gak tertipu dengan hasil percobaan, takut nanti lalai di medan perang.

Ujian tadi pagi juga 'relatif mudah' dibandingin sama soal-soal yang pernah dikerjakan sebelumnya. Tapi untuk ujian tadi pagi, salah satu hal yang dijadiin pertimbangan itu besarnya kontribusi sumbangan pendidikan yang kita tulis bahwa kita bersedia memberikan segitu. (mudah-mudahan gak salah nulis, husnudzhon ya!) Jadi agak pesimis...

Well, gak boleh patah semangat. Bukan prioritas utama ini :p Dan walau pun gak dapet di UGM, kita semua harus tetep berkarya. Setuju?

Sebenarnya untuk nyemangatin diri, ane berpikir:

Supaya bisa berkarya dan bermanfaat sebaik mungkin, maka kita harus bisa belajar di universitas yang terbaik!


Nah, nanti klo ternyata gak dapet, baru deh:

Di mana pun kita kuliah, kita masih hidup dan hidup kita harus kita jadikan berharga sebaik mungkin. Karya seseorang nggak ngeliat di mana dia kuliah, yang penting berusaha dan selalu optimis!


Yap! Terus beribadah, berkarya!

Sabtu, 14 November 2009

Cita-cita Lebih dari 'Aku Ingin Menjadi'

Mungkin karena diri yang tengah berada di tengah-tengah masa akhir pendidikan menengah. Meninggalkan bentuk pengajaran yang walau diusahakan 'Guru sebagai Fasilitator' tapi masih saja banyak siswa yang kurang aktif menuju bangku kuliah atau mungkin langsung terjun bekerja. Saat yang bisa dibilang sangat menentukan sebagai landasan menghadapi masa depan dan 'dunia yang sesungguhnya' bagi kami para remaja. Waktu ber'harap-harap cemas' ria, menguatkan diri menerima hasil, mengumpat untuk kemalasan dan segala bentuk kelalaian yang menipu serta pasrah pada nasib. Ya, mungkin karena diri ini berada pada keadaan tersebut, sering terdengar pembicaraan tentang minat, keinginan untuk melanjutkan ke mana, cita-cita…

Dan tentunya kita semua akan bermimpi dan berkhayal, menguras imajinasi dan akal untuk membentuk sebuah gambaran dari hakikat keinginan kita yang terbesar. Keinginan yang juga pasti dipengaruhi oleh asumsi seberapa berharga kita untuk hidup, apa tujuan hidup, apa arti hidup, bagaimana membuat hidup kita berarti, bagaimana memanfaatkan hidup dan seterusnya. Untuk mendapatkan gambaran yang paling mendekati keinginan kita yang sebenarnya, kita memerlukan imajinasi setinggi-tingginya sehingga gambaran yang didapat paling indah. Di samping itu, akal sehat, logika, rasio sewajarnya, juga diperlukan sehingga gambaran yang ingin dicapai memang realistis, tapi merupakan sebuah terobosan yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. Dengan imajinasi dan akal pula kita berusaha menarik garis dari gambaran yang ingin dicapai tadi sampai ke posisi di mana kita berdiri saat ini sehingga kita tahu ke mana, kapan, bagaimana mulai menjejak secara perlahan maupun segera untuk menggapainya. Bagaimana imajinasi Anda? Sudahkah Anda menarik garis tadi? Seberapa seru perjalanan yang harus Anda tempuh untuk menggapainya?

Tapi perlu diingat – hal yang sering kita diingatkan tentangnya – bahwa cita-cita bukan sekedar 'Aku ingin menjadi'. Bukan cita-cita yang dijawab oleh anak berumur sepuluh tahun ke bawah. Bukan pula cita-cita orang dewasa yang beranggapan uang adalah segalanya. Dan, untuk cita-cita yang terakhir, tidak ada di antara kita yang seperti itu kan? Pasti tidak ada, Insya Allah.

Apa cita-cita Anda? Apa arti cita-cita bagi Anda? Mengapa Anda harus meraih cita-cita?

Yang paling perlu diingatkan tentang hal ini adalah aku sendiri. Apa itu cita-cita?

Dengan kalimat dan wawasan yang sangat sempit dari seorang remaja, cita-cita adalah hal yang ingin dicapai seseorang untuk membuat eksistensi dirinya benar-benar berarti sebagai manusia. Cita-cita adalah hal yang ingin dilakukan yang bermanfaat bagi orang lain, siapa saja atau mungkin hanya dirinya sendiri yang akan membuat keberadaan dirinya di dunia berarti, minimal menurut dirinya sendiri.

Itu makna cita-cita yang pasti salah atau melenceng, mungkin ada benarnya tapi pasti ada salahnya. Cita-cita dengan makna tadi akan memungkinkan seseorang bertujuan mencapai hal buruk untuk merasakan benar-benar hidup, menurutnya, dan itu masih disebut cita-cita jika makna yang disebutkan tadi benar. Kita beruntung karena yang menyatakan cita-cita seperti itu hanyalah remaja ingusan yang sering ceroboh dan masih sesuai dengan peribahasa 'tong kosong nyaring bunyinya'. Yah, mari kita doakan bersama agar remaja itu segera mendapatkan hidayah untuk istiqamah hingga akhir hayatnya. Oh ya, jangan lupa untuk diri kita masing-masing juga :D

Tapi ada yang membisiki sebuah makna dari cita-cita.

Baik, dia memang tujuan. Tapi tujuan yang menjadi sarana untuk mendapatkan hal yang lebih penting. Cita-cita adalah tujuan, hal terbesar bagi kita, yang paling berarti, yang membuat kita menjadi bermanfaat dan, membuat kita diridhai Allah. Ya, membuat kita meraih surga-Nya.

Kita akan terhenti ketika mencapai profesi yang waktu dulu kita jadikan 'cita-cita' jika memang cita-cita hanya 'Aku ingin menjadi'.

Cita-cita juga bukan untuk meraih kemapanan hidup dan kebahagiaan duniawi semata.

Karena cita-cita adalah hal terhebat yang kita sanggup lakukan untuk menjadi bermanfaat dan dengan itu kita mendapatkan kebahagiaan sejati: ridha Allah dan surga-Nya, maka cita-cita adalah idealisme kita dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah tujuan yang juga menjadi motivasi menghadapi berbagai debu kehidupan yang berterbangan di sana-sini.

Tujuan dan motivasi yang harus kita sesuaikan dengan panduan-panduan kehidupan dari Sang Pemilik Kehidupan.

Rabu, 28 Oktober 2009

Sumpah Pemuda dan... Ayo!



Delapan puluh satu tahun lalu, pada tanggal ini, para pemuda yang juga pejuang pembela daerahnya dari penjajah menyatukan diri, menyamakan cita-cita, saling bertoleransi menghilangkan fanatisme daerah karena merasa satu, senasib, sejiwa sepenanggungan sebagai bangsa Indonesia.

Tidak, bukan berarti mereka melupakan tradisi dan beberapa ciri khas daerah yang menjadi kekayaan Indonesia, tapi di tengah keberagaman, mereka bersatu saling padu menorehkan sejarah yang terus dikenang hingga kini. Menyindir tiap pemuda-pemudi tiap tahun, sesuai zamannya. Sindiran yang tak ditoleh atau jarang ditanggapi kecuali hanya sebagai formalitas, sebagai momen menghindar dari pelajaran saat harus diadakan upacara.

Mereka tidak melupakan bahasa daerah masing-masing, tapi tetap bangga dengan bahasa persatuan: Bahasa Indonesia! Bahasa yang sebenarnya simpel, indah dan menarik, tapi banyak dianggap lapuk menandakan pribadi kaku.

Padahal tidak.

Sangat jauh, seperti sahabat Shiddiq yang terus menulis melalui media blog menyemangati kita untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Mari kita dukung bersama!

Justru kitalah yang sekarang aneh, bingung dengan kenyataan yang terjadi, bimbang akan masa depan yang tak pasti sehingga hidup seenaknya seakan tak ada tujuan.

Semangat yang berganti, menjadi fanatisme tak berarti. Fanatisme buta! Walau tidak seluruhnya, tapi banyak hal tentangnya yang mesti kita sesalkan dan perbaiki.

Apa sih? Mana buktinya?

Tidakkah perlu disesali saat terjadi tawuran antar sekolah yang terjadi karena masalah sepele?

Atau keributan antara dua kubu suporter tim sepakbola lokal yang kekanak-kanakan dan penuh emosi?

Ketika kita memaklumkan kecurangan untuk diri sendiri dan sewot untuk lawan?

Harus diperbaiki! Harus berubah! Tidak boleh malu dan canggung untuk memulai! Tapi harus sadar dan paham apa dan bagaimana...

Bersama mereka, para pengharum bangsa yang bagi kita seakan para ratu dan raja dari negeri dongeng. Karena kita terus bermimpi dan hanya bermimpi!

Tepat rupanya lomba SEO 'Start Action Stop Dreaming' selain ajang kompetisi tapi juga sarana untuk memotivasi diri.

Dan, itulah kekuatan blogosphere yang menyuarakan semangat lewat kompetisi keyword. Serta inilah aku yang berusaha membenahi diri sembari mengajak yang lain untuk bersama maju.

Minggu, 25 Oktober 2009

Daging dan Tenaga Ini, Baik atau Burukkah?



Assalamu'alaikum!

Apa kabar? Baik atau burukkah? Mudah-mudahan baik dan tentu saja tidak ada yang mengharapkan buruk. Sudah makan? Saat menulis ini, Alhamdulillah tadi aku sudah makan-maaf bukan menulis hal yang tidak penting atau pamer tentang makanan yang baru kumakan karena aku pun berasal dari keluarga biasa dan tentu makanan kami biasa.

Yang ingin kubagi bersama hanya apa yang mungkin terlintas dalam benak para orang-orang shalih ketika mereka makan. Bismillah, dan mereka mulai memasukkan makanan sesuap
demi sesuap, dan kurasa jarang di antara mereka yang memilih makanan istimewa. Dalam hal porsi, tidak dapat dibilang sedikit tapi benar-benar secukupnya untuk menegakkan tulang punggung mereka. Sekedar, karena tujuan mereka makan adalah ibadah dan mereka memohon keberkahan dari apa yang nanti tumbuh menjadi daging mereka, berharap tenaga yang dihasilkan disalurkan untuk kebaikan.

Dan, renungan ringan kumulai saat aku menyendok suapanku. Cemas, akan menjadi apa makanan yang kukunyah ini? Aku berdosa dan entah mengapa walau terus menyesal tetap kuulangi lagi dosa itu. Takut dari apa yang kumakan sekarang hanya menghasilkan dosa. Setan membisikkan agar aku jatuh, bahwa percuma memohon dengan keadaan berdosa, baru saja melanggar ketentuan-Nya, karena aku ingin berharap Dia menganugerahiku taufik dan tenaga dari makanan ini untuk bertaubat atau mengamalkan kebaikan. Baru sekedar ingin berharap, dan setan serta rasa pesimis menggodaku terpuruk lebih dalam.

Tak tahu apakah saat ini aku akan bernasib sama dengan yang saat itu juga tengah makan lalu meninggal beberapa saat kemudian dalam bencana alam-bencana alam yang kini terus bertubi dan datang tanpa prediksi. Zaman fitnah, zaman penuh fitnah tapi ini bukan salah zaman. Salah manusia yang hidup di dalamnya.

Rasa nikmat yang sering membuat diriku merasakan ada yang hilang pada bagian dadaku. Rasa yang akan dipertanggungjawabkan, sedang di sekitar, perut lapar yang tak mampu mendapatkan makanan-bagaimana pun rasanya-untuk melindungi lambungnya dari asam yang keluar seakan percuma karena tidak ada bahan yang masuk untuk dicerna.

Dia tidak pernah dzhalim, ketentuan memang telah ditetapkan tapi keadaan tunduk dan sesuai dengan takdir melalui proses sebab-akibat juga. Dan penyebab dari semua ini-tidak usah ditanyakan lagi.

Waktu itu sempat heran dengan pernyataan seorang salaf terdahulu yang menyatakan sungguh beruntung dia yang masuk surga terakhir. Dia yang terakhir kali dikeluarkan dari neraka. Meminta dipalingkan dari neraka, didekatkan ke surga kemudian berharap masuk ke dalamnya. Padahal setiap sebelum dikabulkan permintaan, selalu ditanyakan kepadanya akankah ia meminta permintaan lagi? Selalu dijawab tidak, tidak akan lagi. Dan Rabb tersenyum saat mengabulkan permintaannya. Juga saat Rabb menawarkannya untuk mendapatkan sepuluh kali lipat dunia beserta seluruh isinya saat ia meminta dimasukkan ke dalam surga. Ya, Rabb tertawa saat orang itu merasa diperolok dengan ditawarkan hal remeh itu dibandingkan surga.

Baiklah, memang semua yang beriman, walau sebesar dzarrah, akan masuk surga. Tapi tidak beriman hanya untuk saat ini. Yakinkah kita tidak tergelincir, bukan nanti, bahkan saat ini? Sebesar apa rasa percaya diri bahwa iman ini bertahan sampai meninggal nanti?

P.S. : Oh, ya. Saat ini aku sedang butuh tarhib (ancaman, peringatan) lebih banyak akibat lalai. Tapi aku tidak ingin kehilangan sayap-sebagaimana para ulama mengibaratkan khauf (rasa takut) dan raja` (rasa harap) sebagai dua sayap bagi seorang mu`min. Aku mengharap ampunan atas segala kesalahan.

Selasa, 13 Oktober 2009

Argh! Ulangan!



Lagi ulangan, rasanya pesimis dan pasrah ajaa!! Pelajarannya susah! Semalem gak belajar... Baca buku cuman dikit! Itu juga kagak masuk otak semua! Percuma belajar!

Mikir gitu pas ulangan? Mudah-mudahan kagak dan jangan!

Sebenarnya itu sih yang sempet kepikiran sama ane tadi pas mau ulangan kimia. Tapi ada yang harus disadari secepatnya dari pemikiran itu, minimal ini salah satunya.

Mikir kayak gitu biasanya karena kita telah melupakan Allah, walau sesaat, juga melupakan arti ikhtiar dan tawakkal.

Pada keadaan tersebut kita tengah menyandarkan diri pada diri sendiri. Akibatnya, karena kita bersandar pada diri yang notabene saat itu lagi buruk kondisinya (pelajarn susah, belajar dikit, dll) maka yang datang adalah rasa pesimis!

Gak cuman untuk pelajar dan saat ujian aja! Tapi itu muhasabah ana hari ini...

Dzikir pagi-petang yang harusnya kita lafal sembari menghayati maknanya:

Ya Hayyu Ya Qayyuum Birahmatika Astaghitsu Ashlihli Sya`ni Kullah, Wa Laa Takilni Ilaa Nafsi Thorfata 'Ain


Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Mengurus hamba-Nya… perbaikilah semua urusanku dan janganlah Engkau serahkan urusanku pada diri ini meski hanya sekejap mata


Ada yang tahu haditsnya? Lagi males nyari :P Tapi share aja!