Minggu, 25 Oktober 2009

Daging dan Tenaga Ini, Baik atau Burukkah?



Assalamu'alaikum!

Apa kabar? Baik atau burukkah? Mudah-mudahan baik dan tentu saja tidak ada yang mengharapkan buruk. Sudah makan? Saat menulis ini, Alhamdulillah tadi aku sudah makan-maaf bukan menulis hal yang tidak penting atau pamer tentang makanan yang baru kumakan karena aku pun berasal dari keluarga biasa dan tentu makanan kami biasa.

Yang ingin kubagi bersama hanya apa yang mungkin terlintas dalam benak para orang-orang shalih ketika mereka makan. Bismillah, dan mereka mulai memasukkan makanan sesuap
demi sesuap, dan kurasa jarang di antara mereka yang memilih makanan istimewa. Dalam hal porsi, tidak dapat dibilang sedikit tapi benar-benar secukupnya untuk menegakkan tulang punggung mereka. Sekedar, karena tujuan mereka makan adalah ibadah dan mereka memohon keberkahan dari apa yang nanti tumbuh menjadi daging mereka, berharap tenaga yang dihasilkan disalurkan untuk kebaikan.

Dan, renungan ringan kumulai saat aku menyendok suapanku. Cemas, akan menjadi apa makanan yang kukunyah ini? Aku berdosa dan entah mengapa walau terus menyesal tetap kuulangi lagi dosa itu. Takut dari apa yang kumakan sekarang hanya menghasilkan dosa. Setan membisikkan agar aku jatuh, bahwa percuma memohon dengan keadaan berdosa, baru saja melanggar ketentuan-Nya, karena aku ingin berharap Dia menganugerahiku taufik dan tenaga dari makanan ini untuk bertaubat atau mengamalkan kebaikan. Baru sekedar ingin berharap, dan setan serta rasa pesimis menggodaku terpuruk lebih dalam.

Tak tahu apakah saat ini aku akan bernasib sama dengan yang saat itu juga tengah makan lalu meninggal beberapa saat kemudian dalam bencana alam-bencana alam yang kini terus bertubi dan datang tanpa prediksi. Zaman fitnah, zaman penuh fitnah tapi ini bukan salah zaman. Salah manusia yang hidup di dalamnya.

Rasa nikmat yang sering membuat diriku merasakan ada yang hilang pada bagian dadaku. Rasa yang akan dipertanggungjawabkan, sedang di sekitar, perut lapar yang tak mampu mendapatkan makanan-bagaimana pun rasanya-untuk melindungi lambungnya dari asam yang keluar seakan percuma karena tidak ada bahan yang masuk untuk dicerna.

Dia tidak pernah dzhalim, ketentuan memang telah ditetapkan tapi keadaan tunduk dan sesuai dengan takdir melalui proses sebab-akibat juga. Dan penyebab dari semua ini-tidak usah ditanyakan lagi.

Waktu itu sempat heran dengan pernyataan seorang salaf terdahulu yang menyatakan sungguh beruntung dia yang masuk surga terakhir. Dia yang terakhir kali dikeluarkan dari neraka. Meminta dipalingkan dari neraka, didekatkan ke surga kemudian berharap masuk ke dalamnya. Padahal setiap sebelum dikabulkan permintaan, selalu ditanyakan kepadanya akankah ia meminta permintaan lagi? Selalu dijawab tidak, tidak akan lagi. Dan Rabb tersenyum saat mengabulkan permintaannya. Juga saat Rabb menawarkannya untuk mendapatkan sepuluh kali lipat dunia beserta seluruh isinya saat ia meminta dimasukkan ke dalam surga. Ya, Rabb tertawa saat orang itu merasa diperolok dengan ditawarkan hal remeh itu dibandingkan surga.

Baiklah, memang semua yang beriman, walau sebesar dzarrah, akan masuk surga. Tapi tidak beriman hanya untuk saat ini. Yakinkah kita tidak tergelincir, bukan nanti, bahkan saat ini? Sebesar apa rasa percaya diri bahwa iman ini bertahan sampai meninggal nanti?

P.S. : Oh, ya. Saat ini aku sedang butuh tarhib (ancaman, peringatan) lebih banyak akibat lalai. Tapi aku tidak ingin kehilangan sayap-sebagaimana para ulama mengibaratkan khauf (rasa takut) dan raja` (rasa harap) sebagai dua sayap bagi seorang mu`min. Aku mengharap ampunan atas segala kesalahan.