Kamis, 14 Maret 2013

Sebagian Tanda Iman dalam Bencana

بسم الله الرحمن الرحيم

Iman seorang mukmin akan tampak saat ia sedang diuji. Ujian yang menimpa dirinya bisa berupa kesenangan dunia atau mungkin kesulitan dan kesusahan yang memberatkan. Karena pada hakikat keduanya berbeda, maka tentu iman pun akan tampak dengan cara yang berbeda pada masing-masing bentuk ujian.

Bagaimana iman memperlihatkan diri saat seorang mukmin ditimpa kesulitan, hal-hal yang membuatnya bersedih, atau bencana?

Di antara gambaran penampakan imannya adalah kesungguhan dirinya dalam berdoa. Dia terus-menerus berdoa bersama dengan ikhtiarnya, meski pun ia tak melihat satu pun pertanda pengabulan doanya. Harapan dan ambisinya pada jawaban Rabbnya terhadap doa-doanya tak tergoyahkan, walau keadaan terus menggodanya untuk berputus asa dengan hebatnya. Sebab ia tahu bahwa Allah 'Azza wa Jalla lebih mengetahui apa-apa yang lebih cocok baginya. Ia sadar, Allah sedang memerintahkannya untuk bersabar dan memperkuat iman. Dalam kondisi ini, sebagai seorang hamba, ia tahu diri bahwa memang seharusnya ia memasrahkan dirinya kepada Allah, serta banyak mengiba dan memohon.

Tidak seperti orang yang tergesa-gesa dalam mengharap pengabulan doanya, dan menggerutu bila tidak cepat-cepat direspon doanya. Bisa jadi ia akan merasa seakan diacuhkan. Dia menganggap dirinya memiliki hak atas pengabulan doa. Seolah-olah ia sedang meminta upah atas amal-amal shaleh yang telah ia kerjakan. Tidakkah hal ini menunjukkan lemahnya iman? Itukah kita...?

Siapa dia dibanding dengan Nabi Ya'qub 'Alaihissalam? Beliau diuji selama 80 tahun, namun tak patah harapan akan jalan keluar! Setelah kehilangan Nabi Yusuf 'Alaihissalam, kondisi diperparah dengan kehilangan Bunyamin. Akan tetapi beliau tegar dan tidak berubah. Bahkan beliau mengatakan, "Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku" (Yusuf[12]:83).

Kalam Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al-Quran, yang artinya:

"Apakah kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat" (Al-Baqarah[2]:214).

Betapa, yang diuji adalah seorang Rasul dan orang-orang beriman yang menyertainya. Tentu diketahui bersama kualitas iman seorang Rasul.

Betapa, dengan kualitas iman seperti itu dan kedudukannya, ia diuji dengan ujian yang hampir-hampir membuatnya hampir ditimpa keputusasaan.

Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, yang artinya, "Doa seseorang dari kalian akan senantiasa dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa hingga mengatakan, 'Aku telah berdoa kepada Rabbku, namun tidak atau belum juga dikabulkan untukku'." (Hadits No. 4916 dalam Shahih Muslim)

Oleh karena itu, tahanlah diri dari mengeluh kala bencana dan jangan bosan karena telah banyak berdoa. Karena sudah sewajarnya seorang hamba itu diuji, dan baginya pahala yang besar dari sabar dan doa-doa yang dipanjatkan. Tak layak bagi kita berburuk sangka kepada Allah dengan berputus asa sekali pun bencana yang menimpa bagai tak ada habisnya.

Wallahu A'lam.
Disadur dari Shaidul Khathir karya Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah.