Minggu, 11 April 2010

Semangat buat peserta SIMAK UI! Pikiran realistis juga bisa memotivasi!

بسم الله الرحمن الرحيم

FIGHT FOR SIMAK UI 2010!!!!! Yeah!

Hari ini adalah medan pertempuran, perjuangan dan persaingan. Yup! SIMAK UI bagaikan sayembara bagi para ksatria ilmu untuk mendapatkan almameter kuning dengan kharisma intelegensi tingkat tinggi di tanah air. Menurut mereka, almameter itu memiliki 'kesaktian' yang dapat membantu mereka meraih cita-cita. Kau tahu? Bahkan dengan mengenakannya saja, almameter itu 'menyihir' mental sehinggga ada rasa percaya diri lebih.

Setidaknya bagi mereka (soalnya ana sendiri memilih tempat lain, hehe).

Saudara-saudara dan teman-teman di seluruh tanah air pasti udah berbulan-bulan mempersiapkan diri. Berkali-kali TO mereka ikuti. Selalu, setelah TO, mereka membandingkan nilai yang diraih dengan nilai standar untuk mendapatkan kursi pendidikan tingkat tinggi di jurusan yang mereka inginkan dalam Universitas Indonesia.

Ana jadi teringat bagaimana medan persaingan kemaren, dalam PBS UGM. Jujur, mendekati hari pelaksanaan ujian tertulis ana merasa kurang percaya diri. Apalagi pernah terdengar sebagian orang berkata soalnya lebih sulit dari pada soal SIMAK UI. Dan (mungkin) itu benar ternyata salah (menurut temen yang ikut UTUL dan SIMAK juga pas ane liat lagi soal SIMAK yang dibawa temen).

Pada saat ujian berlangsung, pikiran ana langsung gak fokus. Tanpa ngelebih-lebihin, ana langsung bingung pas ngeliat soal. Ya, mungkin faktor psikologi ana yang lagi kurang fit. Dan karena itu mental ana langsung jatuh saat bel tanda ujian berakhir berbunyi. Rasanya... Gak mungkin ana lulus... Perasaan itu langsung ana tumpahkan dalam status dan ana bagi lewat blog ini: Penat Kecewa.

Rasa pesimis ini juga melanda sebagian peserta SIMAK UI. Yah, rasa pesimis dengan usaha mungkin lebih baik dari mereka yang malah santai dan menyepelekan. Seperti salah satu tweet temen ane beberapa saat sebelum SIMAK UI:

gue ga optimis, karena gue realistis..tweet

Apa yang terlintas dalam pikiran antum pas baca tweet ini?

Satu kata dan satu frase, 'realistis' dan 'gak optmis', mengingatkan ana sebuah kisah dalam novel Sang Pemimpi. Ketika Ikal mulai memikirkan dirinya sendiri yang jika dipikir-pikir akan bernasib sama seperti kawan jeniusnya dahulu, Lintang. Saat itu dia 'teracuni' oleh pikiran realistisnya bahwa seperti apapun dia belajar dan berusaha, dia tidak akan menjadi lebih dari kuli ngambat setelah SMA. Pikiran yang menghasilkan rasa pesimis ini mengakibatkan dirinya terdepak jauh dalam pelajaran setelah selama itu dia selalu duduk di kursi 'Garda Terdepan'.

Untungnya, setelah itu dia dinasehati oleh Gurunya dan saudaranya. Masih ada, walau semester lagi, dia memperbaiki diri dan menguatkan hati untuk mengejar cita yang bagai hanya khayal bagi remaja miskin di pelosok melayu: kuliah di altar agung Sorbonne.

Yang ana pelajari, pikiran realistis yang melemahkan itu karena itu adalah pikiran realistis parsial atau pikiran realistis sebagian (sok tahu, iseng bikin istilah sendiri). Mereka hanya menyadari kenyataan yang ada pada diri mereka tanpa melihat kenyataan di sekitar mereka mau pun kenyataan yang terjadi dalam sejarah.

Bukannya Thomas Alfa Edison tidak menempuh pendidikan formal tapi dapat menyiptakan berbagai penemuan bermanfaat modern? Bukannya dulu Galileo Galilei ditentang dalam kegigihannya dalam teori heliosentris? Bahkan ketika dia membuktikan bahwa perbedaan masa tidak memengaruhi kecepatan benda saat dijatuhkan secara bersamaan, orang-orang yang menyaksikan menganggapnya sebagai tipuan bahkan sihir?

Bahkan kita bisa belajar dari perkembangan Islam yang pesat (walau kini pemeluknya tengah mengalami degradasi iman dan ilmu, termasuk ana) padahal Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Salam adalah seorang yang buta huruf?

Pikiran realistis kita hanya melihat pada kekurangan tanpa melihat pada peluang. Tidak belajar dari sejarah pada orang-orang yang menurut kita tidak mungkin meraih pencapaiannya. Kejadian empiris yang seharusnya dapat kita jadikan pelajaran serta motivasi.

Jadi, jika berpikir realistis, jangan hanya memikirkan kelemahan diri, tapi pikirkan juga kejadian-kejadian yang tak mungkin terjadi namun nyatanya terjadi.

Semangat buat teman-teman yang berjuang dalam SIMAK UI atau jalur-jalur lain ke universitas-universitas lainnya!