Rabu, 04 November 2009

Let's Run!!!



Ada yang mau ikut berlari? Ayo!

Berlari, seperti larinya mereka. Keempat anak dalam novel 'Mengejar Mentari'.

Ya, dalam novel itu, empat anak tadi memiliki permainan yang unik dan istimewa. Aku tidak membacanya secara pasti. Tapi yang masih aku pahami dari permainan mereka gambarannya seperti ini:

Di jalanan lurus yang kala sore atau pagi terlihat mentari di salah satu ujungnya, mereka berempat berlomba, berlari, mencoba menuju matahari yang terlihat. Berlari sekuat mungkin meninggalkan yang lain. Berlari terus hingga tiada akhir kecuali akhir jalanan itu. Karena matahari di depan mereka, tidak akan pernah terjangkau. Tapi mereka menikmatinya sebagai kegiatan yang mengeluarkan energi, memacu adrenalin, karena mereka akan terus berlari sekuat tenaga sampai kehabisan napas... Sampai semuanya kelelahan dan permainan berakhir.

Ayo berlari di atas lintasan kehidupan ini. Dan kita benar-benar mengejar mentari itu. Walau tahu tidak akan pernah mencapainya, tapi matahari itu memang ada...

Karena aku menerjemahkannya dengan pikiran seorang remaja belasan tahun yang tengah labil.

Kehidupan ini adalah lintasan tanpa batas, kecuali akhir keberadaan dunia ini-kiamat. Dan matahari itu adalah kebahagiaan hakiki.

Kita terus harus berlari mengejarnya, walau mengerti bahwa kebahagiaan hakiki tidak akan kita dapatkan di atas lintasan ini. Suatu saat, sebelum lintasan habis kita lalui, kita akan kehabisan napas dan tenaga, terjatuh dan tak akan bangkit lagi.

Tapi kita memang harus terus berlari. Apakah ada yang bertanya mengapa? Karena mungkin terdengar aneh, kita harus berlari, di atas lintasan ini, walau mentari itu tak akan pernah tergapai...

Dan harus segera kukoreksi, 'mentari itu tak akan pernah tergapai... di atas lintasan ini'.

Tentu saja karena lintasan ini hanya arena yang menentukan seberapa keras kita berusaha, sekencang apa kita berlari. Dan, satu lagi yang fatal jika tidak diperhatikan, apakah benar jalur berlari kita?

Baiklah, ini memang jalanan lurus, tapi sebagaimana lintasan para pelari olimpiade, memiliki garis. Garis tempat mereka memacu stamina. Garis yang mungkin kita akan lalai sehingga melampauinya.

Dan, kuakui, sebuah pemaksaan analogi terhadap kehidupan.

Mari! Kita teruskan berlari!

Meneruskan kehidupan dengan semangat penuh. Merasakan angin yang menerpa wajah. Dengan petunjuk yang ada, sesuai jalur yang tersedia. Jalur yang jelas, pasti.

Bukan berlari dari masalah, tapi lari menerobos permasalahan yang ada! Terobos dengan menyelesaikannya!

Walau mungkin ini tak jelas, aku ingin berlari sekencang mungkin!