Rabu, 05 September 2012

Menerima dan Pasrah

بسم الله الرحمن الرحيم

Copas dari status salah satu akun di friendlist facebook: Mas Hasan Al-Jaizy:

Al-Qabuul wa At-Tasliim

Satu pondasi penting dalam manhajiyyah istidlaal [mengambil dalil] dan mengimani wahyu adalah Al-Qabuul [menerima] dan At-Tasliim [menyerahkan]. Maksudnya: seorang muslim sebelum segalanya tentang pendalilan atau menarik kesimpulan dari dalil, ia harus membangun rasa nerimo dan tunduk pada dalil. Bukan justru sebaliknya: mencoba mengkritisi dalil dan memang sedari awal sudah suspisius alias super curiga terhadap dalil.

-Fatwa Ijtihady, apakah dalil?

Tentu saja, dalam mengkritisi sebuah fatwa, diperlukan ilmu yang memadai. Tidak asal kritis dan melawan. Kita boleh mengatakan: 'Itu kan sekedar fatwa! Itu kan sekedar ijtihad beliau!' tapi jika memang hati su
dah mengatakan itu kebenaran, maka hati-hati...hati-hati terhadap 'pengetahuan'.

Tapi, bagaimana jika sebuah fatwa yang sifatnya ijtihady dijadikan sebuah dalil qath'i [pasti] atau seolah-olah disikap seperti dalil? Yakni: seakan tidak ada manusia yang boleh menyelisihinya meski dengan hujjah yang sama kuat. Duh, apakah kita melarang manusia bersikap taklid sementara kita sendiri bersikap seperti itu?

Di sini, ada korelasi yang matching dengan perkataan Dr. Syarif Al-Auny: "Dia juga mengklaim 'mengikuti dalil' padahal dia taklid kepada orang yang menunjukkan kepadanya dalil itu."

Mengikuti fatwa istilah mentahnya adalah 'taklid'. Sementara istilah halusnya [atau mungkin dianggap lebih tepatnya] adalah 'ittiba''. Terkadang fatwa juga tidak mendatangkan dalil qath'i [pasti], melainkan mendatangkan dalil dzanni [tidak pasti kiraan], seperti Qiyas, Istislaah, dll. Jika kita belum mempunyai kapasitas seorang mujtahid untuk berijtihad, maka tugas kita belajar dan bertaklid [baca: ber-ittiba']; namun baiknya kita tidak bersikap seolah-olah fatwa hasil IJTIHAD sebagian ulama adalah dalil qath'i yang tak bisa diselisihi meskipun oleh fatwa hasil ijtihad lainnya yang berlainan dengan HUJJAH yang juga kuat.

Sebaliknya dengan Islam Liberal

Justru orang liberal tidak kenal Al-Qabul wa At-Tasliim terhadap wahyu. Mereka menerapkan manhaj tersebut justru pada Barat yang menggaji jerih dan upaya mereka. Sementara terhadap wahyu, mereka pasti akan
berusaha kritis dan melawan.

Sebagaimana Ulil Absar Abdalla, pentolan JIL yang paling 'usil' dalam menggelitik syariat mengatakan: "Pemahaman Islam liberal yang saya kembangkan ingin mengajukan cara pandang yang lain. Berpikir KRITIS, termasuk dalam memahami perintah2 Tuhan adalah bagian dari keislaman itu sendiri."

Ulil juga menyebut orang yang hanya 'TUNDUK-PATUH' [Al-Qabuul wa At-Tasliim] terhadap perintah Tuhan sebagai 'Syarrud dawaaab' [seburuk-buruk makhluk] yang tuli dan bisu....tidak kritis atas titah Tuhan.

Copas dari status (https://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/433573130017411) akun Hasan Al-Jaizy (https://www.facebook.com/hasaneljaizy), 26 Agustus 2012