Rabu, 09 Januari 2013

Wasiat Seorang Ibu kepada Putranya

بسم الله الرحمن الرحيم

Nah, setelah sebelumnya nasehat untuk perempuan, ini nasehat untuk laki-laki. Well, bisa untuk perempuan juga sih. Tapi klo gak salah katanya kewajiban laki-laki adalah bakti pada ibu, kalau perempuan pada suami.

Nasehat ini ana copas dari status fb juga, dari akunnya Mas Faqih. Ini dia:

‎(Wasiat seorang ibu kepada putranya)

Wahai putraku yang perkasa

Pada suatu hari diantara hari-hari yang akan datang, kau akan menyaksikanku sebagai orang yang lemah, yang tiada lagi mampu mengutarakan apa kebutuhanku. Sedangkan pada masa itu kau berada dalam masa keemasan.

Maka, berilah aku sedikit waktu, dan sedikit kesabaranmu untuk memahamiku.

Dimasa aku mengangkat makanan dengan kedua tanganku, lalu terkulai jatuh ke dada.

Ketika aku tiada lagi kekuatan untuk memakai pakaianku sendiri.

Maka bersabarlah ketika kau bersamaku di hari itu.

Dan ingatlah apa yang ku ajarkan ini kepadamu tentang apa yang tidak mampu ku lakukan di hari itu.

Yakni, aku tiada lagi mampu berpenampilan rapi, indah, ataupun wangi.

Maka, janganlah engkau mentelantarkanku, ingatlah saat kecilmu aku senantiasa disampingmu dan menjadikan penampilanmu rapi, indah, dan wangi.

Dan janganlah engkau menertawakanku, saat kau saksikan diriku dalam keadaan bodoh, atau tiada cepat paham tentang perkara yang menurut generasimu sepele.

Aku dulu adalah pendidikmu, pengajarmu, tentang bagaimana engkau hidup, tentang apa yang ketahui hari ini dari perkara yang halal dan haram.

Maka jangan kau cemooh aku dimasa lemah ingatanku, lambat ucapanku, berkebalikan dengan ucapanmu.

Ketahuilah, kebahagiaanku saat itu hanya karena aku bersamamu.

Hanya karena kau menyiapkan yang aku butuhkan, maka jangan pernah bosan memahami apa yang aku inginkan pada masa itu.

Biarkanlah saat aku melangkahkan kaki ketempat yang aku inginkan. Tuntunlah aku dengan kedua tanganmu. Ingatlah dimana aku dulu mengajarimu berjalan.

Maka jangan malu untuk menuntunku saat itu, karena suatu saat kau akan menyaksikan dirimu harus dituntun seseorang.

Ketahuilah, dimasa-masa itu aku tiada lagi sesuai dengan generasimu. Aku hanyalah ditengah penantian menunggu kematian. Tetaplah bersamaku jangan mendahuluiku.

Dan ketika kau masa itu kau mengingat kesalahanku dimasa lampau, ketahuilah aku tiada melakukannya kecuali menginginkan kebaikan untukmu.

Dan seutama-utama yang hendaknya kau lakukan adalah, maafkanlah perbuatanku, dan tutuplah auratku.

Semoga Allah mengampunimu dan menutup auratmu.

Ketahuilah, senyummu saat itu tetap menyenangkan hatiku sebagaimana saat ini.

Aku dulu bersamamu saat kau lahir, tetaplah disampingku saat aku menemui kematian.

Penerjemah : Abu Abdillah Faqih
Sumber : Fanspage "Lillahi al 'izzatu walil mu'miniina"