Sabtu, 12 Desember 2009

Gimana sih hukumnya?

بسم الله الرحمن الرحيم


السلام عليكم و رحمة الله و بركاته


Hari ini UAS selesai, tapi bukan berarti waktu untuk lepas santai karena UN dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi di depan masih harus dibantai walau persiapanku kini mungkin belum sampai...


Ya, UAS usai hari ini. Tapi beberapa pelajaran bagiku ada beberapa yang tidak tuntas sehingga nanti harus mengikuti remedial atau tugas.

Baik, sekian laporan kehidupan nyata seorang pemuda yang kini masih berstatus pelajar. (Kayak apaan tau nih...)

***


Pertanyaan apa aja yang masih ada di benak kita dalam mengamalkan syariat Islam? Pasti banyak. Kayak tadi ada temen yang nanya hukum beramal dengan barang haram dan pemakaian barang bajakan.

Pertama-tama, ane bingung kok nanya ke ane? Emang ane pernah di pesantren tapi ngeliat perilaku ane sehari-hari sekarang kayaknya udah gak ada muru`ah jadinya tadi pikiran sempet terhenti sejenak. Kok masih mau nanya ke ane?

Untung tadi pas bareng sama temen lain yang sedikit banyak mengetahui hal tersebut. Tapi jawabannya masih ngambang...

Bersedekah dengan barang haram, mungkin bisa diqiyaskan dengan doa orang yang pakaian dan makanannya haram seperti yang disebut dalam suatu hadits. Artinya amalan tersebut tidak diterima. Masyayikh yang menabung di bank ribawi tidak mengambil uang bunganya. Tapi kalau dibiarkan kan sayang juga. Bunganya pasti gede (secara mereka ada yang diberi kelapangan dalam harta). Karena itu (menurut yang pernah diceritain), mereka tetap menyumbangkan uang tersebut tapi untuk hal-hal yang biasa seperti pembangunan jalan dan wc umum.

Tapi timbul pertanyaan di benak: lalu apakah terus menabung di bank tersebut itu boleh? Bukankah dengan menabung di bank tersebut kita juga membantu orang-orang yang bekerja di dalamnya mendapatkan uang dari sistem riba? Dan beberapa pertanyaan lainnya...

Untuk barang bajakan, sama seperti menyuri hasil karya orang lain kan? Jadinya hukumnya haram, itu yang ane simpulin sementara sekarang. (Klo pas tadi ditanya ane malah kayak gagu gak bisa ngomong)

Yah, walau sekarang nulis blog ini aja melalui komputer yang OSnya bajakan. (Ane berharap boleh ngotak-ngatik ni kompi jadi bisa instal yang gratisan macam Ubuntu)

Eh, bagaimana ya dengan barang halal yang bukan bajakan? Hanya saja cara masuk ke dalam negeri ini ilegal. Secara klo masuk secara resmi birokrasinya rumit dan pajaknya yang bikin harga barang tambah mahal '=.= Klo dengan pemahaman seadanya dari ane sih tetep haram karena kita harus tunduk kepada pemerintah...

Untuk ngelegain hati dan memantapkan langkah dalam menjalani kehidupan (perasaan ualangan Bahasa Indonesia udah kemaren-kemaren dan jarang ada sastra, kenapa ane pake bahasa gini?) ane nyoba bertanya ke Ustadz Aris dan Ustadz Abduh.

Gimana? Ane berharap antum yang memahami mau berbagi ilmu dengan ane, syukran!