Sabtu, 22 Mei 2010

Secuil tentang Hadits: Luar Biasa!

بسم الله الرحمن الرحيم



Kajian.Net
Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Kali ini ana cuma mau berbagi rasa. Rasa kagum. Kagum terhadap apa? Yang pasti bukan terhadap perempuan (belum saatnya, hehe).

Bermula ketika ana menemukan link ini. Link halaman file audio kajian Ust. Aslam Muhsin. Beliau adalah Mudir Ma'had Al-Binaa.

Tiba-tiba muncul rasa rindu mendengar nasihat beliau. Ana dengarkan bagian pertama ceramahnya tentang 'Hakikat Turunnya Wahyu'. Di bagian awal beliau tidak langsung masuk ke inti pembahasan tapi membicarakan beberapa hal tentang hadits. Di bagian inilah muncul kekaguman itu.

Diceritakan bahwa Imam Bukhari Rahimahullah menulis kitab shahihnya tidak kurang dari 16 tahun. Kitabnya tersebut sangat dipuji oleh ulama lain. Disebutkan bahwa di kolong langit ini tidak ada kitab yang paling shahih setelah Al-Qur`an selain kitab ini. Tidak lain karena Imam Bukhari hanya memasukkan hadits-hadits shahih yang tidak hanya sesuai dengan kriteria yang disepakati para ahli hadits tapi juga kriteria-kriteria dari beliau yang sangat ketat.

Kita bisa lihat kriteria hadits yang shahih dari definisinya:

Hadits yang bersambung sanad (jalur transmisi) nya melalui periwayatan seorang periwayat yang ‘adil, Dlâbith, dari periwayat semisalnya hingga ke akhirnya (akhir jalur transmisi), dengan tanpa adanya syudzûdz (kejanggalan) dan juga tanpa ‘illat (penyakit).

Nah, kriteria yang menurut ana sangatlah hebat: 'periwayat yang ‘adil, Dlâbith'

Apa maksudnya?

- Periwayat Yang ‘Adil : Bahwa setiap rangkaian dari para periwayatnya memiliki kriteria seorang Muslim, baligh, berakal, tidak fasiq dan juga tidak cacat muru`ah (harga diri)nya.

- Periwayat Yang Dlâbith : Bahwa setiap rangkaian dari para periwayatnya adalah orang-orang yang hafalannya mantap/kuat (bukan pelupa), baik mantap hafalan di kepala ataupun mantap di dalam tulisan (kitab)

(Definisi hadits shahih, periwayat 'adl dan periwayat dlabith dikutip dari ILMU HADITS : DEFINISI HADITS SHAHIH, penjelasan lebih lanjut silahkan kunjungi halaman tersebut)

Untuk jadi periwayat yang ‘adil sangatlah berat! Tidak sekedar Muslim, baligh (dewasa), berakal, dan tidak fasiq, tapi juga tidak cacat muru`ahnya! Jadi dalam kehidupan kesehariannya, dia tidak melakukan hal-hal yang dianggap tidak pantas walau hal itu adalah hal biasa bagi kita. Hal-hal tersebut dilihat dari hal-hal yang terkecil dan dicatat dalam biografi mereka sebagai bahan pertimbangan apakah hadits yang disampaikan orang tersebut patut diterima atau tidak.

Kemudian periwayat yang dlâbith ini jika digambarkan, maka orangnya adalah dia yang ditanya kapan saja di mana saja tentang suatu hadits dia langsung menjawab dengan lancar! Kualitas hafalan super hebat!

Dlâbith ada dua macam: shadr dan kitab.

Yang pertama maksudnya hafalannya benar-benar di 'luar kepala'. Tidak seperti 'luar kepala'-nya kita, tapi benar-benar hafal bahkan tanpa kitab.

Seperti Imam Bukhari. Suatu saat beliau belajar dari seorang syaikh bersama peserta belajar lain. Masa belajarnya selama 16 hari yang dikatakan dalam masa itu disampaikan sekitar 16.000 atau 6.000 hadits (afwan klo salah, ana kurang ingat). Selama 16 hari itu, beliau tidak membuat satu pun catatan tentang apa yang dipelajarinya. Hingga di akhir masa belajar beliau dicela oleh teman-temannya yang lain karena hal tersebut. Menjawab celaan itu, beliau melafalkan hal-hal yang disampaikan selama masa belajar, bahkan beberapa mereka malah mengoreksi catatannya sendiri berdasarkan apa yang dilafalkan Imam Bukhari. Ini bukan kisah fiktif. Luar biasa, kan?

Yang kedua maksudnya hafalannya masih berdasarkan kitab atau catatan milik perawi tersebut. Jadi hadits yang disampaikan ketika catatannya masih ada, derajatnya lebih kuat sedangkan hadits yang disampaikan setelah catatannya hilang atau dicuri atau terbakar derajatnya dipertanyakan.

Betapa hebatnya ulama terdahulu dan betapa ketatnya mereka menjaga sanad hadits di mana hadits adalah sumber hukum agama ini.

Mereka menyortirnya tidak hanya dari isi hadits tapi juga dari orang-orang yang meriwayatkan hadits-hadits. Bahkan kapan suatu hadits disampaikan dari seorang perawi juga diperhatikan, bisa dilihat tadi dari apakah haditsnya disampaikan ketika catatan sang perawi masih ada atau tidak. Selain masih ada atau tidak catatan, umur sang perawi diperhatikan karena pada masa tertentu ternyata sang perawi mengalami kepikunan.

Subhanallah... Perjuangan mereka menjaga agama ini dengan menjaga sanad sungguh tak terbayang oleh ana.

"Sanad itu termasuk agama, kalau bukan karena sanad orang akan seenaknya menisbatkan (kepada Nabi) apa yang ia mau".[Imam Muslim dalam muqadimah Shahihnya]

(Bagian terakhir dalam blockquote ana salin dari status Akh. Azlan)