Kamis, 11 Maret 2010

Tes Wawancara di Jogja - Part 2 - Pertanyaan(?)

بسم الله الرحمن الرحيم


Dini hari. Getaran bus gak bikin ngantuk ini hilang. Mata berat tapi tetap susah terlelap.

Gelap. Lebih baik buka mata karena di luar juga masih gelap.

Untuk nanti, masih gelap pula.

Gimana UGM itu?

Hmm, beberapa temen ane udah ada di Jogja. Bahkan Opank ngetweet beberapa jam yang lalu, merasakan suasana di kampus UGM. Aziz dan Ina juga udah di sana. Pasti mereka juga udah nyempetin mampir dulu ke UGM.

Gimana temen-temen ane yang lain? Lagi pada ngapain ya?

Dua orang bernama Nanda berangkat malam Sabtu tapi naik kereta. Ningrum dan Rino udah berangkat. Farhan ane sms baru sampe stasiun. Apa mereka siap?

Trus, gimana sama peserta lain dari berbagai sekolah dan daerah?

Apa aja yang bakal ditanyain? Bisakah ane menjawab? Akankah ane lulus?


Untuk tes wawancara, faktor mental sangat penting. Walau gelap, suasana udah kerasa menjelang, menyambut pagi, membantu ane mengusir cemas, memperingan tekanan.

Tapi untuk saat itu ada pertanyaan yang penting: Gimana kita sholat shubuh?

Pertanyaan itu Alhamdulillah mudah karena ada dalam syariat bersuci tanpa air (karena keadaan waktu itu gak memungkinkan) dan shalat di atas kendaraan. Bus ini tadi udah berhenti di peristirahatan dan tampaknya gak bakal berhenti lagi kecuali sampai di tujuan.

-Ane nyari-nyari lagi di internet untuk shalat di atas kendaraan (karena agak males baca buku :p) dan ternyata dikatakan bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam tidak pernah shalat di atas kendaraan untuk shalat wajib. Lebih baik turun untuk shalat wajib jika masih ada waktu. Yah, karena waktu dulu kendaraanya unta yang bisa berhenti kapan aja sedang sekarang gak bisa gitu, insya Allah bisa shalat wajib di atas kendaraan. (Sumber silahkan klik di sini)-

Tapi... Kok kayaknya penumpang yang lain dan supir gak terlihat shalat?

*****


Lega. Sejuk. Biasa tapi istimewa. Kesan ini pasti karena sugesti jiwa kepada diri pas ngeliat terminal Jogja yang sepi dan lengang pagi itu. Tapi ane biarin perasaan ini mendominasi untuk menahan dan menekan kecemasan. Membuat hati lebih tenang dan santai.

Santai tapi tetep bergegas. Turun bus ane langsung mandi dan seketika berangkat ke UGM naik ojek yang ternyata ojeknya khusus, terdaftar untuk terminal itu.

Kayaknya ada yang salah sama bahasa Inggrisnya...
Dari Jepretan


Hah! Dan inilah dia... UGM!! (Sayang, niat ane untuk moto-moto pake kamera hape harus terhalang karena baterenya udah lemah).

Tenang... "Masih agak lama dan jangan kebawa perasaan," bisik hati. Untuk itu ane gak langsung ke gedung tempat dilaksanakannya wawancara. Grha Sabha Pramana. Ane liatin gedung itu dari jauh sambil lalu, ke pinggiran kampus nyari warung untuk sarapan.

Agak takut untuk mendekat, tapi akhirnya pasti ke sana juga dan hari itu pasti berlalu. Langsung aja ane dan Bapak menuju Grha Sabha Pramana.

Penuh dan rame, tapi dengan mudahnya ane ketemu sama Opank. Dan, ternyata temen dari SMAnya lagi diwawancara! Rasanya terlalu dekat dan cepat.

Waktu emang terasa cepet, tapi ane mau nenangin diri. Ane menyempatkan shalat dhuha sebelum giliran. Saat berjalan, ane udah mulai menyugesti diri agar tenang. Memasrahkan apa yang bakal terjadi pada Allah. Untuk menguatkan rasa pasrah, ane berbisik dalam hati, "Kamu gagal," dan langsung ane jawab, "Ane gak akan mengurangi rasa syukur dan intensitas ibadah karena kegagalan ini." Dengan kata lain, ane udah siap klo pun emang gagal.

Tapi bukan berarti ane menyerah. Ane semangat! Apalagi setelah shalat ane ketemu sama Aziz dan Nanda. Mereka orangnya gak ribet, gak nanya-nanya, "Gimana nanti?" Jadi ane lebih tenang.

Dan, akhirnya peserta gelombang 9 dipanggil, termasuk ane.

Di dalem luas. Tempat wawancara ternyata adalah bilik-bilik yang di setiap bilik sudah siap dua orang pewawancara. Ane dapet bilik 61. Pewawancaranya Bapak-bapak dan seorang ibu.

"Assalamu'alaikum, Pak," ane langsung aja nyodorin tangan, mendahului bersalaman untuk lebih awal menguasai keadaan. Paling nggak, menguasai diri. "Wa'alaikumussalam," jawab mereka berdua, "Silahkan duduk."

Ane langsung duduk.

Sang Ibu memperlihatkan kartuku sambil menunjuk program studi pilihan keduaku sambil sedikit tersenyum. Apa ada masalah?

Sang Bapak memulai, "Kenapa kamu memilih jurusan matematika?" Mudah, insya Allah. Ini memang sebuah ketertarikan alami dari diri. Aku hanya perlu menjawab bahwa aku suka dan karena rasa suka itu, ingin lebih memperluas wawasan tentang matematika. Terutama dalam pengembangan pola pikir dan logika.

"Kenapa kamu suka matematika?" Apakah masih perlu dijelaskan? Atau jawaban tadi kurang memuaskan? Gak boleh takut, ane harus jawab sebenarnya. Dan tentu gak ada masalah dengan kebenaran bukan? Ane tertarik dari kecil mengoperasikan angka-angka, mengotak-ngatik soal hingga ketemu penyelesaiannya, membolak-balik variabel yang harus dicari nilainya. Apalagi ane pernah mendengar istilah 'Dimensi-N' dari seorang pengajar matematika yang bikin penasaran. Apa dimensi-N itu?

Kemudian Sang Ibu bertanya, "Kenapa di pilihan kedua kamu memilih jurusan elektronika dan instrumentasi?" Sang Bapak menambah, "Apa kamu asal isi?"

Asal? Tentu aja nggak. Emang gak terlalu tertarik dengan jurusan itu, tapi setelah ane liat-liat jurusan lain, hanya itu yang nyangkut di hati.

Setalh itu kukira mereka hanya bertanya basa-basi. Tentang nilai. Pekerjaan orang tua. Apakah aku senang bekerja dengan alat sehingga memilih jurusan elektronika dan instrumentasi sebagai pilihan kedua. Bagaimana cara guru mengajarkan matematika di kelas. Mana yang paling disukai. Sampai, kira-kira klo nanti keterima, apa aja yang bakal dipelajari saat kuliah. Apa ya?

Ane sedikit bingung karena emang gak tahu. Tapi guru ane pernah iseng ngasih persoalan matematika untuk dipecahkan yang sebenarnya itu adalah PR yang diberikan oleh dosennya. Ane juga pernah denger pas sang guru menyeritakan temannya membuat program aplikasi komputer untuk pengajaran geometri. Tapi ane lupa, guru ane kuliahnya pendidikan matematika! Bukan matematika murni!

Huft, ane langsung ngalihin gimana biar pas.

Dan, akhirnya selesai!