Kamis, 04 April 2013

Bad News, Buat Keburukan Jadi Biasa

بسم الله الرحمن الرحيم

Penyerangan di LP Cebongan. Hanya itu? Tidak. Selain berita yang tadi disebut, kita sudah banyak mendengar banyak peristiwa-peristiwa tindak kekerasan lainnya saat ini. Beragam berita, wacana dan artikel tentangnya ditulis. Entah itu sekedar penyampaian peristiwa, analisa kejadian atau solusi-solusi yang ditawarkan.

Dalam kondisi sekarang ini, dengan banyaknya kejadian kekerasan, media seakan dibanjiri dengan berita-berita yang 'negatif'. Belum lagi ditambah kejadian-kejadian buruk atau kasus-kasus lainnya. Sehingga yang setiap hari tersuguh kepada kita adalah berita-berita semacam itu.

Apa saja contoh lainnya? Well, kalau disebutkan malah sedikit banyak bertentangan dengan apa yang ingin disampaikan.

Apa yang ingin disampaikan?

Begini, menurut saya, secara langsung atau tidak langsung berita-berita tersebut mempengaruhi alam bawah sadar pikiran kita. Kita yang tadinya sangat anti, takut dan merasa terancam akan suatu keburukan, lama-kelamaan akan terbiasa. Padahal rasa anti, takut dan terancam tadi adalah di antara sekian faktor yang dapat mencegah seseorang melakukan kejahatan.

Tadinya kita merasa suatu perbuatan adalah hal yang tabu dan melanggar norma, namun karena mendengar perbuatan tersebut banyak dilakukan, hilanglah rasa malunya untuk berbuat.

Itu kemungkinan yang terjadi dengan orang yang dulunya merasa suatu kejahatan adalah tabu. Bayangkan bagaimana dengan generasi belakangan yang kejahatan-kejahatan selalu disiarkan siang malam. Seakan tiada lagi orang baik di muka bumi.

Teringat cuplikan cerita dalam novel yang cukup terkenal, Sang Pemimpi ketika Arai dan Ikal baru saja memulai petualangan mereka di Ibu Kota...

"Dan hari-hari berikutnya adalah malam-malam tak bisa tidur dan tak enak makan waktu menemukan koran-koran merah yang memuat warta dan gambar penggorokan, perampokan, dan pemerkosaan di sana sini yang hampir setiap hari terjadi di kota. Demikian semaraknya kriminalitas di Bogor, Jakarta, atau Tangerang.
Seakan kota-kota ini akan menjadi kota mati jika sehari saja tidak terjadi tindak kejahatan. Namun, anehnya lambat laun menjadi terbiasa. bahkan ketika nenek-nenek dirampok, dicabuli, dan dibunuh, aku telah menjadi seperti orang kebanyakan : sekali menarik napas panjang, semenit kemudian bahkan lupa inisial nenek itu. Ini adalah kemorosotan paling besar yang kutemukan dalam diriku dengan hidup di kota."

Kemerosotan besar.

Faidah yang lebih besar berkaitan hal ini tentu kita bisa dapati dari Al-Quran dan Sunnah. Di sini saya salinkan artikel Ust. Abul Jauzaa yang berjudul "Aib, Sesuatu yang Seharusnya Ditutupi."

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhir” [QS. An-Nuur : 19].

Pada ayat di atas Allah ta’ala menjelaskan bahwa menyebarkan satu kemunkaran (baik dari jenis perkataan atau perbuatan) agar beredar di kalangan mukminiin, merupakan sifat orang-orang yang mendapatkan ancaman Allah ta’ala akan ‘adzab.

Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

“Ini merupakan pelajaran ketiga, bagi siapa saja yang mendengar sesuatu dari perkataan yang buruk, lalu dengan pikirannya tergambar sesuatu yang akan diucapkannya; maka janganlah ia bergegas memperbanyak dan menyiarkannya. Allah ta’ala telah berfirman : ‘Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman’ ; yaitu : mereka menginginkan agar perkataan itu nampak dengan buruk. ‘bagi mereka azab yang pedih di dunia’ ; yaitu dengan hukuman hadd. ‘dan di akhirat’; yaitu dengan adzab”.

Ibnu Rajab Al-Hanbaliy rahimahullah berkata :“Maksudnya adalah menyebarkan perbuatan keji seorang mukmin yang berusaha menutupi aib yang ada pada dirinya tersebut, atau menuduh seorang mukmin dengan satu kekejian yang ia berlepas diri darinya (tidak melakukannya)”.

Dari ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Orang yang mengatakan kekejian dan orang yang menyebarkannya; dalam dosa adalah sama”.

Dalam riwayat lain, ia berkata :
“Orang yang mengatakan kekejian dan orang yang setia mendengarkannya, dalam hal dosa adalah sama”

Lalu...

Mari kita perhatikan kisah menarik Maa’iz dan Hazzaal berikut ini :

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu berada di masjid. Ia memanggil beliau dan berkata : “Wahai Rasulillah, sesungguhnya aku telah berbuat zina”. Mendengar itu beliau berpaling darinya, hingga orang tersebut mengulangi sampai empat kali. Ketika ia bersaksi atas dirinya sebanyak empat kali, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan bersabda : “Apakah engkau gila ?”. Ia menjawab : “Tidak”. Beliau bersabda : “Apakah engkau telah menikah ?”. Ia menjawab : “Ya, pernah”. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bawalah pergi orang ini”. Lalu para shahabat merajamnya.

Dari Nu’aim bin Hazzaal ia berkata : Hazzaal pernah menyewa Maa'iz bin Maalik dan ia memiliki seorang budak wanita bernama Fathimah yang ia miliki. Budak wanita ini bertugas menggembala kambing milik mereka dan Maa'iz pun menyetubuhinya. Maa'iz memberitahukan hal itu kepada Hazzaal, kemudian Hazzal mengelabuhinya dan berkata : “Pergilah ke Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan beritahukan pada beliau (tentang hal yang kau alami). Mudah-mudahan turun Al-Qur’an berkenaan denganmu”. (Setelah ia menghadap dan menceritakan apa yang telah ia lakukan, sebagaimana hadits sebelum ini – Abul-Jauzaa’), lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar dirajam. Saat dirajam dan terkena hantaman batu, Maa'iz berusaha lari kemudian seseorang mengejarnya dengan membawa tulang dagu onta atau tulang betis onta, kemudian dipukulkan ke Maa'iz hingga mati. Setelah itu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Celaka kau hai Hazzal, seandainya engkau tutupi dengan bajumu tentu lebih baik bagimu"

Ibnu Hajar berkata :

“Telah berkata Al-Baajiy : Makna (perkataan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘seandainya engkau tutupi dengan bajumu tentu lebih baik bagimu’) adalah lebih baik bagimu daripada engkau suruh ia untuk menjelaskan perkaranya (kepadaku). Adapun anjuran untuk menutupinya adalah dengan menyuruhnya bertaubat dan menyembunyikan aib yang telah dilakukannya sebagaimana yang telah diperintahkan Abu Bakr dan ‘Umar (sebelum Maa’iz menghadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam). Penyebutan ‘baju’ adalah mubaalaghah, yaitu seandainya engkau tidak mendapatkan jalan untuk menutupinya kecuali (menutupinya) dengan pakaianmu dari orang yang mengetahui perkaranya, maka itu lebih utama/baik daripada yang telah engkau sarankan kepadanya untuk menampakkannya”

“Asy-Syaafi’iy berkata : ‘Aku senang seandainya orang yang berbuat dosa yang kemudian Allah menutupi dosanya tersebut (sehingga tidak diketahui orang lain); agar juga menutupinya dan bertaubat (kepada Allah ta’ala)’. Beliau (Asy-Syaafi’iy) berhujjah dengan kisah Maa’iz bersama Abu Bakr dan ‘Umar. Ibnul-‘Arabiy berkata : ‘Semuanya ini berlaku untuk selain orang yang terang-terangan berbuat kemaksiatan. Adapun bagi orang yang terang-terangan berbuat kemaksiatan/kekejian, maka lebih senang untuk mengungkapkannya dan menghukumnya agar ia merasa jera dan menjadi pelajaran bagi yang lain”.

Apa yang dikatakan oleh Ibnul-‘Arabiy rahimahullah di atas didasarkan oleh sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

“Setiap umatku dimaafkan (dosanya) kecuali orang-orang terang-terangan melakukan dosa. Dan sesungguhnya diantara terang-terangan (melakukan dosa) adalah seorang hamba yang melakukan amalan di waktu malam sementara Allah telah menutupinya kemudian di waktu pagi dia berkata : 'Wahai Fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu’, padahal pada malam harinya (dosanya) telah ditutupi oleh Rabb-nya. Ia pun bermalam dalam keadaan (dosanya) telah ditutupi oleh Rabbnya dan di pagi harinya ia menyingkap apa yang telah ditutupi oleh Allah”

Well, walau bukan berarti semua berita itu harus dihapuskan sama sekali. Tapi tentu ada batasannya bukan?

Wallahu A'lam.

Kamis, 14 Maret 2013

Curhat: Kondisi

بسم الله الرحمن الرحيم


Assalamu'alaikum.

Wow, mau mulai tulisan berat juga ya. Kalau beberapa tulisan sebelumnya, itu hasil pikiran orang lain yang terus dibahasakan ulang. Nah, ini, mau nulis mulai sendiri agak susah. Padahal sekedar menuliskan sedikit tentang kondisi.

Kondisi apa? Well, tentu aja kondisi diri sendiri, yang punya blog ini.

Emang penting?

Ehm, beneran terbetik pertanyaan itu? Kalau begitu, udah, silahkan baca postingan lain atau situs lain atau mungkin putusin koneksinya aja, terserah.

Tenang, bukan ngambek kok. Tapi kalau memang berasa ngebuang waktu banget, ya lebih baik langsung berpaling ke hal-hal yang lebih bermanfaat. Bener kan?

Jadi, gimana kondisinya?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, sebenarnya lebih tepat ditanyakan dahulu, kenapa kondisi? Maksudnya, kenapa memilih untuk menceritakan kondisi?

Sederhana saja. Karena kebanyakan yang dibagikan melalui akun-akun yang dikelola oleh blogger ini adalah kebaikan-kebaikan, keindahan-keindahan Islam dan simpanan-simpanan berharga. Dan biasanya orang-orang akan mengira-ngira bagaimana kondisi atau keadaan pengelola akun melalui apa yang tampak dari akun tersebut di dunia maya. Bahayanya, seringkali juga pengelola-pengelola akun di dunia maya ingin mendapatkan predikat baik dengan cara melakukan hal tersebut.

Oleh karena itu, pertama, pemilik blog ini dan pembaca sekalian harus meluruskan niat lagi dalam interaksi-interaksidi dunia maya, kedua, pemilik blog menghimbau agar para pembaca dan akun-akun di friendlist atau follower di media sosial mana pun untuk tidak berekspektasi berlebihan terhadap pemilik blog atau akun-akun lain yang dzhahirnya di dunia maya baik, tapi hakikatnya masih majhul (tidak diketahui). Apalagi kalau sampai poin ini masih terngiang di benaknya bahwa ternyata pemilik blog ini rendah hati sehingga menulis postingan ini, maka bacalah: Shut up! Ambil apa yang baik dan bermanfaat dan jangan dahului Allah dalam menilai seseorang, karena Dialah yang paling mengetahui kondisi setiap hamba-hamba-Nya.

Sungguh, kondisi diri ini jauh dari baik. Akan tetapi, jika sampai melepaskan diri dari sumber-sumber kebaikan, bagaimana ia tidak akan terjatuh pada kondisi yang lebih buruk?!

Apa yang dibagikan tidaklah seberapa dibandingkan dengan akun-akun lain padahal mungkin realitas kehidupan yang dihadapi oleh pengelola akun-akun tersebut lebih besar dan lebih berat. Semoga Allah memberkahi para pengelola akun-akun atau situs-situs tersebut.

Selalu terpikir, di mana posisi diri di antara kaum muslimin? Jauh! Kecil tak teranggap. Atau malah bisa jadi diciptakan diri ini sebagai ujian bagi orang-orang yang beriman...

Diri ini harus tunduk dan berprasangka baik pada Dzat yang telah menciptakannya serta mewaspadai dirinya sendiri terutama saat dikuasai hawa nafsu. Bisa jadi Allah menginginkan baginya kebaikan dengan keteguhannya melewati kegelisahan dan kegoncangan akibat kelalaiannya sendiri, atau memang diri ini begitu hina sehingga dicampakkan. Semoga Allah melindunginya dari keadaan yang terakhir.

Sebagian Tanda Iman dalam Bencana

بسم الله الرحمن الرحيم

Iman seorang mukmin akan tampak saat ia sedang diuji. Ujian yang menimpa dirinya bisa berupa kesenangan dunia atau mungkin kesulitan dan kesusahan yang memberatkan. Karena pada hakikat keduanya berbeda, maka tentu iman pun akan tampak dengan cara yang berbeda pada masing-masing bentuk ujian.

Bagaimana iman memperlihatkan diri saat seorang mukmin ditimpa kesulitan, hal-hal yang membuatnya bersedih, atau bencana?

Di antara gambaran penampakan imannya adalah kesungguhan dirinya dalam berdoa. Dia terus-menerus berdoa bersama dengan ikhtiarnya, meski pun ia tak melihat satu pun pertanda pengabulan doanya. Harapan dan ambisinya pada jawaban Rabbnya terhadap doa-doanya tak tergoyahkan, walau keadaan terus menggodanya untuk berputus asa dengan hebatnya. Sebab ia tahu bahwa Allah 'Azza wa Jalla lebih mengetahui apa-apa yang lebih cocok baginya. Ia sadar, Allah sedang memerintahkannya untuk bersabar dan memperkuat iman. Dalam kondisi ini, sebagai seorang hamba, ia tahu diri bahwa memang seharusnya ia memasrahkan dirinya kepada Allah, serta banyak mengiba dan memohon.

Tidak seperti orang yang tergesa-gesa dalam mengharap pengabulan doanya, dan menggerutu bila tidak cepat-cepat direspon doanya. Bisa jadi ia akan merasa seakan diacuhkan. Dia menganggap dirinya memiliki hak atas pengabulan doa. Seolah-olah ia sedang meminta upah atas amal-amal shaleh yang telah ia kerjakan. Tidakkah hal ini menunjukkan lemahnya iman? Itukah kita...?

Siapa dia dibanding dengan Nabi Ya'qub 'Alaihissalam? Beliau diuji selama 80 tahun, namun tak patah harapan akan jalan keluar! Setelah kehilangan Nabi Yusuf 'Alaihissalam, kondisi diperparah dengan kehilangan Bunyamin. Akan tetapi beliau tegar dan tidak berubah. Bahkan beliau mengatakan, "Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku" (Yusuf[12]:83).

Kalam Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al-Quran, yang artinya:

"Apakah kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat" (Al-Baqarah[2]:214).

Betapa, yang diuji adalah seorang Rasul dan orang-orang beriman yang menyertainya. Tentu diketahui bersama kualitas iman seorang Rasul.

Betapa, dengan kualitas iman seperti itu dan kedudukannya, ia diuji dengan ujian yang hampir-hampir membuatnya hampir ditimpa keputusasaan.

Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, yang artinya, "Doa seseorang dari kalian akan senantiasa dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa hingga mengatakan, 'Aku telah berdoa kepada Rabbku, namun tidak atau belum juga dikabulkan untukku'." (Hadits No. 4916 dalam Shahih Muslim)

Oleh karena itu, tahanlah diri dari mengeluh kala bencana dan jangan bosan karena telah banyak berdoa. Karena sudah sewajarnya seorang hamba itu diuji, dan baginya pahala yang besar dari sabar dan doa-doa yang dipanjatkan. Tak layak bagi kita berburuk sangka kepada Allah dengan berputus asa sekali pun bencana yang menimpa bagai tak ada habisnya.

Wallahu A'lam.
Disadur dari Shaidul Khathir karya Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah.

Selasa, 05 Februari 2013

Harta Karun Surga di Sela Waktu Kita

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu'alaikum!

Sobat muda, apa yang biasanya kamu kerjain di sela-sela aktivitas kamu? Sesibuk apa pun kamu, pasti ada waktu-waktu senggang di mana kamu bisa istirahat dan rileks sebentar dari berbagai kegiatan kan?

Eh, atau jangan-jangan... kamu pernah ngerasain saat-saat kamu udah gak ada kewajiban, selesai udah semua kerjaan, sampai bingung apa yang kamu mau lakukan... pernah?

Jangan sampai bingung, Sobat Muda! Dan jangan sampai terlewatkan!

Sumpah, di sela-sela waktu itu, banyak kebaikan yang bisa kita dapatkan! Mau tau apa aja yang bisa kita dapatkan? Simak hadits berikut!

Abu Musa menuturkan; kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam dalam suatu peperangan, kami tidak menaiki tanah mendaki atau tanah tinggi atau menuruni lembah selain kami meninggikan suara kami dengan takbir. Kata Abu Musa, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendekati kami dan bersabda: "Hai manusia, rendahkanlah suara kalian ketika berdoa, sebab kalian tidak menyeru dzat yang tuli lagi tidak ghaib, hanyasanya kalian menyeru kepada Dzat yang Maha mendengar lagi Maha melihat." Kemudian beliau bersabda: "hai Abdullah bin Qais, maukah kamu kuajari kalimat yang menjadi harta karun surga?, yaitu ucapan laa-haula walaa quwwata illa billah." (Hadits No. 6120 dalam Shahih Bukhari)

Masya Allah, Sobat Muda! Gampang sekali kan kita mengucapkan laa-haula walaa quwwata illa billah? Dalam satu menit, kira-kira kita bisa membacanya 30 kali! Dan sekali kita membacanya, kita mendapatkan harta karun di surga!

Gak cuma dzikir itu aja! Kalau agak bosan baca dzikir di atas, masih ada dzikir-dzikir lainnya dengan keutamaan-keutamaan yang gak kalah hebat!

Nih beberapa contohnya:

  • Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Dua kalimat ringan dilisan, berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu Subhaanallahul'azhiim dan Subhanallah wabihamdihi." (Hadits No. 5927 dalam Shahih Bukhari)
  • Dari Jabir dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barang siapa yang mengucapkan; Subhanallahil 'adzhim wa bihamdih. Maka ditanamkan untuknya sebuah pohon kurma di Surga." (Hadits No. 3387 dalam Jami' At-Tirmidzi)
  • Dari Abu Hurairah, dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 'Sesungguhnya membaca doa, Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa Ilaaha Illallah, Wallahu Akbar adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena oleh sinar matahari (maksudnya adalah dunia).'" (Hadits No. 4861 dalam Shahih Muslim)
  • Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali." (Hadits No. 616 dalam Shahih Muslim)

Wah, bayangin aja: misalnya kita baca subhanallahil 'adzhim wa bihamdih, kita udah dapet satu pohon kurma di surga! Kalau di dunia, gak mungkin cukup waktu segitu untuk dapet satu pohon. Harus nanem dulu, nyiram, ngasih pupuk dan nunggu sampai gede. Itu pun belum tau gimana nanti buahnya. Dan, untuk kamu tahu, pohon kurma di surga itu batangnya emas!

Dzikir-dzikir di atas, gak mesti kita baca pas senggang aja lho. Bisa kan kita baca dzikir-dzikir di atas sambil mengerjakan hal-hal lain? Asal tempatnya gak di kamar mandi lho ya.

Dzikir-dzikir di atas pendek-pendek, mudah dihafal, dan mudah diucapkan pula! Andai kita biasa membacanya, berapa banyak keutamaan dapat kita raih? Berapa banyak kita bisa menambah timbangan amal kita? Berapa banyak kita mendapatkan yang lebih dari dunia dan seisinya?

Sobat Muda, sayang sekali kalau kita melewatkan waktu-waktu senggang tanpa berdzikir kepada Allah, walau pun cuma sekali!

Atau jangan-jangan, kita udah terbiasa membiarkan lisan kita mengucapkan hal-hal lain yang gak bermanfaat bahkan merugikan? Ngebicarain orang lain, ngejek teman atau ngedendang lirik misalnya.

Wah, jangan-jangan karena itulah kita jadi terlahang dari membaca dzikir-dzikir di atas dan mendapatkan fadhilah-fadhilahnya... Na'udzubillah!

Makanya, yuk kita biasain lidah kita untuk selalu berdzikir, mengingat Allah di setiap kesempatan yang Allah berikan!

Sumber: Harta Karun Surga.

dzikir