Minggu, 21 Agustus 2011

curhat karena status temen tentang cinta

بسم الله الرحمن الرحيم


Langsung saja, saya ingin mengungkapkan sesuatu. Sesuatu itu tentang cinta.

Akhirnya…

Rasanya dulu ada yang menahan-nahan diri untuk membahas soal ini. Kalau pun lagi tidak ada rasa tertahan oleh diri dan banyak yang bersliweran di otak, posisi tidak di depan komputer atau laptop dan ketika tatap muka-monitor, hilanglah semua baik yang tadi berslieweran, juga mood untuk membahas.

Aneh ya…

Baik, masuk ke inti, ada tiga gambar yang ingin saya perlihatkan



Apa yang ada di pikiran Anda setelah membaca status-status dari dua teman saya yang tentu saja tidak jauh-jauh dari 'cinta'?

Well, saya tidak tahu dan saya rasa tidak berpengaruh pada saya kecuali Anda mau berbagi di kotak komentar.

Untuk saya sendiri, rasa yang timbul ketika menjadi dua orang teman saya yang memasang status tadi itulah yang mendorong saya menulis tentang cinta. Bukan indahnya, rasa rindunya, atau yang lain, kecuali rasa sakit.

Anda yakin tidak akan mengalami apa yang dialami kedua teman saya?

Sebelumnya, saya harap saya sudah cukup sopan menjaga privasi kedua teman saya dan tidak membuat keduanya tersinggung berhubung keduanya adalah teman yang berharga.

Kembali ke rasa sakit, saya sudah beberapa kali juga menemui kenyataan beberapa teman yang kiranya mengalami hal sejenis dalam cerita cinta mereka dan lebih kurang membuat mereka merasakan sakit yang sama.

Saya hanya merenung mengetahui keadaan mereka. Dan saya kira saya selalu sukses membuat diri saya sendiri cukup merasa sakit ketika membayangkan jika saya mengalami hal yang mereka alami. Oh, maaf, tentu rasa sakit yang saya dapatkan tidak seberapa dibanding mereka yang mengalami langsung.

Dalam keadaan saya yang sekarang dan dengan cara pandang saya, saya berusaha memikirkan cara agar selamat dari mengalami itu semua. Rasa sakit yang saya derita dari hanya membayangkan sudah cukup menyiksa saya, sungguh.

Tapi, setelah saya renungi, bagaimana pun solusi yang terpikirkan, selalu ada kemungkinan untuk mengalami hal serupa dan merasakan sakit yang sama. Siapa pun.

Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan proses berpikir saya. Tapi, begini saja: ketika saya merasa menemukan solusi, saya berusaha menempatkan diri dari sudut pandang lain demi mencari-cari celah sehingga solusi tadi masih mungkin menghadapi suatu kejadian yang membuat tetap saja rasa sakit dialami. Buruknya, saya selalu mendapatkan celah tersebut.

Ah, bertanya-tanyalah saya. Apakah ini karena pikiran saya saja. Tapi kalau ditimbang, kemungkinan-kemungkinan tadi tetap masuk akal untuk terjadi. Oh, ya, tentu dengan akal saya. Maaf.

Kalau Anda punya nasehat untuk saya, saya sangat berterima kasih Anda mau menyampaikannya.

Saya sendiri setelah agak putus asa dengan kesimpulan yang saya dapatkan, tetap saja selalu tertarik untuk dapat mengalami kisah cinta yang indah. Keindahan yang mungkin dibayangkan sering kali membuai saya. Tapi rasa sakit yang membayang pun sering hadir sehingga tak jarang terjadi kontroversi yang terjadi dalam diri dari kedua hal tadi.

Tak adakah jalan untuk mendapatkan kebahagiaan itu…?

Ternyata ada dan saya pikir saya sendiri sudah agak jauh untuk bisa mengikuti jalan itu.

Saya harap Anda tidak kemudian berpikir untuk menyepelekan jalan tersebut ketika saya sebut bahwa jalan tersebut adalah jalan yang sesuai dengan Islam.

Selain itu, bukan berarti dengan jalan yang sesuai Islam tidak akan ada celah untuk terjadinya hal-hal seperti di atas atau kita kebal dari rasa sakit yang menjadi dampak.

Lalu?

Paling tidak ada beberapa hal, yaitu, rasa sakit berkurang atau rasa sabar bertambah karena orientasi hubungan antara lawan jenis dalam Islam adalah beribadah, juga prinsip-prinsip tawakkal diajarkan dan ketika sudah berusaha menempuh jalan yang disediakan dengan mengharap ridha Allah, rasa sakit dan kesabaran terhitung sebagai kebaikan yang kelak mendapat balasan.

Saya berharap keimanan saya cukup kuat untuk itu.

Dan, seperti saya bilang, saya rasa sudah agak jauh dari jalan itu dan mencoba mendekat. Sembari mendekat, rasanya saya juga seperti menyerahkan diri untuk merasakan sakit tersebut, entah mengapa..

Yah, saya pikir saya sendiri masih terlalu dini untuk merasakan galau karena hal ini.