Kamis, 20 Agustus 2009

Hati-Hati



Udah jauh emang kasus bom dan terorisme, tapi masih banyak yang bisa dibicarakan tentangnya.

Bosan? Dalam beberapa bagian iya. Bagian yang emang sering diulang dan capek dengarnya.

Tapi ternyata ada bagian lain yang menyangkut ama ane dan orang-orang yang kira-kira dibilang sama kayak ane.

Coba antum baca artikel "Rajin Pengajian kok Sesat?" dari Muslim[dot]or[dot]id.

Dari yang sering didengar, yang jadi pelaku lapangan teror bom adalah orang yang suka ikut pengajian, rajin ibadah, sopan, semangat dalam kegiatan keagamaan dan sebagainya.

Kok bisa? Klo jawaban pertanyaan ntu, klik link di atas!

Yang gaswat sekarang adalah, ane yang gak segitunya udah dikasih peringatan dari Bapak!

Ane yang menurut kacamata Bapak ane sering ikut mentoring ama Kakak alumni ditakutkan bisa terjerumus hal-hal kayak gitu.

Na'udzubillahi min dzalik!

*****************************************************************************************


Ane dengan yang sekarang yakin insya Allah gak bakal terjerumus ama yang kayak gitu.

Tapi siapa bisa duga?

Yakin, sepertinya hampir tiap orang yang sering ikut pengajian atau aktif di organisasi keagamaan jika diberi peringatan seperti itu dia merasa kesal dan merasa pasti tidak akan terjerumus.

Kita tidak tahu bagaimana upaya pendekatan yang dilakukan oleh orang yang terlibat sebagai otak teror untuk mencari 'korban' yang mau mengorbankan dirinya untuk bom.

Mereka pasti sudah sangat lihai dalam hal tersebut. Untuk ane sendiri sekarang harus menyimpan rasa tidak percaya bahwa diri tidak akan terjerumus dan rasa aman darinya.

Semoga Allah menguatkan hati dan membimbing jalan kita semua.

Tapi ternyata selain menjadi orang yang beraksi di lapangan, kita juga harus hati-hati dengan konspirasi dituduhnya kita.

Dalam hal ini, kita bisa saja menjadi korban tapi dengan bentuk lain. Apakah itu korban bomnya langsung, korban tertipu pemikiran salah yang ditanamkan atau korban konspirasi yang membuat nama kita tersangkut dengan terorisme.