Selasa, 29 Desember 2009

Street Boys, 7 Teens, No Way Out

بسم الله الرحمن الرحيم


Mereka yang hidup di jalanan, seakan tidak punya pilihan dari 'lingkaran nasib' yang mengurung mereka dan anak cucunya untuk keluar. Begitu terus terulang. Begitulah yang diceritakan buku Street Boys.

Kisah anak jalanan di Inggris. Di sebuah kompleks bernama Angel Town, 'Kota Malaikat' yang ditinggali para penjual narkoba sekaligus tempat transaksi, anak-anak geng sekaligus arena berkelahi, dan beberapa hal yang ane gak suka nyebutinnya.

Seorang anak bernama Ellijah Kerr, dibawa kabur oleh sang ibu karena perlakuan sang bapak yang kasr. Ellijah bersama tiga orang adiknya diasuh oleh hanya ibu mereka. Berpindah-pindah sampai akhirnya menempati salah satu rumah di Angel Town.

Ibu mereka sibuk dan segera Ellijah, anak laki-laki tertua, menjadi pemimpin dalam keluarga. Saat ibunya bekerja, Ellijah memerhatikan aktivitas yang berlangsung di sekitar tempat tinggalnya. Dari jendela dapur mengamati remaja-remaja yang lebih tua darinya melakukan transaksi narkoba, berkumpul melakukan perampokan, dan kemewahan yang didapat.

Sebetulnya di sekolah orang-orang berkata bisa saja dia jadi perawat, petugas pemadam kebakaran atau dokter. Tapi baju bagus dan sepatu olahraga yang dipakai remaja-remaja tadi (tentu didapatkan dengan cara yang telah disebutkan) membuatnya terdorong menjadi bagian geng yang telah ada dan perlahan dengan 'JaJa' sebagai namanya di jalanan bersama rekan-rekanya membentuk geng baru yang saat itu paling ditakuti di daerahnya. PDC, Peel Dem Crew.

Merampok, mencuri, perdagangan narkoba hingga bentrokan bersenjata dilalui. Tak ayal, bolak-balik penjara, dipindah-pindah selama masa tahanan bahkan salah seorang mereka masuk ke penjara bawah tanah dan hampir saja gila. Bosan dengan penjara? Jangankan mereka, membaca kisah mereka keluar-masuk penjara saja sudah bosan...

Saling memengaruhi dan memotivasi, setidaknya itu salah satu hal yang dapat kita teladani dari mereka. Sebagian dari mereka kehilangan perhatian orang tua. Bukan tidak punya. Tapi bagaimana teman-teman segeng ini yang sudah terbiasa merampok dan melakukan kekerasan saling menguatkan dalam penjara. Bahkan salah seorang mereka mengakui, andai bukan karena teman-temannya itu, dia pasti sudah gila menghadapi kehidupan.

Dari penjara dan arahan teman yang mulai sadar, mereka mulai memikirkan arti kehidupan. Merubah jalan yang selama ini ditempuh.

Disebutkan juga JaJa dan salah satu anggota PDC bernama jalanan Ribz mengenal Islam dalam penjara dan mulai berubah setelah memeluknya sebagai agama. Baiklah, perubahannya tidak terlalu drastsis, tapi mereka menemukan arti kehidupan darinya.

Pada akhir-akhir buku diceritakan, tindakan kriminal yang dilakukan oleh suatu geng yang dijuluki polisi sebagai Muslim Boys. Sepertinya mereka ini adalah anak-anak muda yang masuk Islam hanya karena trend saat itu, saat Islam dikaitkan dengan terorisme dan pemberontakan terhadap pemerintah. Walau mengaku Muslim tapi mereka tetap mabuk-mabukan, merampok, dan melakukan hal-hal yang dilarang dalam Islam.

"Aku ingin kalian memahami apa yang sesungguhnya terjadi di luar rumah kalian, apa yang dialami anak-anak muda seperti diriku dan apa alasan kami melakukannya. Inilah jeritan minta tolong yang begitu mendesak"
JaJa