Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2013

Bad News, Buat Keburukan Jadi Biasa

بسم الله الرحمن الرحيم

Penyerangan di LP Cebongan. Hanya itu? Tidak. Selain berita yang tadi disebut, kita sudah banyak mendengar banyak peristiwa-peristiwa tindak kekerasan lainnya saat ini. Beragam berita, wacana dan artikel tentangnya ditulis. Entah itu sekedar penyampaian peristiwa, analisa kejadian atau solusi-solusi yang ditawarkan.

Dalam kondisi sekarang ini, dengan banyaknya kejadian kekerasan, media seakan dibanjiri dengan berita-berita yang 'negatif'. Belum lagi ditambah kejadian-kejadian buruk atau kasus-kasus lainnya. Sehingga yang setiap hari tersuguh kepada kita adalah berita-berita semacam itu.

Apa saja contoh lainnya? Well, kalau disebutkan malah sedikit banyak bertentangan dengan apa yang ingin disampaikan.

Apa yang ingin disampaikan?

Begini, menurut saya, secara langsung atau tidak langsung berita-berita tersebut mempengaruhi alam bawah sadar pikiran kita. Kita yang tadinya sangat anti, takut dan merasa terancam akan suatu keburukan, lama-kelamaan akan terbiasa. Padahal rasa anti, takut dan terancam tadi adalah di antara sekian faktor yang dapat mencegah seseorang melakukan kejahatan.

Tadinya kita merasa suatu perbuatan adalah hal yang tabu dan melanggar norma, namun karena mendengar perbuatan tersebut banyak dilakukan, hilanglah rasa malunya untuk berbuat.

Itu kemungkinan yang terjadi dengan orang yang dulunya merasa suatu kejahatan adalah tabu. Bayangkan bagaimana dengan generasi belakangan yang kejahatan-kejahatan selalu disiarkan siang malam. Seakan tiada lagi orang baik di muka bumi.

Teringat cuplikan cerita dalam novel yang cukup terkenal, Sang Pemimpi ketika Arai dan Ikal baru saja memulai petualangan mereka di Ibu Kota...

"Dan hari-hari berikutnya adalah malam-malam tak bisa tidur dan tak enak makan waktu menemukan koran-koran merah yang memuat warta dan gambar penggorokan, perampokan, dan pemerkosaan di sana sini yang hampir setiap hari terjadi di kota. Demikian semaraknya kriminalitas di Bogor, Jakarta, atau Tangerang.
Seakan kota-kota ini akan menjadi kota mati jika sehari saja tidak terjadi tindak kejahatan. Namun, anehnya lambat laun menjadi terbiasa. bahkan ketika nenek-nenek dirampok, dicabuli, dan dibunuh, aku telah menjadi seperti orang kebanyakan : sekali menarik napas panjang, semenit kemudian bahkan lupa inisial nenek itu. Ini adalah kemorosotan paling besar yang kutemukan dalam diriku dengan hidup di kota."

Kemerosotan besar.

Faidah yang lebih besar berkaitan hal ini tentu kita bisa dapati dari Al-Quran dan Sunnah. Di sini saya salinkan artikel Ust. Abul Jauzaa yang berjudul "Aib, Sesuatu yang Seharusnya Ditutupi."

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhir” [QS. An-Nuur : 19].

Pada ayat di atas Allah ta’ala menjelaskan bahwa menyebarkan satu kemunkaran (baik dari jenis perkataan atau perbuatan) agar beredar di kalangan mukminiin, merupakan sifat orang-orang yang mendapatkan ancaman Allah ta’ala akan ‘adzab.

Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

“Ini merupakan pelajaran ketiga, bagi siapa saja yang mendengar sesuatu dari perkataan yang buruk, lalu dengan pikirannya tergambar sesuatu yang akan diucapkannya; maka janganlah ia bergegas memperbanyak dan menyiarkannya. Allah ta’ala telah berfirman : ‘Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman’ ; yaitu : mereka menginginkan agar perkataan itu nampak dengan buruk. ‘bagi mereka azab yang pedih di dunia’ ; yaitu dengan hukuman hadd. ‘dan di akhirat’; yaitu dengan adzab”.

Ibnu Rajab Al-Hanbaliy rahimahullah berkata :“Maksudnya adalah menyebarkan perbuatan keji seorang mukmin yang berusaha menutupi aib yang ada pada dirinya tersebut, atau menuduh seorang mukmin dengan satu kekejian yang ia berlepas diri darinya (tidak melakukannya)”.

Dari ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Orang yang mengatakan kekejian dan orang yang menyebarkannya; dalam dosa adalah sama”.

Dalam riwayat lain, ia berkata :
“Orang yang mengatakan kekejian dan orang yang setia mendengarkannya, dalam hal dosa adalah sama”

Lalu...

Mari kita perhatikan kisah menarik Maa’iz dan Hazzaal berikut ini :

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu berada di masjid. Ia memanggil beliau dan berkata : “Wahai Rasulillah, sesungguhnya aku telah berbuat zina”. Mendengar itu beliau berpaling darinya, hingga orang tersebut mengulangi sampai empat kali. Ketika ia bersaksi atas dirinya sebanyak empat kali, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan bersabda : “Apakah engkau gila ?”. Ia menjawab : “Tidak”. Beliau bersabda : “Apakah engkau telah menikah ?”. Ia menjawab : “Ya, pernah”. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bawalah pergi orang ini”. Lalu para shahabat merajamnya.

Dari Nu’aim bin Hazzaal ia berkata : Hazzaal pernah menyewa Maa'iz bin Maalik dan ia memiliki seorang budak wanita bernama Fathimah yang ia miliki. Budak wanita ini bertugas menggembala kambing milik mereka dan Maa'iz pun menyetubuhinya. Maa'iz memberitahukan hal itu kepada Hazzaal, kemudian Hazzal mengelabuhinya dan berkata : “Pergilah ke Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan beritahukan pada beliau (tentang hal yang kau alami). Mudah-mudahan turun Al-Qur’an berkenaan denganmu”. (Setelah ia menghadap dan menceritakan apa yang telah ia lakukan, sebagaimana hadits sebelum ini – Abul-Jauzaa’), lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar dirajam. Saat dirajam dan terkena hantaman batu, Maa'iz berusaha lari kemudian seseorang mengejarnya dengan membawa tulang dagu onta atau tulang betis onta, kemudian dipukulkan ke Maa'iz hingga mati. Setelah itu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Celaka kau hai Hazzal, seandainya engkau tutupi dengan bajumu tentu lebih baik bagimu"

Ibnu Hajar berkata :

“Telah berkata Al-Baajiy : Makna (perkataan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘seandainya engkau tutupi dengan bajumu tentu lebih baik bagimu’) adalah lebih baik bagimu daripada engkau suruh ia untuk menjelaskan perkaranya (kepadaku). Adapun anjuran untuk menutupinya adalah dengan menyuruhnya bertaubat dan menyembunyikan aib yang telah dilakukannya sebagaimana yang telah diperintahkan Abu Bakr dan ‘Umar (sebelum Maa’iz menghadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam). Penyebutan ‘baju’ adalah mubaalaghah, yaitu seandainya engkau tidak mendapatkan jalan untuk menutupinya kecuali (menutupinya) dengan pakaianmu dari orang yang mengetahui perkaranya, maka itu lebih utama/baik daripada yang telah engkau sarankan kepadanya untuk menampakkannya”

“Asy-Syaafi’iy berkata : ‘Aku senang seandainya orang yang berbuat dosa yang kemudian Allah menutupi dosanya tersebut (sehingga tidak diketahui orang lain); agar juga menutupinya dan bertaubat (kepada Allah ta’ala)’. Beliau (Asy-Syaafi’iy) berhujjah dengan kisah Maa’iz bersama Abu Bakr dan ‘Umar. Ibnul-‘Arabiy berkata : ‘Semuanya ini berlaku untuk selain orang yang terang-terangan berbuat kemaksiatan. Adapun bagi orang yang terang-terangan berbuat kemaksiatan/kekejian, maka lebih senang untuk mengungkapkannya dan menghukumnya agar ia merasa jera dan menjadi pelajaran bagi yang lain”.

Apa yang dikatakan oleh Ibnul-‘Arabiy rahimahullah di atas didasarkan oleh sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

“Setiap umatku dimaafkan (dosanya) kecuali orang-orang terang-terangan melakukan dosa. Dan sesungguhnya diantara terang-terangan (melakukan dosa) adalah seorang hamba yang melakukan amalan di waktu malam sementara Allah telah menutupinya kemudian di waktu pagi dia berkata : 'Wahai Fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu’, padahal pada malam harinya (dosanya) telah ditutupi oleh Rabb-nya. Ia pun bermalam dalam keadaan (dosanya) telah ditutupi oleh Rabbnya dan di pagi harinya ia menyingkap apa yang telah ditutupi oleh Allah”

Well, walau bukan berarti semua berita itu harus dihapuskan sama sekali. Tapi tentu ada batasannya bukan?

Wallahu A'lam.

Rabu, 30 Januari 2013

Dosa Itu Menyakiti Alam Semesta

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu'alaikum!

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, pernah mendapatkan ayat ini dan sedikit banyak merenunginya?

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)

Pernah, insya Allah, ketika tilawah atau ada pengajian yang membahas ayat ini. Saya sendiri teringat masa-masa SMA ketika dibacakan ayat ini.

Ketika itu yang dibahas adalah tentang Islam dan lingkungan, bahwa Islam mengajarkan pemeluknya untuk memperhatikan dan menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Menjaganya dengan tidak membuang sampah sembarangan, menolak penebangan pohon secara liar, melakukan reboisasi dan lain sebagainya. 'Perbuatan tangan manusia' yang menjadi sebab kerusakan alam di ayat itu lebih dibawa ke makna kelalaian kita yang berkaitan langsung dengan rusaknya ekosistem.

Well, itu benar. Tapi yang lebih tepat ternyata tidak hanya mencakup kesalahan manusia yang berkaitan dengan ekosistem lingkungan, tapi semua dosa yang ia lakukan.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ وَمَا لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا ظَهَرَ فِيهِمُ الأَمْرَاضُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ فِي أَسْلَافِهِمِ وَمَا مَنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَ مَا لَمْ يُطَفِّفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِجَوْرِ السُّلْطَانِ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَالسِّنِينَ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيْدٌ

“Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara, jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatkannya. Tidaklah muncul perbuatan keji (Zina,merampok, minum khamr, judi, dan lainnya) pada suatu masyarakat, sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang sebelum mereka. Orang-orang tidak menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan. Tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan kezhaliman pemerintah, kehidupan yang susah, dan paceklik. Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Allah. Dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan yang keras di antara mereka.”

Ya, benar bahwa kesalahan kita buang sampah atau limbah sembarangan itu merusak alam. Tapi ternyata perbuatan dosa kita yang lainnya pun menyakiti alam semesta. Apakah itu berbohong, memandang yang haram, berbuat curang, ghibah dan lain sebagainya.

Hal lain yang menunjukkan hal tersebut adalah suatu hadits yang menyebutkan bahwa pada asalnya hajar aswad diturunkan berwarna putih. Lalu ia lama kelamaan menjadi hitam karena disebabkan perbuatan dosa yang dilakukan manusia.


Oleh karena itu dalam suatu hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda

أَبِي قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِيٍّ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

Abu Qatadah bin Rib'i Al Anshari, ia menceritakan bahwasanya Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam pernah dilewati jenazah, kemudian beliau bersabda: "Seorang yang beristirahat dan orang yang orang lain beristirahat darinya". Para sahabat bertanya; 'Wahai Rasulullah, apa maksud anda ada orang beristirahat dan orang yang orang lain beristirahat darinya? ' Jawab Nabi: "seorang hamba yang mukmin akan beristirahat dari kelelahan dunia dan kesulitan-kesulitannya menuju rahmat Allah, sebaliknya hamba yang jahat, manusia, negara, pepohonan atau hewan beristirahat darinya (dari kejahatannya)."(Hadits disalin dari situs Hadits Online dan terjemahnya dirubah sedikit oleh Blogger).

'Hamba yang jahat, manusia, negara, pepohonan atau hewan beristirahat darinya (dari kejahatannya)', mereka (manusia, negara, pepohonan atau hewan) beristirahat dari fajir, pelaku dosa, yang dosa-dosanya menyakiti alam dan isinya.

CMIIW

Wallahu A'lam bish-shawaab. Kesalahan dari ana pribadi, kebenaran datangnya dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Artikel ini terinspirasi dari salah satu video dari channel Rodja TV di YouTube yang berjudul 'Dosa Menyakiti Alam dan Seisinya'.

Ayat dah hadits pertama beserta terjemahnya disalin dari ssalah satu artikel Muslim Afiyah yang berjudul 'Banjir, Sebaiknya Jangan Cari Kambing Hitam Apalagi Pemimpin/Gubernur'.

Selasa, 22 Januari 2013

Silogisme dan Takfir

بسم الله الرحمن الرحيم

Di kajian aqidah tanggal 9 Rabi'ul Awwal 1434 H, 21 Januari 2013 M, Ustadz sempat menceritakan sebagian kisah dan pelajarannya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, selain dikenal dengan madzhab hanbalinya, beliau juga terkenal sebagai Imam Ahlissunnah wal Jama'ah. Di antara sebabnya adalah pembelaan beliau terhadap sunnah dan akidah yang lurus, perjuangan beliau mempertahankan akidah bahwa Al-Quran adalah Kalam Allah, huruf dan maknanya, bukan makhluq.

Memang apa sih hukumnya orang yang mengatakan bahwa Al-Quran itu makhluq? Apa konsekuensinya?

Ditanyakan demikian, Ustadz menjawab: kafir!

Sebagaimana pendapat Imam Ahmad rahimahullah bahwa siapa yang berpendapat bahwa Al-Quran adalah makhluq, maka dia telah kufur.

Akan tetapi pada prakteknya, Imam Ahmad tidaklah mengkafirkan para khalifah yang mereka menetapkan keyakinan Al-Quran makhluq sebagai keyakinan resmi. Sempat ada yang bertanya, apakah sudah saatnya memberontak, beliau menolak dan menyuruh yang bertanya tadi kembali. Bahkan beliau mendoakan kebaikan dan hidayah untuk para khalifah yang berkuasa.

Ustadz pun menjelaskan, takfir atau menyatakan kekafiran, jika ditujukan untuk individu dan personal, tidaklah sama dengan silogisme sederhana.

Di atas disebutkan bahwa meyakini Al-Quran makhluk adalah kekufuran.

Misalnya 'meyakini Al-Quran makhluk adalah kekufuran' premis umum, lalu ada premis khusus 'Fulan mengatakan Al-Quran itu makhluq' maka tidak bisa langsung disimpulkan 'Fulan kafir'.

Mengapa? Karena 'menyatakan suatu perbuatan adalah bentuk kekufuran' dan 'menghakimi kafir orang yang melakukan perbuatan tersebut' adalah dua hal berbeda. Dan hal yang terakhir memiliki metode dan aturan sendiri.

Wallahu A'lam bish-shawaab.

Baca: Al-Qur'an adalah Kalamullah, Bukan Makhluk !!

Sabtu, 03 September 2011

khayalan ba'da lebaran: 'kapsul'

بسم الله الرحمن الرحيم
Alhamdulillah, nyampe Jogja lagi. Setelah 5 hari berlebaran di Kebumen, ketemu sanak sodara, walhamdulillah.

Btw, itung-itung belum ada 7 hari dari lebaran, jadi



 TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM!!

Ohya, sejak beberapa tahun lalu ane mempertanyakan keistimewaan Ramadhan dan lebaran. Tentu Ramadhan dan Idul Fitri istimewa, tapi... Entah kenapa rasanya kita yang bebal memaknai keistimewaan tersebut. Keistimewaan yang ada hanya sebuah rutinitas tahunan. Makanya pas mau masuk lebaran ane sempet sms ke temen-temen tentang sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bahwa celaka orang yang tidak mendapat ampunan padahal dia berjumpa dengan Ramadhan.

Gitu juga dengan keistimewaan 1000 bulan Lailatil Qadr. Padahal yang pernah ane baca kalo gak salah tangkep, keistimewaan adanya malam itu bagi umat Muhammad ini tidak lain untuk menandingi ibadah orang-orang dahulu yang usianya ratusan bahkan ribuan tahun. Kalo umur kita yang paling lama aja seratuslimapuluhan atau sekitar itu, ibadah kayak gini dan gak nyari keutamaan lailatal qadr?

Makanya, ada postingan menarik dan sayang aja baru mosting sekarang

Spoiler:


Sungguh Pede Sekali!

Sungguh PeDe sekali
Orang yang ketika Idul Fitri
Merasa sudah suci
Dosa-dosa tak bersisa lagi
Dan kembali seperti bayi

Padahal ia puasa sekedar ikut tradisi
Shalat tarawih cuma beberapa hari
Baca Qur’an hanya sesekali
Sedekahnya ingin dipuji
Larangan agama pun tak dijauhi

Lailatul Qadar, ia tak peduli
Sibuk pikirkan gaji bulan ini
Katanya untuk baju anak-istri
Kalau halnya begini
Mungkinkah dosa-dosa diampuni?

Eh, ketika Idul Fitri
Ia merasa sudah suci
Dosa-dosa tak bersisa lagi
Dan kembali seperti bayi
Sungguh PeDe sekali

(Sumber: Sungguh Pede Sekali!)

Ane merasa udah menyia-nyiakan Ramadhan tahun ini. Tapi, pas mau berharap disampaikan Ramadhan tahun depan, takut waktu antara dua Ramadhan malah berisi dosa, dan Ramadhan tahun depan sama aja.

Oleh karena itu, ada kutipan dari sms tahniah Idul Fitri dari 'adik perempuan' ane yang mengena buat ane:

n semoga ketaqwaan tak surut walau meninggalkan Ramadhan

Hm, kira-kira gitu. Tapi ane lupa aslinya karena smsnya udah diapus.

Ohya, perjalanan ke Jogja tadi, ane naik angkutan tiga perempat yang kayaknya nekat ngambil trayek ke Jogja. Karena emang bus-bus pada penuh, sehingga mungkin mereka melihat kesempatan bagus. Mana tarifnya lumayan, trus maksa lagi masukin penumpang. Taukan maksud maksa di sini? Jadi, udah jejel-jejelan di dalem, masih aja nyari penumpang lain. Trus, kayaknya keneknya gak terlalu paham daerah sekitar Jogja. Jadi sempet salah belokan. Hahaha.

Untung ada temen smsan, jadi pikiran teralihkan ke cerita hidup sang temen yang mau ikut LDK tanggal 6 ini insya Allah. Seperti biasa, arah pembicaraan ngalor-ngidul tapi lumayan ngebangun mood.

Nah, karena pas nyampe Jogja relatif sepi, dengan mood kayak gini, ane iseng jalan-jalan. Gak menarik amat sih tujuannya, cuma ke Maskam untuk shalat Maghrib di sana. Tapi enak aja jalan kaki sore-sore pas keadaan masih sepi, ngeliatin aktivitas di lembah UGM.

Pas gini nih, serasa gak ada beban, jalan ke tujuan danpa dipedulikan orang-orang. Asik menikmati sebagai penonton dan sehat pula!

Dulu waktu baru-baru di Jogja, niatnya pengen sering-sering jalan dari kosan ke kampus. Tapi karena kegiatan juga, dan mungkin rasa males yang datang, jadi jarang banget. Mudah-mudahan semester ini bisa, karena ngarep juga dari jalan kaki tadi, kesehatan dan stamina membaik.

Masalahnya kalo udah di kampus trus ternyata harus ke tempat lain yang lumayan jauh sedang motor di kosan dan waktu mepet. Kalo ke kosan dulu, pasti gak kekejar. Masa harus ngorbanin kebiasaan jalan kaki, bawa motor terus biar mobilitas tinggi?

Ane mengkhayal ada teknologi 'kapsul' yang kayak di kartun Dragon Ball dulu, tau kan? Teknologi yang nyimpen kendaraan di kapsul kecil. Jadi kita enak. Jalan kaki sesukanya, tapi kalo dibutuhin ya tinggal ngebanting kapsulnya dan muncullah kendaraan kita. Selain itu, bisa ngehemat lahan parkir lagi!

Haha. Mungkin gak sih?

Well, namanya juga khayalan. Sekarang udah ada sih sepeda lipet, tapi tetep aja berat dan repot, mana belum punya (dan harganya relatif mahal bagi ane lagi!).

Tapi, emang kalo ada teknologi 'kapsul', biayanya gak mahal?

Uh, ribet juga kalo mau nyelarasin kenyataan dan khayalan. Bikin ngantuk aja, hahaha.

Sekian, oyasuminasai! Wassalamu'alaikum.

Jumat, 09 Juli 2010

Hantu? Siapa takut?! Cuih! (Saya takut sih sebenarnya...)

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh!

Apa kabar? Sekarang udah Juli dan post terakhir bulan Mei, berarti udah lama banget gak posting. Eh, sekalinya posting masalah ginian. Yah, dari pada gak posting kan?

Mungkin antum sudah mengetahui atau membaca tentang hantu-hantu di banyak perguruan tinggi Indonesia. Salah satunya di UGM. Yah, berhubung Alhamdulillah ana melanjutkan pendidikan di sana jadi ana gabung di grup Maba dan mendapatkan tautan tentang hantu UGM dari sana. Eh, seterusnya ana jadi penasaran dengan universitas lain dan setelah mendapatkan tautan tentang hantu UI dan tautan hantu ITB, baru ana udahan penasarannya.

Hmm, masalah hantu, jujur saja, ana merasakan takut. Tapi ana juga sadar takut ini agak aneh. Apa yang membuat ana takut sama hantu? Setelah ana pikir, ana dapat dua jawaban: takut disakiti secara fisik dan takut melihat penampakan mereka yang menyeramkan. Secara umum ini yang bikin orang-orang takut dengan mereka kan?

Tapi ada yang lebih menakutkan sebenarnya. Bukan dari hantunya. Tapi dari rasa takut terhadap hantu. Paham kalimatnya kan?

Ketakutan terhadap jin dan semisalnya bisa menjadi suatu kesyirikan. Nah, akibat dari kesyirikan jauh lebih menakutkan dari pada hantu bukan?

Oleh karena itu ana pernah berpikir hal yang membuat rasa takut hilang. Langsung aja ana memikirkan dua hal tadi: takut dilukai secara fisik dan takut akan rupa menyeramkan.

Dilukai secara fisik? Gimana caranya? Hmm, pernah memikirkan itu? Dapat jawaban? Ana tidak. Walau pernah menonton film hantu yang membunuh manusia, Alhamdulillah gak pernah percaya. Gak pernah (dan gak mau) ketemu soalnya.

Karena rupanya yang serem? Hmm. Ini bisa dibiasakan kayaknya. Dulu pas kecil ana selalu nangis ketika ada ondel-ondel atau patung singa. Tapi sekarang udah enggak. Untuk penampakan seperti di film-film hantu, untuk apa takut? Ketika terbayang wajah-wajah seram ana langsung mengingat apa yang pernah ana lihat hanya muka biasa yang di'hancur'kan (bukan dirias. dirias itu untuk tambah cakep kan?).

Dan ana selalu bertanya kenapa kita takut pada rupa-rupa itu? Serem? Ya.. kenapa rupa seperti itu serem? Jawaban sementara ana mungkin karena 'hancur'. Kita takut kita hancur dan takut akan kehancuran. Wallahu A'lam.

Yang pasti supaya tidak syirik yang harus kita lawan adalah rasa takutnya. Ya! Rasa takut! Bukan hantunya!

Kalau hantunya sih gak usah dilawan asal mereka gak ngeganggu.

Dan, ternyata menurut artikel ini, manusia lebih mulia dari bangsa jin. Jadi buat apa takut?

Kamis, 29 April 2010

Berharap Pada Perguruan Tinggi Idaman

بسم الله الرحمن الرحيم

Miris.
Sedih, gelisah berkalut-kalut!

Setiap hari yang kudengar dan kubaca berita, hampir seluruhnya hal-hal buruk tentang atau yang terjadi di negeri ini.

Pincang. Sangat tak berimbang.

Di sana anak negeri menyetak prestasi gemilang, sedang di sini berbagai keributan terjadi tak keruan.

Indonesia butuh, tidak, kitalah yang butuh generasi penerus yang dapat memperbaiki keadaan negeri ini.

Tapi hatiku lemas kala melihat teman-temanku yang guling-gulingan saat menghadapi kenyataan tak lulus ujian. Walau pun mereka disebut sebagai siswa terbaik di sekolahnya, apakah selemah itu diri mereka??!

Walau aku lulus dengan cara yang dipertanyakan, tapi aku bangga dengan beberapa sahabat yang kukenal di mana mereka telah siap mental menerima kegagalan. Mereka siap! Dan mereka menolak mengikuti arus yang mengarah ke kubangan...

Noda kini tak segan menempel di sekolah-sekolah tempat para pemuda disiapkan untuk membangun negeri. Lantas, mau dibawa ke mana negeri ini??

Ya, aku pun menyadari dan mengakui, bahwa diri telah terluka borok akhlaq dan mental. Aku pun bingung, saat ingin memperbaiki idealisme, kutemukan kebanyakan mereka beridealisme duit.

Hanya beberapa orang yang masih teguh. Kebanyakan mereka masih 'hangat' baru diwisuda, baru keluar dari tempat idealisme mereka menguat, universitas.

Hmm. Mungkin di sanalah tempat berada orang-orang beridealisme tinggi membangun negeri. Universitas-universitas, jenjang yang akan kutempuh.

Tapi kemudian aku ragu. Bukankah para 'pemain' di belakang berbagai institusi yang kini terkenal 'kotor' pun belajar di universitas juga? Yah, nyatanya lama kelamaan sebagian besar mereka kehilangan idealisme karena menghadapi 'dunia sesunguhnya'.

Kini aku pun memimpikan perguruan tinggi idaman. Perguruan tinggi terbaik untuk aku belajar. Ya, perguruan tinggi dengan pendidikan bagus dalam akademis dan kepribadian serta dapat memelihara idealisme almameternya sehingga apa yang ilmu yang diterima bisa berguna bagi bangsa, bukan malah untuk mengakal-akali rakyat.

Perguruan tinggi yang juga mengadakan kegiatan untuk memupuk idealisme sehingga motivasi lulusannya adalah kesejahteraan orang banyak.

Perguruan tinggi dengan fasilitas cukup, karena kupikir seharusnya kita juga diajari untuk tidak manja dan cengeng. Tapi bukan berarti fasilitas seadanya karena kita juga harus 'melek' teknologi dan tanggap tuntutan zaman.

Perguruan tinggi yang ikut andil dalam memajukan masyarakat secara luas dan bijaksana dalam menuntut atau menyikapi pemerintah (bukan dengan demo melulu yang sering tanpa hasil malah banyak kerugian).

Perguruan tinggi favorit Indonesia, ya, Indonesia! Bukan perguruan tinggi favorit masyarakatnya, karena saat ini kita teracuni oleh gengsi.

Perguruan tinggi yang benar-benar mencetak manusia-manusia yang membangun negeri dan terus bejuang walau sering diacuhkan.


Dan, inilah Universitas Islam Indonesia yang mengadakan Lomba Blog UII. Kuharap dasarnya adalah menghias diri dan bersama universitas-universitas lain sehingga dapat menjadi institusi pendidikan tulang punggung kemajuan.

Langkah yang diambil Universitas Islam Indonesia untuk menyaring ide dan opini sehingga terbentuk konsep demi terwujudnya perguruan tinggi idaman, tulang punggung kemajuan.

Melalui Lomba Blog UII ini kusuarakan apa yang terlintas dalam pikiran walau berantakan dalam penyusunan...

Dan kuharap suatu saat nanti aku dan saudara-saudaraku dapat memajukan negeri...

Senin, 19 April 2010

IT IS NOT THE DESTINATION, BUT THE JOURNEY

بسم الله الرحمن الرحيم


[...]Suatu tempat tidak selalu indah dan bagus. Kenangan perjalanan yang paling saya ingat pun bukanlah tentang keindahan arsitektur suatu bangunan atau putihnya pasir pantai, tapi pesawat yang delay atau orang lokal yang tidak ramah. Pengalaman (yang sering tak terduga) saat melakukan perjalanan adalah jauh lebih berwarna. Seperti kata pepatah: it's not the destination, but the journey. (ngutip kalimat Bu Trinity "The Naked Traveler" dari pembukaan The Naked Traveler 2. Blognya di sini.)

Ya, jika yang dimaksud dengan destination adalah tempat tujuan dari perjalanan. Apa yang kita cari bukanlah tempat tujuannya, tapi apa yang kita rasakan dan alami ketika berada di tempat tujuan mau pun dalam perjalanan.

Analogikan dengan keadaan sekarang... sebagai siswa SMA di tahun terakhir yang sudah melalui tahapan berjuang dalam segala ujian sekolah dan kini berjuang mendapatkan kursi pendidikan lanjut.

Yang dicari adalah pendidikan serta pengalaman dalam kehidupan untuk meningkatkan kualitas diri. tu yang harus dicamkan! Kita tidak mencari perguruan tingginya, tapi pelajaran sebagai bekal mengarungi dunia.

Lalu, jika destination diartikan adalah maksud (lihat di sini) maka kalimat it's not the destination, but the journey memiliki makna peringatan bahwa kita tidak boleh lengah. Bahwa ini bukanlah tujuan utama, tapi baru perjalanan.

Tidak boleh terlena dengan apa-apa yang terasa nikmat dalam perjalanan.

Tidak boleh putus asa ketika gagal karena itu bagian dari perjalanan.

Sadari bahwa diri tidak boleh lemah karena perjalanan ini masih sangat panjang.

Bagi Anda, pepatah "it's not the destination, but the journey" membuat Anda berpikir apa?

Selasa, 06 April 2010

Air Mancur Depan Ruang Ujian

بسم الله الرحمن الرحيم

Dari Jepretan
Hehehe, ginilah klo lagi agak ngeblank di pagi hari menjelang ujian. Duduk sendiri menghadap kolam. Jepret asal ke arah objek yang diminati. Masih agak ngantuk. Walau diniatin dateng pagi biar belajar dulu di sekolah, ane gak langsung buka buku pas dateng di ruang ujian. Bahkan naro tas pun belum.

Karena belum banyak orang, ane nyempetin sekitar lima belas menit nongkrong di pinggir kolam depan ruang ujian. Ngeliatin air yang menyembur ke atas dengan suatu kecepatan. Kecepatan itu mengalami perlambatan negatif karena arah gaya dorong pompa berlawanan arah dengan gaya gravitasi. Pada ketinggian tertentu air mulai melengkung kemudian kehilangan kecepatannya sesaat pada puncak lengkungan. Sesaat, hanya sesaat, sepersekian detik air mengalami resultan gaya sebesar nol selanjutnya ia langsung mendapat percepatan ditarik gaya gravitasi meluncur ke permukaan air di kolam.

Peristiwa itu terus berulang pada air yang secara simultan tersembur membentuk sebuah parabola. Parabola yang bermula dari pipa dan berakhir pada permukaan air kolam. Saling membentur membentuk gelombang transversal melingkar.

Tenang, itulah sensasi yang terasa. Terdiam mengamati dan tak bosan menikmati. Padahal air mancur dan kolam ini biasa, dilewati lalu lalang tiap hari selama masa ujian (dan udah lebih dari tiga kali masa ujian). Tapi jika sudah sendiri di pagi hari maka tak bisa berhenti memandangi.

Kontinuitas sederhana bagiku tampak luar biasa.

Memang tidak menghilangkan gundah gulana akan ujian hari itu. Dan, ya, kalau tidak ingat materi ujian yang belum kukuasai mungkin aku akan terhipnotis duduk memandangi terus sampai pukul delapan.

Kamis, 01 April 2010

Anak Kecil Itu

بسم الله الرحمن الرحيم

Kesel abis. Itu anak kecil gak bisa diem pas shalat, bolak-balik ngacauin shaff...

Lebih dari itu, dia bahkan gangguin temennya yang serius shalat. Mukul, nyolek juga ngatain. Wajar karena anak kecil juga temennya itu udah nahan tapi akhirnya ngebales juga. Maunya dia sih setelah ngebales si anak tadi diem tapi pastilah dia ulang lagi.

Kayak gitu hampir tiap hari pas shalat Ashar. Soalnya anak itu belajar di madrasah sebelah masjid.

Imam dan bapak-bapak jama'ah lain juga guru dari madrasahnya udah ngingetin. Tapi gak berubah.

Ane sendiri pun sesekali manggil anak itu nyoba ngasih tau selembut mungkin.

Well, sebenarnya ane kira imam dan bapak-bapak lebih ke ngasih anceman untuk ngingetin anak itu.

Teringat ketika di pesantren dulu, ketika seorang santri yatim SD bermain-main dalam shalat dan kegaduhan yang dibuatnya sampai imam tau. Selesai shalat si anak dipanggil lalu disuruh mengulang shalatnya.

Ya, shalatnya tadi belum sah. Walau dia belum baligh dan pena belum menggores catatan amalan tapi secara fiqih memang shalatnya tidak sah dan harus dibiasakan sejak dini bagaimana shalat yang sempurna.

Kemudian ane menertawakan diri sendiri karena suatu saat kemudian ane ditanya tentang suatu hadits tapi nggak hapal dan ternyata anak itu melafalkannya dengan lancar... Hahaha...

Tawa pun terhenti berganti dengan sedih. Karena berita tentang seorang anak. Anak yang lain. Masih sangat kecil. Tapi lingkungannya mengarahkannya pada moral yang buruk. Hingga mulut mungil itu terbiasa mengatakan hal-hal kotor. Bahkan merokok!!

Enggan memberikan link dan ane rasa kalian udah tau. Salah kita. Bahkan mungkin moral kita sendiri sudah... Tapi selama masih sadar berarti masih bisa berubah.

Menengok adik sendiri, anak-anak kecil di lingkungan dan anak-anak kecil kerabat, ane sedih gak bisa berbuat banyak tapi paling tidak ane sendiri berusaha menjaga mereka dari kerusakan moral. Walau sedikit.