Tampilkan postingan dengan label pikiran aneh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pikiran aneh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 September 2011

khayalan ba'da lebaran: 'kapsul'

بسم الله الرحمن الرحيم
Alhamdulillah, nyampe Jogja lagi. Setelah 5 hari berlebaran di Kebumen, ketemu sanak sodara, walhamdulillah.

Btw, itung-itung belum ada 7 hari dari lebaran, jadi



 TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM!!

Ohya, sejak beberapa tahun lalu ane mempertanyakan keistimewaan Ramadhan dan lebaran. Tentu Ramadhan dan Idul Fitri istimewa, tapi... Entah kenapa rasanya kita yang bebal memaknai keistimewaan tersebut. Keistimewaan yang ada hanya sebuah rutinitas tahunan. Makanya pas mau masuk lebaran ane sempet sms ke temen-temen tentang sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bahwa celaka orang yang tidak mendapat ampunan padahal dia berjumpa dengan Ramadhan.

Gitu juga dengan keistimewaan 1000 bulan Lailatil Qadr. Padahal yang pernah ane baca kalo gak salah tangkep, keistimewaan adanya malam itu bagi umat Muhammad ini tidak lain untuk menandingi ibadah orang-orang dahulu yang usianya ratusan bahkan ribuan tahun. Kalo umur kita yang paling lama aja seratuslimapuluhan atau sekitar itu, ibadah kayak gini dan gak nyari keutamaan lailatal qadr?

Makanya, ada postingan menarik dan sayang aja baru mosting sekarang

Spoiler:


Sungguh Pede Sekali!

Sungguh PeDe sekali
Orang yang ketika Idul Fitri
Merasa sudah suci
Dosa-dosa tak bersisa lagi
Dan kembali seperti bayi

Padahal ia puasa sekedar ikut tradisi
Shalat tarawih cuma beberapa hari
Baca Qur’an hanya sesekali
Sedekahnya ingin dipuji
Larangan agama pun tak dijauhi

Lailatul Qadar, ia tak peduli
Sibuk pikirkan gaji bulan ini
Katanya untuk baju anak-istri
Kalau halnya begini
Mungkinkah dosa-dosa diampuni?

Eh, ketika Idul Fitri
Ia merasa sudah suci
Dosa-dosa tak bersisa lagi
Dan kembali seperti bayi
Sungguh PeDe sekali

(Sumber: Sungguh Pede Sekali!)

Ane merasa udah menyia-nyiakan Ramadhan tahun ini. Tapi, pas mau berharap disampaikan Ramadhan tahun depan, takut waktu antara dua Ramadhan malah berisi dosa, dan Ramadhan tahun depan sama aja.

Oleh karena itu, ada kutipan dari sms tahniah Idul Fitri dari 'adik perempuan' ane yang mengena buat ane:

n semoga ketaqwaan tak surut walau meninggalkan Ramadhan

Hm, kira-kira gitu. Tapi ane lupa aslinya karena smsnya udah diapus.

Ohya, perjalanan ke Jogja tadi, ane naik angkutan tiga perempat yang kayaknya nekat ngambil trayek ke Jogja. Karena emang bus-bus pada penuh, sehingga mungkin mereka melihat kesempatan bagus. Mana tarifnya lumayan, trus maksa lagi masukin penumpang. Taukan maksud maksa di sini? Jadi, udah jejel-jejelan di dalem, masih aja nyari penumpang lain. Trus, kayaknya keneknya gak terlalu paham daerah sekitar Jogja. Jadi sempet salah belokan. Hahaha.

Untung ada temen smsan, jadi pikiran teralihkan ke cerita hidup sang temen yang mau ikut LDK tanggal 6 ini insya Allah. Seperti biasa, arah pembicaraan ngalor-ngidul tapi lumayan ngebangun mood.

Nah, karena pas nyampe Jogja relatif sepi, dengan mood kayak gini, ane iseng jalan-jalan. Gak menarik amat sih tujuannya, cuma ke Maskam untuk shalat Maghrib di sana. Tapi enak aja jalan kaki sore-sore pas keadaan masih sepi, ngeliatin aktivitas di lembah UGM.

Pas gini nih, serasa gak ada beban, jalan ke tujuan danpa dipedulikan orang-orang. Asik menikmati sebagai penonton dan sehat pula!

Dulu waktu baru-baru di Jogja, niatnya pengen sering-sering jalan dari kosan ke kampus. Tapi karena kegiatan juga, dan mungkin rasa males yang datang, jadi jarang banget. Mudah-mudahan semester ini bisa, karena ngarep juga dari jalan kaki tadi, kesehatan dan stamina membaik.

Masalahnya kalo udah di kampus trus ternyata harus ke tempat lain yang lumayan jauh sedang motor di kosan dan waktu mepet. Kalo ke kosan dulu, pasti gak kekejar. Masa harus ngorbanin kebiasaan jalan kaki, bawa motor terus biar mobilitas tinggi?

Ane mengkhayal ada teknologi 'kapsul' yang kayak di kartun Dragon Ball dulu, tau kan? Teknologi yang nyimpen kendaraan di kapsul kecil. Jadi kita enak. Jalan kaki sesukanya, tapi kalo dibutuhin ya tinggal ngebanting kapsulnya dan muncullah kendaraan kita. Selain itu, bisa ngehemat lahan parkir lagi!

Haha. Mungkin gak sih?

Well, namanya juga khayalan. Sekarang udah ada sih sepeda lipet, tapi tetep aja berat dan repot, mana belum punya (dan harganya relatif mahal bagi ane lagi!).

Tapi, emang kalo ada teknologi 'kapsul', biayanya gak mahal?

Uh, ribet juga kalo mau nyelarasin kenyataan dan khayalan. Bikin ngantuk aja, hahaha.

Sekian, oyasuminasai! Wassalamu'alaikum.

Minggu, 21 Agustus 2011

curhat karena status temen tentang cinta

بسم الله الرحمن الرحيم


Langsung saja, saya ingin mengungkapkan sesuatu. Sesuatu itu tentang cinta.

Akhirnya…

Rasanya dulu ada yang menahan-nahan diri untuk membahas soal ini. Kalau pun lagi tidak ada rasa tertahan oleh diri dan banyak yang bersliweran di otak, posisi tidak di depan komputer atau laptop dan ketika tatap muka-monitor, hilanglah semua baik yang tadi berslieweran, juga mood untuk membahas.

Aneh ya…

Baik, masuk ke inti, ada tiga gambar yang ingin saya perlihatkan



Apa yang ada di pikiran Anda setelah membaca status-status dari dua teman saya yang tentu saja tidak jauh-jauh dari 'cinta'?

Well, saya tidak tahu dan saya rasa tidak berpengaruh pada saya kecuali Anda mau berbagi di kotak komentar.

Untuk saya sendiri, rasa yang timbul ketika menjadi dua orang teman saya yang memasang status tadi itulah yang mendorong saya menulis tentang cinta. Bukan indahnya, rasa rindunya, atau yang lain, kecuali rasa sakit.

Anda yakin tidak akan mengalami apa yang dialami kedua teman saya?

Sebelumnya, saya harap saya sudah cukup sopan menjaga privasi kedua teman saya dan tidak membuat keduanya tersinggung berhubung keduanya adalah teman yang berharga.

Kembali ke rasa sakit, saya sudah beberapa kali juga menemui kenyataan beberapa teman yang kiranya mengalami hal sejenis dalam cerita cinta mereka dan lebih kurang membuat mereka merasakan sakit yang sama.

Saya hanya merenung mengetahui keadaan mereka. Dan saya kira saya selalu sukses membuat diri saya sendiri cukup merasa sakit ketika membayangkan jika saya mengalami hal yang mereka alami. Oh, maaf, tentu rasa sakit yang saya dapatkan tidak seberapa dibanding mereka yang mengalami langsung.

Dalam keadaan saya yang sekarang dan dengan cara pandang saya, saya berusaha memikirkan cara agar selamat dari mengalami itu semua. Rasa sakit yang saya derita dari hanya membayangkan sudah cukup menyiksa saya, sungguh.

Tapi, setelah saya renungi, bagaimana pun solusi yang terpikirkan, selalu ada kemungkinan untuk mengalami hal serupa dan merasakan sakit yang sama. Siapa pun.

Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan proses berpikir saya. Tapi, begini saja: ketika saya merasa menemukan solusi, saya berusaha menempatkan diri dari sudut pandang lain demi mencari-cari celah sehingga solusi tadi masih mungkin menghadapi suatu kejadian yang membuat tetap saja rasa sakit dialami. Buruknya, saya selalu mendapatkan celah tersebut.

Ah, bertanya-tanyalah saya. Apakah ini karena pikiran saya saja. Tapi kalau ditimbang, kemungkinan-kemungkinan tadi tetap masuk akal untuk terjadi. Oh, ya, tentu dengan akal saya. Maaf.

Kalau Anda punya nasehat untuk saya, saya sangat berterima kasih Anda mau menyampaikannya.

Saya sendiri setelah agak putus asa dengan kesimpulan yang saya dapatkan, tetap saja selalu tertarik untuk dapat mengalami kisah cinta yang indah. Keindahan yang mungkin dibayangkan sering kali membuai saya. Tapi rasa sakit yang membayang pun sering hadir sehingga tak jarang terjadi kontroversi yang terjadi dalam diri dari kedua hal tadi.

Tak adakah jalan untuk mendapatkan kebahagiaan itu…?

Ternyata ada dan saya pikir saya sendiri sudah agak jauh untuk bisa mengikuti jalan itu.

Saya harap Anda tidak kemudian berpikir untuk menyepelekan jalan tersebut ketika saya sebut bahwa jalan tersebut adalah jalan yang sesuai dengan Islam.

Selain itu, bukan berarti dengan jalan yang sesuai Islam tidak akan ada celah untuk terjadinya hal-hal seperti di atas atau kita kebal dari rasa sakit yang menjadi dampak.

Lalu?

Paling tidak ada beberapa hal, yaitu, rasa sakit berkurang atau rasa sabar bertambah karena orientasi hubungan antara lawan jenis dalam Islam adalah beribadah, juga prinsip-prinsip tawakkal diajarkan dan ketika sudah berusaha menempuh jalan yang disediakan dengan mengharap ridha Allah, rasa sakit dan kesabaran terhitung sebagai kebaikan yang kelak mendapat balasan.

Saya berharap keimanan saya cukup kuat untuk itu.

Dan, seperti saya bilang, saya rasa sudah agak jauh dari jalan itu dan mencoba mendekat. Sembari mendekat, rasanya saya juga seperti menyerahkan diri untuk merasakan sakit tersebut, entah mengapa..

Yah, saya pikir saya sendiri masih terlalu dini untuk merasakan galau karena hal ini.

Jumat, 09 Juli 2010

Hantu? Siapa takut?! Cuih! (Saya takut sih sebenarnya...)

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh!

Apa kabar? Sekarang udah Juli dan post terakhir bulan Mei, berarti udah lama banget gak posting. Eh, sekalinya posting masalah ginian. Yah, dari pada gak posting kan?

Mungkin antum sudah mengetahui atau membaca tentang hantu-hantu di banyak perguruan tinggi Indonesia. Salah satunya di UGM. Yah, berhubung Alhamdulillah ana melanjutkan pendidikan di sana jadi ana gabung di grup Maba dan mendapatkan tautan tentang hantu UGM dari sana. Eh, seterusnya ana jadi penasaran dengan universitas lain dan setelah mendapatkan tautan tentang hantu UI dan tautan hantu ITB, baru ana udahan penasarannya.

Hmm, masalah hantu, jujur saja, ana merasakan takut. Tapi ana juga sadar takut ini agak aneh. Apa yang membuat ana takut sama hantu? Setelah ana pikir, ana dapat dua jawaban: takut disakiti secara fisik dan takut melihat penampakan mereka yang menyeramkan. Secara umum ini yang bikin orang-orang takut dengan mereka kan?

Tapi ada yang lebih menakutkan sebenarnya. Bukan dari hantunya. Tapi dari rasa takut terhadap hantu. Paham kalimatnya kan?

Ketakutan terhadap jin dan semisalnya bisa menjadi suatu kesyirikan. Nah, akibat dari kesyirikan jauh lebih menakutkan dari pada hantu bukan?

Oleh karena itu ana pernah berpikir hal yang membuat rasa takut hilang. Langsung aja ana memikirkan dua hal tadi: takut dilukai secara fisik dan takut akan rupa menyeramkan.

Dilukai secara fisik? Gimana caranya? Hmm, pernah memikirkan itu? Dapat jawaban? Ana tidak. Walau pernah menonton film hantu yang membunuh manusia, Alhamdulillah gak pernah percaya. Gak pernah (dan gak mau) ketemu soalnya.

Karena rupanya yang serem? Hmm. Ini bisa dibiasakan kayaknya. Dulu pas kecil ana selalu nangis ketika ada ondel-ondel atau patung singa. Tapi sekarang udah enggak. Untuk penampakan seperti di film-film hantu, untuk apa takut? Ketika terbayang wajah-wajah seram ana langsung mengingat apa yang pernah ana lihat hanya muka biasa yang di'hancur'kan (bukan dirias. dirias itu untuk tambah cakep kan?).

Dan ana selalu bertanya kenapa kita takut pada rupa-rupa itu? Serem? Ya.. kenapa rupa seperti itu serem? Jawaban sementara ana mungkin karena 'hancur'. Kita takut kita hancur dan takut akan kehancuran. Wallahu A'lam.

Yang pasti supaya tidak syirik yang harus kita lawan adalah rasa takutnya. Ya! Rasa takut! Bukan hantunya!

Kalau hantunya sih gak usah dilawan asal mereka gak ngeganggu.

Dan, ternyata menurut artikel ini, manusia lebih mulia dari bangsa jin. Jadi buat apa takut?

Jumat, 29 Januari 2010

Kecemasan Ujian

بسم الله الرحمن الرحيم


Dari Jepretan
Pagi itu ane bener-bener deg-degan! Gimana enggak, langit udah terang dan di perjalanan ban motor bocor! Karena ngelindes karet pelapis kaki meja atau kursi yang masih ada murnya.

Waktu itu masih pagi, ane kira belum ada bengkel yang buka jam segitu (sekitar jam enam pagi). Mana hari itu pula dimulai TO UN 2010 dari provinsi! Dan ane belum belajar biologi! GASWAT!!

Hmm, sebenarnya ane bingung kenapa merasa secemas ini. Begitu juga pas ane SMP, mengetahui kenyataan banyak siswa yang stress karena UN. Klo UN pas SMP sih ternyata bisa dibilang mudah. Soal-soalnya sebagian besar soal-soal dasar. Gak ada soal-soal rumit yang pengerjaannya butuh lebih dari empat langkah dan gak terlalu mendalam.

Begitu juga klo ane liat ke soal TO kemaren. Walau ane sendiri gak yakin dapet nilai setengah, tapi ane bisa bilang tingkat kesulitan relatif soal nggak terlalu tinggi atau bahkan agak rendah.

Kesan seram lebih berpengaruh dari pada kesulitan soal. Itu yang ane simpulkan.

Perasaan takut yang gak di atasi, gak berkurang dari tahun ke tahun, lama-lama malah membuat yang merasakan menjadi pesimis. Merasa belajar pun percuma. Bukan percuma mengatasi UN, tapi percuma menghilangkan rasa takut!

Ditambah, sekarang para siswa diharuskan lulus.

Tekanan itu dateng dari sekolah atau lingkungan. Entah kenapa gak boleh gagal.

Well, emang gak boleh gagal sih, tapi maksud ane bukan sebagai motivasi dari diri, tapi 'gak boleh gagal' sebagai pandangan lingkungan. Jadi klo gagal UN seakan gak diterima, seakan jadi makhluk yang gak pantes.

Ane rasa ini yang bikin beberapa siswa pada tahun-tahun lalu berbuat nekat.

Ane teringat pas SMP. SMPnya swasta dalam pesantren dan basisnya tentu Islam. Saat mendekati masa-masa UN kayak gini, Mudir (Kepala Pesantren) memberi kata-kata penenang bahwa gagal UN bukan akhir dari segala-galanya.

Tapi bukan berarti kita boleh berleha-leha.

Gak boleh teralalu takut dan gak boleh terlalu santai.

------------
Alhamdulillah ternyata pelajaran pertama Bahasa Indonesia dulu baru Biologi, jadinya sehabis Bahasa Indonesia masih ada waktu dikit buat baca-baca.
Fuh... Nanti gak perlu buru-buru. Klo buru-buru malah celaka lagi! Na'udzubillah!
Dari Jepretan

Sabtu, 09 Januari 2010

Apdet Terakhir Pas Liburan Transisi Tahun

بسم الله الرحمن الرحيم


"Grup Sejuta Facebooker mendukung..."

"Gerakan Netter..."

"Gerakan Sejuta Facebooker Menolak..."

Gak asing, apalagi akhir-akhir ini emang sering ada kasus yang memicu adanya grup kayak gini di Facebook. Kayak kasusnya Bu Prita, Nek Minah, pertarungan antara dua jenis reptil, nolak UN, dll...

Salah satu dampak perkembangan teknologi, makin mudahnya kita menyuarakan dan menggalang suara tersebut apalagi yang sangat terlihat jelas.

Secara pasti memudahkan langkah mendukung individu tertentu atau membuat pemerintah memutuskan sesuatu, walau belum tentu akan terlaksana.

Tapi, kadang gerakan yang diadakan gak semuanya benar apalagi bagus. Mungkin untuk sekarang ane sendiri ngasih contoh gerakan nolak UN. Bukan berarti ane pinter atau berpendapat UN sekarang udah bener, tapi klo UN dihapus juga kurang bagus kan. Iya sih, arti gerakan tersebut gak mesti menghapus UN total.

*apdet*
mungkin ini termasuk grup yang agak aneh


kebebasan memang boleh, tapi... ane pribadi merasa ada yang salah klo kayak gini.
*apdetan selese :) mari kembali berkatifitas*

Tapi jadi ketahuan nih, liburan keseringan Facebookan. Padahal setelah liburan ini adalah masa-masa bersiap menghadapi ujian, payah bener ane...

Fuh, mungkin untuk ini juga butuh gerakan: "Gerakan Pelajar Indonesia Cuti Online untuk Menghadapi Ujian" gimana? :D

Tapi yang jelas ane gak bisa mulai. Kenapa?

Yah, nanti ane yang bikin, ane juga orang pertama yang ngelanggar lagi :P

Bagaimana pun, sulit meninggalkan internet seratus persen walau hanya pada masa pra-ujian sampai ujiannya. Apalagi tugas sekolah nanti pasti banyak yang membuat harus ketemu ama internet. Bagaimana kita mengaturnya saja...

Minggu, 03 Januari 2010

Asik juga Ngeblog Itu...

بسم الله الرحمن الرحيم


Ada lomba nih! Bikin artikel blog tentang manfaat blogging. Nyampe 10 Januari 2010. Mau ikutan liat di halaman ini!
Alhamdulillah, di awal tahun ane dapet awward. Tersenyum melihat pesan tertinggal di buku tamu dari seorang blogger unik dilihat dari tulisan dan bahasanya. Kak Bri, sahabat prestasi baik hati yang selalu ceria, senyum dan semangat mengeluarkan jurus-jurus maut *ciaatt* diikuti efek latar seru *KabooMMss WoooZZzz (efek dar dar dar suara kembang api)*.

Salah satu hal yang hanya ada di blogosphere, berbagi awward persahabatan seperti ini. Menjalin silaturahmi walau hanya lewat dunia maya. Nggak jarang yang ngadain ketemuan langsung di dunia nyata lewat kopi darat (jujur, ane penasaran kenapa pertemuan di dunia nyata disebut 'kopi darat'). Seringkali kumpulan blogger ini tergabung dalam satu ide, visi dan misi, kemudian melakukan tindakan nyata upaya berkarya sebagai blogger Indonesia. Baru-baru ini juga ada kasus berhubungan peraturan ekspresi dunia maya dan lagi-lagi blog menjadi salah satu media penyalur aspirasi penyumbang motivasi dan dukungan pada pihak yang seharusnya bebas.

Blog menjadi sarana menulis paling menarik bagi ane karena secara bebas tapi tetap dalam aturan bisa mengeluarkan apa yang terlintas dalam pikiran walau tidak terlalu berharga. Paling tidak lumayan berharga di blog sendiri. Belum lagi ternyata banyak blogger baik yang mau memberi komentar terhadap tulisan-tulisan ane yang... ah, gak usah disebut deh, malu!

Eh, lupa! Komentar tadi kadang ada yang ngasih semangat juga ternyata!

Fuh, emang asyik blogging tuh. Ngisi waktu pas liburan kemaren dan sekarang juga (Bekasi masuk tanggal 11 Januari).

Jalan-jalan di blogosphere, kagum juga ama yang bisa dapet penghasilan dari ngeblog. Ane belum berani melangkah ke sana, tapi ada semangat untuk mencoba. Entah kapan mulai. Kalah ane sama blogger yang lebih muda, sekarang masih SMP, udah terjun di bisnis onlen. Namanya Harun Rizal.

Mereka hebat, tahu langkah-langkah untuk memopulekan blog dan artikel mereka dan ane kira mereka berhasil. Dengan tip dan trik SEO yang seru dan unik.

Hmm, ane melihat SEO mengajarkan dan membiasakan kita hal-hal yang lumayan bermanfaat. Ane pernah posting hal ini di artikel 'Pendidikan dari SEO' yang seadanya. Di situ ane tulis beberapa hal seperti salah satu trik SEO: memberi 'perlakuan' khusus terhadap kata kunci yang kita tembak dalam postingan kita. Maksudnya 'perlakuan' adalah menebalkan atau memiringkan kata. Dan, memang sepertinya kebanyakan keyword adalah kata-kata unik, bahkan asing yang dalam penulisan Bahasa Indonesia yang baik diberi 'perlakuan' tadi. Selain itumenempatkan kata kunci pada awal dan akhir postingan juga pas sama ilmu yang ane dapet di sekolah, bahwa untuk mencari gagasan utama suatu tulisan bisa kita lihat di awal atau akhir. Dan ane coba itu lewat blog! Nyoba-nyoba lewat layanan gratisan dengan hasil gak mengecewakan!

Khusus untuk beberapa layanan blog, kita bisa berkreasi dengan tema atau latar blog. Memaksa untuk memelajari kode-kode html sederhana bagi yang penasaran. Mengembangkan imajinasi dan berkarya membuat template yang keren. Fuh, itu susah! Ane sih baru make templet bikinan orang.

Lewat blog kita juga bisa berkompetisi. Tentu, lewat ajang perlombaan blog. Terkadang yang dinilai adalah isi, berkaitan dengan momen tertentu suatu waktu. Dalam hal ini, ane salut sama Neng Ratna yang tulisannya unik dan dia juga udah banyak prestasinya di dunia blogosphere ini selain prestasinya yang lain. Di lain ajang, yang dinilai adalah peringkat dalam daftar hasil pencarian Google dengan kata kunci tertentu. Well, seringkali kata kunci yang dilombakan adalah kata-kata motivasi atau sebuah pernyataan untuk berjuang.

Banyak hal menarik dan bermanfaat dari blogging. Banyak yang terlewat oleh kepala ane, sekalinya nyangkut, banyak yang mandek pas pengen nulisinnya. Tapi lewat blog ini juga kita belajar meminimalisir ide yang gak tersampaikan sehingga ide kita terekspresikan semaksimal mungkin.

Minggu, 20 Desember 2009

FIRYAN! Siapin diri lo untuk masa depan!!!

بسم الله الرحمن الرحيم


SEMANGAT!!!

Apa kabar semua?

Baik?

Kurang baik?

Bahkan Buruk?!

Alhamdulillah dan Astaghfirullah... Apa pun yang dirasakan, hamdalah dan istighfar... Diberi nikmat dan kelapangan. Jelas berasal dari Ar-Rahman. Tapi bener nggak itu kenikmatan? Atau mungkin istidraj penambah kelalaian?

Alhamdulillah dan Astaghfirullah... Walau diberi ujian, masih diberi kehidupan. Mungkin ini sebagai pembenar keimanan. Ataukah ini peringatan?

Berserah diri, aku tidak mengerti. Hanya ada patron-patron petunjuk dari-Nya yang harus diikuti.

***


Ada yang lagi ujian? Semoga berhasil (dengan cara yang benar)!

Hari ini ane juga habis ikut ujian. Tepatnya Ujian Saringan Masuk Seleksi Mahasiswa Baru Bersama Telkom. Sekarang masih gelombang satu, nanti ada gelombang kedua.

Sebenernya masuk di perguruan tinggi ini bukan tujuan utama ane. Masih ada tekad daan keinginan untuk menjadi mahasiswa UGM! Insya Allah...

Banyak pilihan perguruan tinggi dan institut untuk melanjutkan pendidikan. Apalagi jurusannya. Macem-macem!

Tapi pastinya tiap jurusan dari setiap perguruan tinggi punya 'harga' yang harus dimiliki sebagai syarat bisa masuk. 'Harga' di sini selain berarti harga uang sebenarnya, juga bermakna Passing Grade atau apalah yang ane ngerti sebagai tolak ukur keenceran otak yang diambil pada saat tes.

Dan untuk memiliki 'harga' itu, kami harus berusaha.

Sayang, untuk ane sendiri usaha dan semangat masih minus. Padahal di lubuk hati ada gejolak amarah yang menuntut perbuatan dari keinginan dan cita-cita. Apalagi klo ngeliat berita tentang hal-hal yang menunjukkan kekurangan negeri ini, dan lebih khusus manusia yang hidup di atasnya. Hati panas tapi tetap malas. Parah!

Untuk mengubah dan menuju kebangkitan ane benar-benar harus perlahan. Apalagi sekarang ada target besar yang harus dicapai. Dan itu ditentukan dalam waktu dekat ini: masuk UGM.

Liburan ini lembaga-lembaga bimbingan belajar tetep ngadain kelas untuk kelas-kelas 'ujung'. Bahkan beberapa kali Try Out sudah digelar oleh lembaga pendidikan. Dan memasuki awal tahun, pasti sekolah memfokuskan siswa-siswi kelas 'ujung' agar siap menghadapi UN.

Ane lumayan seneng dengan hasil yang didapat dari Try Out yang pernah ane ikutin. Sekitar 50%, katanya udah termasuk "Good". Dan Alhamdulillah ane sendiri dapet peringkat ke-5 se-Bekasi. Tapi apakah nanti akan berhasil lagi? Mudah-mudahan gak tertipu dengan hasil percobaan, takut nanti lalai di medan perang.

Ujian tadi pagi juga 'relatif mudah' dibandingin sama soal-soal yang pernah dikerjakan sebelumnya. Tapi untuk ujian tadi pagi, salah satu hal yang dijadiin pertimbangan itu besarnya kontribusi sumbangan pendidikan yang kita tulis bahwa kita bersedia memberikan segitu. (mudah-mudahan gak salah nulis, husnudzhon ya!) Jadi agak pesimis...

Well, gak boleh patah semangat. Bukan prioritas utama ini :p Dan walau pun gak dapet di UGM, kita semua harus tetep berkarya. Setuju?

Sebenarnya untuk nyemangatin diri, ane berpikir:

Supaya bisa berkarya dan bermanfaat sebaik mungkin, maka kita harus bisa belajar di universitas yang terbaik!


Nah, nanti klo ternyata gak dapet, baru deh:

Di mana pun kita kuliah, kita masih hidup dan hidup kita harus kita jadikan berharga sebaik mungkin. Karya seseorang nggak ngeliat di mana dia kuliah, yang penting berusaha dan selalu optimis!


Yap! Terus beribadah, berkarya!

Minggu, 15 November 2009

Kata Mutiara Buku Tahunan

Bismillah

Kemaren, terus kemaren-kemarennya lagi entah kapan yang penting nggak nyampe sebulan apalagi setahun, harus mengekspresikan diri dalam untaian kalimat sebagai kenangan yang akan ditinggalkan dalam buku tahunan. Singkat, padat, penuh arti, atau hanya menggelitik tapi khas dan berkelas unik. Gak mesti maksimal 140 karakter, kok. Bukan twitter apalagi status Fb. Emang siapa yang nyambungin ke situ? (Hahaha... ngelantur nih...)

Sempet baca beberapa, bagus-bagus. Ada juga yang seakan melucu. Atau gak peduli sama kalimatnya? Entah.

Ane, temen sebangku dan dua temen yang duduk di depan ane ngobrol untuk nentuin kalimat yang bakal dipajang. Hampir semuanya absurd. Seperti

Pengalaman adalah guru terbaik, karena gak pernah ngasih PR


Ringan sama dijinjing, berat sama dibanting

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari

Dan beberapa lagi yang aneh...

Sebenarnya opsi-opsi tadi gak bakal ane pake. Cuman ikutan nimbrung ngegaringin obrolan yang seringkali naik pangkat jadi debat kusir. *Ketawa garing*

Nah, untuk ane sendiri, ane bukan orang yang pinter ngerangkai kata dan mencoba untuk mencapai esensi tapi yang nggak terkesan 'muna' dalam arti yang dipahami masyarakat pada umumnya.

Sempet kepikiran mau nulis

Hidup adalah ibadah

tapi ada rasa enggan karena malu sendiri ngeliat kelakuan kayak gini. Ane gak jadi nulis itu walau ane yakin kalimat tadi 100% bener... Setuju kan?

Nah, akhirnya nemuin juga kalimat yang mewakili cara berpikir waktu dulu banget...

Andai surga dan neraka gak ada, kematian lebih baik bagi ane. Tapi yang memberikan kehidupan ini Allah...

Dulu tuh agak lama nyampe nambahin kalimat, "Tapi yang memberikan kehidupan ini Allah" untuk cara berpikir...

Lagian, emangnya boleh berandai seperti itu? Kenapa ane nanya sendiri? Toh, akhirnya itu juga kata mutiaranya.

Ohya, klo ada yang mau ane saranin kata mutiaranya, ane sarankan menulis:

Kata Mutiara: Gue ganteng, sama kayak kata Intan kelas sebelah, hehehe...

Sabtu, 14 November 2009

Cita-cita Lebih dari 'Aku Ingin Menjadi'

Mungkin karena diri yang tengah berada di tengah-tengah masa akhir pendidikan menengah. Meninggalkan bentuk pengajaran yang walau diusahakan 'Guru sebagai Fasilitator' tapi masih saja banyak siswa yang kurang aktif menuju bangku kuliah atau mungkin langsung terjun bekerja. Saat yang bisa dibilang sangat menentukan sebagai landasan menghadapi masa depan dan 'dunia yang sesungguhnya' bagi kami para remaja. Waktu ber'harap-harap cemas' ria, menguatkan diri menerima hasil, mengumpat untuk kemalasan dan segala bentuk kelalaian yang menipu serta pasrah pada nasib. Ya, mungkin karena diri ini berada pada keadaan tersebut, sering terdengar pembicaraan tentang minat, keinginan untuk melanjutkan ke mana, cita-cita…

Dan tentunya kita semua akan bermimpi dan berkhayal, menguras imajinasi dan akal untuk membentuk sebuah gambaran dari hakikat keinginan kita yang terbesar. Keinginan yang juga pasti dipengaruhi oleh asumsi seberapa berharga kita untuk hidup, apa tujuan hidup, apa arti hidup, bagaimana membuat hidup kita berarti, bagaimana memanfaatkan hidup dan seterusnya. Untuk mendapatkan gambaran yang paling mendekati keinginan kita yang sebenarnya, kita memerlukan imajinasi setinggi-tingginya sehingga gambaran yang didapat paling indah. Di samping itu, akal sehat, logika, rasio sewajarnya, juga diperlukan sehingga gambaran yang ingin dicapai memang realistis, tapi merupakan sebuah terobosan yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. Dengan imajinasi dan akal pula kita berusaha menarik garis dari gambaran yang ingin dicapai tadi sampai ke posisi di mana kita berdiri saat ini sehingga kita tahu ke mana, kapan, bagaimana mulai menjejak secara perlahan maupun segera untuk menggapainya. Bagaimana imajinasi Anda? Sudahkah Anda menarik garis tadi? Seberapa seru perjalanan yang harus Anda tempuh untuk menggapainya?

Tapi perlu diingat – hal yang sering kita diingatkan tentangnya – bahwa cita-cita bukan sekedar 'Aku ingin menjadi'. Bukan cita-cita yang dijawab oleh anak berumur sepuluh tahun ke bawah. Bukan pula cita-cita orang dewasa yang beranggapan uang adalah segalanya. Dan, untuk cita-cita yang terakhir, tidak ada di antara kita yang seperti itu kan? Pasti tidak ada, Insya Allah.

Apa cita-cita Anda? Apa arti cita-cita bagi Anda? Mengapa Anda harus meraih cita-cita?

Yang paling perlu diingatkan tentang hal ini adalah aku sendiri. Apa itu cita-cita?

Dengan kalimat dan wawasan yang sangat sempit dari seorang remaja, cita-cita adalah hal yang ingin dicapai seseorang untuk membuat eksistensi dirinya benar-benar berarti sebagai manusia. Cita-cita adalah hal yang ingin dilakukan yang bermanfaat bagi orang lain, siapa saja atau mungkin hanya dirinya sendiri yang akan membuat keberadaan dirinya di dunia berarti, minimal menurut dirinya sendiri.

Itu makna cita-cita yang pasti salah atau melenceng, mungkin ada benarnya tapi pasti ada salahnya. Cita-cita dengan makna tadi akan memungkinkan seseorang bertujuan mencapai hal buruk untuk merasakan benar-benar hidup, menurutnya, dan itu masih disebut cita-cita jika makna yang disebutkan tadi benar. Kita beruntung karena yang menyatakan cita-cita seperti itu hanyalah remaja ingusan yang sering ceroboh dan masih sesuai dengan peribahasa 'tong kosong nyaring bunyinya'. Yah, mari kita doakan bersama agar remaja itu segera mendapatkan hidayah untuk istiqamah hingga akhir hayatnya. Oh ya, jangan lupa untuk diri kita masing-masing juga :D

Tapi ada yang membisiki sebuah makna dari cita-cita.

Baik, dia memang tujuan. Tapi tujuan yang menjadi sarana untuk mendapatkan hal yang lebih penting. Cita-cita adalah tujuan, hal terbesar bagi kita, yang paling berarti, yang membuat kita menjadi bermanfaat dan, membuat kita diridhai Allah. Ya, membuat kita meraih surga-Nya.

Kita akan terhenti ketika mencapai profesi yang waktu dulu kita jadikan 'cita-cita' jika memang cita-cita hanya 'Aku ingin menjadi'.

Cita-cita juga bukan untuk meraih kemapanan hidup dan kebahagiaan duniawi semata.

Karena cita-cita adalah hal terhebat yang kita sanggup lakukan untuk menjadi bermanfaat dan dengan itu kita mendapatkan kebahagiaan sejati: ridha Allah dan surga-Nya, maka cita-cita adalah idealisme kita dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah tujuan yang juga menjadi motivasi menghadapi berbagai debu kehidupan yang berterbangan di sana-sini.

Tujuan dan motivasi yang harus kita sesuaikan dengan panduan-panduan kehidupan dari Sang Pemilik Kehidupan.

Rabu, 04 November 2009

Let's Run!!!



Ada yang mau ikut berlari? Ayo!

Berlari, seperti larinya mereka. Keempat anak dalam novel 'Mengejar Mentari'.

Ya, dalam novel itu, empat anak tadi memiliki permainan yang unik dan istimewa. Aku tidak membacanya secara pasti. Tapi yang masih aku pahami dari permainan mereka gambarannya seperti ini:

Di jalanan lurus yang kala sore atau pagi terlihat mentari di salah satu ujungnya, mereka berempat berlomba, berlari, mencoba menuju matahari yang terlihat. Berlari sekuat mungkin meninggalkan yang lain. Berlari terus hingga tiada akhir kecuali akhir jalanan itu. Karena matahari di depan mereka, tidak akan pernah terjangkau. Tapi mereka menikmatinya sebagai kegiatan yang mengeluarkan energi, memacu adrenalin, karena mereka akan terus berlari sekuat tenaga sampai kehabisan napas... Sampai semuanya kelelahan dan permainan berakhir.

Ayo berlari di atas lintasan kehidupan ini. Dan kita benar-benar mengejar mentari itu. Walau tahu tidak akan pernah mencapainya, tapi matahari itu memang ada...

Karena aku menerjemahkannya dengan pikiran seorang remaja belasan tahun yang tengah labil.

Kehidupan ini adalah lintasan tanpa batas, kecuali akhir keberadaan dunia ini-kiamat. Dan matahari itu adalah kebahagiaan hakiki.

Kita terus harus berlari mengejarnya, walau mengerti bahwa kebahagiaan hakiki tidak akan kita dapatkan di atas lintasan ini. Suatu saat, sebelum lintasan habis kita lalui, kita akan kehabisan napas dan tenaga, terjatuh dan tak akan bangkit lagi.

Tapi kita memang harus terus berlari. Apakah ada yang bertanya mengapa? Karena mungkin terdengar aneh, kita harus berlari, di atas lintasan ini, walau mentari itu tak akan pernah tergapai...

Dan harus segera kukoreksi, 'mentari itu tak akan pernah tergapai... di atas lintasan ini'.

Tentu saja karena lintasan ini hanya arena yang menentukan seberapa keras kita berusaha, sekencang apa kita berlari. Dan, satu lagi yang fatal jika tidak diperhatikan, apakah benar jalur berlari kita?

Baiklah, ini memang jalanan lurus, tapi sebagaimana lintasan para pelari olimpiade, memiliki garis. Garis tempat mereka memacu stamina. Garis yang mungkin kita akan lalai sehingga melampauinya.

Dan, kuakui, sebuah pemaksaan analogi terhadap kehidupan.

Mari! Kita teruskan berlari!

Meneruskan kehidupan dengan semangat penuh. Merasakan angin yang menerpa wajah. Dengan petunjuk yang ada, sesuai jalur yang tersedia. Jalur yang jelas, pasti.

Bukan berlari dari masalah, tapi lari menerobos permasalahan yang ada! Terobos dengan menyelesaikannya!

Walau mungkin ini tak jelas, aku ingin berlari sekencang mungkin!